Monday, May 18, 2015

170000 IDR from your friend, Vicky Laurentina

Hi there,

Your friend Vicky Laurentina (vicky_laurentina@yahoo.com) wants to give you 170000 IDR off your first booking on HotelQuickly so you can enrich your life with last-minute, hassle-free travel. The app is so easy to use, you can book a room in just seconds.

Get the app now and use the invite code VLAUR6
www.hotelquickly.com

HotelQuickly saves travelers like you time and money by offering great deals on hand-picked 3 to 5 star hotels. On average, our prices are 28% lower than other websites in more than 120 destinations throughout 14 Asia-Pacific countries.


Terms and conditions:
You were not added to any mailing lists. The exclusive voucher is for new HotelQuickly users only. The HotelQuickly app is free and available on iOS, Android, and BlackBerry 10.

© 2014 HotelQuickly.com. All rights reserved.
Room D, 3/F, Chi Residence, 120 Connaught Road West, Sai Ying Pun, Hong Kong

Friday, May 8, 2015

Tips Menghindari Norak

Saya ini rada males cerita-cerita tentang harga barang-barang yang saya beli. Mulai dari yang sepele soal harga nasi ayam penyet di warungnya Mpok Siti, sampek harga tiket pesawat yang saya naikin. Karena saya males kalau sampai reaksi lawan bicaranya adalah ngomong, "Ih, mahal!"

Pernah suatu hari saya habis potong rambut di sebuah salon. Disapa emak-emak yang sudah tua, "Eh, baru potong rambut ya? Habis potong di mana?"

"XXXX," jawab saya kalem.

"Berapa potong di sana?"

"Cepek," jawab saya.

"Ih, mahal!"

Entah kenapa bawaan saya langsung sebel dengernya. Rasanya pengen ngejotos tuh emak-emak. Kesannya kayak dihakimin gitu, seolah-olah saya ini cewek yang tipe suka buang-buang duit cuman demi potong rambut. Duit duit gw, kok lu yang rese?

*Belakangan saya baru nyaho kalau si emak tukang nge-judge senengnya potong rambut di salon yang nggak mahal (menurut dia), dan..sorry dori mori, hasil potongnya juga nggak terlalu bagus (menurut saya).*

Ada lagi cerita lain. Saya dan my hunk bawa burger ke sebuah acara keluarga. Burgernya standar aja sih, isi patty, keju cheddar, dengan selipan sayur-sayuran salad, dan roti bun-nya dari gandum berlumuran kacang wijen. Entah bagaimana itu burger dikerubutin orang di acara itu. Beberapa orang mengambilnya, lalu..memakannya separuh dan meninggalkannya di atas meja. Alasannya adalah..sayang, burgernya mahal, sayang banget kalau dihabisin sekarang.

Mungkin karena saya orang yang sangat menghargai makanan ya, jadi menurut saya, burger itu paling enak ya dimakan dalam keadaan hangat dan utuh. Bukan dimakan dalam keadaan dingin dan tinggal separuh karena dieman-eman.

Tahu saya yang bawa burgernya, saya ditanyain, berapa harga burgernya?

Dalam hal ini saya selalu jawab, "Ngg..nggak tahu. Suamiku yang bayar."

Padahal saya tahu persis harganya, cuman saya males aja kalau direaksikan, "Ih, mahal!" Apalagi kalau yang bereaksi gitu adalah orang yang nggak pernah beli burger. Dan nggak pernah bikin burger juga. (Tahukah Anda kalau burger itu adalah makanan paling gampang yang bisa Anda bikin di rumah? Bahkan nggak perlu kompor untuk bikin itu. Jauh lebih gampang daripada nanak nasi.)

Akhir-akhir ini orang ribut ngomongin kurs rupiah dolar yang sudah mulai nggak karuan. Minggu ini, satu USD sudah menyamain Rp 13k. Orang-orang mulai mengomeli presiden, dan lain-lain. Sepertinya orang sudah mulai panik mendengar headline berita "Nilai rupiah melemah.." dan sebangsanya yang berbunyi seperti itu.

Saya bahkan bingung kenapa orang harus panik. Memangnya lu beli cabe di pasar pake dolar? Nggak kan? Apakah harga sampo di kamar mandi lu akan naik cuman gara-gara rupiah melemah? Nggak kan? Karena minggu ini Lazada ngobral Lenovo-nya dan server-nya nyaris jeblok lagi lantaran semua orang ribut kepingin beli. Negara ini lucu, separuh penduduknya ribut karena rupiah melemah terhadap dolar (katanya), tapi separuhnya lagi ribut kepingin gadget terbaru.

Mbok yaa..pantesnya ribut sama nilai rupiah itu kalau sehari-harinya memang berurusan dengan dolar. Contoh, tiap minggu harus naik pesawat ke luar negeri, dan tiketnya harus dibeli pake dolar. Atau, tiap minggu harus beli server, dan server-nya dibeli pake dolar. Lha ini sehari-harinya masih pake Pertamax Ron 88 aja kok ribut soal 1 dolar = Rp 13k sih?

Ini yang dengan semena-menanya saya bilang norak. Norak liat orang potong rambut Rp 100k di salon. Norak liat orang makan burger yang cuman isi keju dan bacon. Norak liat kurs dolar mencapai Rp 13k. Bah.

Tips supaya nggak norak (karena saya tidak kepingin cuman mencela tanpa memberi solusi):

- Berlanggananlah situs-situs e-commerce seperti LivingSocial, GroupOn, PricePony, dan sebangsanya. Lihat harga haircut rata-rata sekarang berapa. Dan hitung, dengan harga segitu akan dapet service apa aja. Pake cuci blow nggak? Pake pijet kepala nggak? Kapsternya pendiam classy atau berupa bencong bawel? Bandingin sama barber yang biasa Anda pakai. Tuh.

- Belilah makanan di restoran, lalu tirulah sendiri cara memasaknya di rumah. Beli bahannya sendiri, potong-potong bahannya sendiri, masak sendiri di dapur Anda. Hitung berapa mili liter minyak yang harus dipakai, hitung berapa banyak gas elpiji yang harus dinyalakan, hitung berapa waktu yang Anda habiskan mulai dari mikirin belanjanya sampai ngabisin makanannya. Sekarang bandingkan dengan harganya kalau beli di restoran. Lebih capek mana? Lebih murah mana?

- Buka website maskapai penerbangan, lihat harga tiket pesawat dari kota tempat Anda tinggal ke kota tempat sepupu Anda tinggal. Sudah? Sekarang buka website kereta api, lihat harga tiket keretanya. Sudah? Sekarang, hitung berapa kali dalam setahun ini Anda ketemu sama dia. Tiga kali setahun? Sekali setahun? Atau malah tiga tahun sekali? Kira-kira kalau jarang ketemu, apakah chatting dengannya via Whatsapp membuat kalian tetap lebih dekat? Nah, masih mau bilang pulsa internet sekarang mahal? Lebih mahal mana dibandingkan tiket pesawat?

- Belilah dolar. Nggak usah banyak-banyak. Cukup 3-4 lembar aja. Simpan di rumah. Besok-besok, lihat, harganya dolar lebih mahal lagi atau masih lebih mahal hari ini. Kalau ternyata lebih mahal, katakanlah, "Alhamdulillah, untung kemaren gw udah punya simpenan."
Tapi kalau ternyata lebih murah, katakanlah, "Alhamdulillah, ternyata dolar yang kemaren naik itu, hanya naik sementara."
Dan lihatlah grafiknya mata-mata uang lain di dunia ini selain rupiah: Yen, gulden, rubel, franc, peso, lira. Dan lihat negara mana aja yang kurs mata uangnya terhadap dolar lebih lemot daripada rupiah. Banyak!

Di dunia ini, yang ribut soal "mahal", cuman mereka yang lebih melihat "price" ketimbang "value".
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Thursday, May 7, 2015

Mengapa RS Sampai Tidak Laku Untuk Melahirkan

Masih nyambung dengan tulisan saya kemaren. Seorang dokter anak bekerja di rumah sakit di Surabaya, curhat ke koleganya. Isi keluhannya, kenapa ibu-ibu hamil jarang banget mau melahirkan di rumah sakit tempatnya bekerja. Padahal dokter-dokter di situ sudah pasang senyum ramah, susternya sudah dididik buat senyum kayak karyawan hotel, gedungnya juga bersih kayak hotel, kurang apa lagi sih? Kalau dari masalah biaya kayaknya nggak mungkin, sebab banyak rumah sakit yang semahal tempat ini, tapi ya masih laris aja. Tapi sepertinya kok rumah sakit ini dijauhi orang buat melahirkan.

Padahal kalau dijauhin terus, rumah sakit ini bisa kehilangan omzet dari pasar-pasar yang potensial. Yang kasihan tentu pegawai-pegawai yang kerja di situ, termasuk dokter-dokternya, nggak jadi dapet komisi dong?

Keluhan itu mengendap terus dan cuman jadi misteri Ilahi.

Sampek kemaren saya ke rumah sakit yang nggak laku ini (supaya enak bacanya, saya sebut aja rumah sakit X). Saya dateng karena sakit batuk seminggu belom sembuh-sembuh, saya udah cerita kan di blog beberapa hari yang lalu? Ini pertama kalinya saya dateng ke RS X. Dinilai dari kesan tempat, nampaknya ini rumah sakit yang cukup baik. Profesional, steril, ramah. Karena saya dateng dengan tujuan mau konsul ke spesialis THT, kebetulan saya dapet dokternya juga ciamik bener. Satu-satunya yang tidak saya sukai mungkin harga obat yang harus saya bayar, tapi dalam hal ini saya lebih menyalahkan pabrik obatnya kenapa pasang harga tinggi-tinggi amat.

Sudah tahu kan ya, saya lagi hamil 36 minggu? Saya iseng kepingin tahu apakah tempat ini cukup baik untuk jadi tempat saya melahirkan atau enggak. Maka saya tanya ke resepsionis.

Ibu hamil: "Permisi, saya mau tanya, di sini tarif persalinan berapa?"
Resepsionisnya dengan sigap langsung kasih brosur berisi tarif persalinan. Kalau melahirkan normal, tarifnya segini. Kalau melahirkan Cesar, tarifnya segitu. Semakin mewah jenis kamar yang dipilih, semakin tinggi juga biaya persalinannya. Jadi kalau mau melahirkan murah meriah ya, tidurnya di lapangan parkir, hihihi..

Ibu hamil: "Bayinya tidur di mana?"
Resepsionis: "Ngg..di kamar bayi, Bu."
Ibu hamil: "Lho, bayinya nggak tidur sama ibunya?"
Resepsionis: "Nggak, Bu. Di sini kami mengharapkan bayi yang baru lahir tidak akan tertular infeksi dari para pengunjung yang mengunjungi ibunya, jadi kami menempatkan bayi di ruangan khusus."
Ibu hamil (menahan ketawa di dalam hati) (berpikir, oh mungkin kamar inapnya saking kecilnya jadi kesempitan untuk bayi-bayi): "Mmh..kalau ibunya nginep di kamar VIP yang paling besar ini gimana? Bayinya boleh tidur sama ibunya?"
Resepsionis: "Oh nggak, Bu. Bayinya tetep tidur di kamar bayi."
Ibu hamil: "Baiklah, terima kasih!" (Lalu hengkang dan memutuskan tidak mau melahirkan di situ)

Nah, sekarang ngerti kan kenapa rumah sakit itu nggak laku buat jadi tempat melahirkan?

Saya ngomongin ini dengan kolega, ngetawain rumah sakitnya yang terlampau parno memisahkan ibu dengan bayinya. It happens in other hospitals, actually. Sementara kita berteriak-teriak minta rumah sakit supaya sayang ibu dan sayang bayi, ternyata pesan itu malah diterjemahkan dengan salah oleh rumah sakitnya.

Padahal, dokter kandungan dan dokter anak mendapat pemasukan banyak justru dari kasus-kasus persalinan. Kalau ibu hamil sudah empet duluan karena nggak boleh sekamar dengan bayinya nanti, gimana caranya mau membujuk dia bersalin di situ? Jangan-jangan nanti begitu lahir bayinya langsung diculik bidannya ke kamar bayi tanpa ditempelin ke dada ibunya dulu? Lebih parah lagi, jangan-jangan nanti di kamar bayi, bayinya diam-diam dicekokin susu kaleng supaya nggak nangis melulu? Oh no..

***

Overview:
Tentu saja tidak semua bayi yang baru lahir boleh langsung tidur bareng ibunya. Beberapa bayi kadang-kadang prematur, sakit, atau sesuatu dan lain hal, sehingga perlu diawasi ketat oleh perawat, jadi perlu masuk ruangan khusus yang tidak seruangan dengan ibunya.
Beberapa rumah sakit yang cukup mewah kadang-kadang membolehkan bayi tidur di inkubator dan inkubatornya boleh ditaruh di kamar ibunya. Tentu saja mereka akan menge-charge ekstra ibunya untuk itu, tapi harga itu sebanding untuk ibu-ibu yang ingin tidur dengan anaknya yang sakit.

Ada banyak sekali manfaat jika bayi boleh langsung tidur dengan ibunya. Jika bayi kepingin minum, ibu bisa langsung kasih ASI karena ia melihat sendiri bayinya kehausan. Bayangkan kalau bayinya tidur di kamar terpisah, bayi harus menunggu dirinya terlihat oleh bidan sedang menangis, baru bidannya gendong dirinya ke kamar ibunya. Dan belum tentu bidannya ngeh kalau dirinya nangis. Memangnya jumlah bayi di kamar bayi itu cuman satu?

Sebetulnya tidak ada yang perlu ditakutkan pada bayi yang dikunjungi pembesuk-pembesuk ibunya. Bayi yang lahir pas sembilan bulan kehamilan, tidak akan sampai kena polusi cuman gegara dibesuk. Paling-paling pipinya cuman merah gara-gara kebanyakan dicubitin pembesuk yang gemas. Lihat aja Princess Charlotte yang baru dilahirin Kate Middleton, baru 10 jam lahir sudah langsung keleleran di luar rumah sakit kan?
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Wednesday, May 6, 2015

Gumoh

Saya baru ngeh kosakata ini waktu ngunjungin kolega yang melahirkan sekitar empat tahun yang lalu.

Waktu itu pagi-pagi, saya dateng ke rumahnya membawa hadiah, dan bayi itu baru berumur sekitar delapan hari.
"Tunggu sebentar ya, Vick, aku mau nyusuin anakku dulu," kata kolega saya.
"Oke!" Saya langsung kepo. "Eh, Lex, aku boleh liat kamu nyusuin?"
"Boleeh!"

Saya kirain dia akan melakukan aksi aneh itu, mengangkat dasternya dan memperlihatkan asetnya yang segede buah semangka, lalu menyusuin anaknya. Saya, cewek yang waktu itu belom pernah tahu rasanya hamil apalagi melahirkan, sangat excited kalau lihat ibu menyusui karena itu proses yang belum pernah saya lihat.
Tapi temen saya malah ngeluarin..botol dot.

"Kamu nggak kasih ASI?" Saya kecewa.
"ASI-ku nggak keluar," sahutnya sedih. Lalu menyelipkan dot botolnya ke mulut si bayi. Dan si bayi pun mengenyot dengan tenang.

Bayi itu nggak lama ngedotnya, nggak sampai 15 menit. Ditunggu sebentar setelah dotnya diambil, lalu terjadilah peristiwa itu, tahu-tahu ada air putih meler keluar dari mulutnya.
"Ah ya, ayo sini, Nak!" Kolega saya langsung menggendong anaknya dan menepuk-nepuk punggung anak itu. Si anak terbatuk-batuk seperti keselek.

"Dia kenapa?" tanya saya cemas.
"Oh, itu namanya gumoh. Selalu gini kalau habis dikasih minum susu. Makanya habis diminumin, dia harus digendong, supaya minumannya yang kelebihan itu bisa dikeluarin," kata kolega saya.
Oh, kalau di fisika mungkin ini seperti prinsip bejana berhubungan, pikir saya mengerti. Menyeimbangkan posisi lambung supaya air di dalam bisa keluar melalui saluran yang ada.
Yang lucu, "Aku baru tau gini-ginian ini setelah melahirkan," kata kolega saya tersipu. "Pertama kali dia gumoh, aku panik. Sekarang sih sudah enggak."

***

Suatu hari seorang kawan cerita. Dia baru melahirkan pagi-pagi. Bayi itu dibawa ke kamarnya kira-kira sorenya, oleh seorang suster berseragam pink. Ceritanya kawan saya kepingin belajar nggendong bayi. Dan mungkin..berharap bisa belajar menyusui.

"ASI-ku belom keluar, tapi setidaknya aku kepingin belajar nggendong dia," kata kawan saya.

Maka digendonglah bayi itu olehnya. Saat dia mencoba mengayunkannya sedikit, terjadilah itu. Si bayi gumoh. Cairan kental warna putih mengalir dari mulutnya.

"Untung ada mamaku di situ, jadi mamaku langsung mengambil anakku dan nepuk-nepuk punggungnya," cerita kawan saya. Tapi saat itu kawan saya malah kebingungan. "Itu cairan putih keluar dari mana? Aku kan belom netekin dia, kan ASI-ku belom keluar. Siapa yang kasih dia susu??"

Gusar, kejadian itu diceritakan ke "kolega-kolega" lain sesama ibu hamil dan menyusuin. Akhirnya diperoleh informasi kalau di rumah bersalin tempatnya melahirkan itu, bayinya sering dicekokin susu kaleng di dalam kamar bayi.

Info itu membuat marah ibu-ibu muda dan rumah bersalin itu di-blacklist.
"Kalau memang kudu disusuin, ngapain dikasih susu kaleng sih? Bawa aja ke kamar emaknya biar dikasih ASI, gitu aja kok repot?" tukas mereka gusar.
"Mungkin mereka pikir, toh ASI emaknya belom keluar, ngapain juga dibawa ke kamar emaknya?" Argumen para pembela dokter-suster-pecinta-susu-formula.
"Omong kosong," kata para ibu muda. "Anak bayi yang baru berumur 24 jam itu, lambungnya baru berkapasitas 5 mililiter. Nggak dikasih susu apapun ya nggak pa-pa. Ngapain dikasih susu kaleng??"

Jemaah, jika Anda sulit membayangkan kapasitas 5 mililiter itu sebanyak apa, ambillah sebuah sendok teh. Yupz, 5 ml itu cuman segitu.

"Oh, kalian tidak mengerti! Di dunia ini ada yang butuh makan, butuh iPad baru, butuh liburan ke Singapore! Siapa lagi yang bisa kasih itu semua kalau bukan detailer susu formula? Perkara bayi baru lahir langsung gumoh setelah dikasih susu, itu kan derita bayinya!"

*langsung para wanita pengusaha distributor Apple dan pengusaha travel biro mengacungkan tangan*

***

Moral of the story:
Gumoh itu fenomena normal. Itu mekanisme spontan bayi untuk mengeluarkan minuman yang terlalu banyak jika lambungnya masih terlalu kecil. Seiring dengan semakin nambah umur si bayi, lambungnya juga makin luas, dan gumohnya akan hilang.

Gumoh terjadi karena si bayi baru minum, entah karena minumnya susu kaleng atau karena minumnya ASI.

Ibu-ibu yang melahirkan di masa kini, semakin rajinnya belajar parenting, semakin ogah kasih bayi-bayinya susu kaleng. Dokter anak yang kasih saran ASI lebih disukai daripada dokter anak yang kasih saran susu kaleng. Dan itu membuat para SPG susu kaleng terpaksa cari alternatif pekerjaan lain.

Rumah-rumah sakit yang melayani persalinan sebaiknya lebih waspada. Kalau mau kasih susu kaleng secara diam-diam ke bayi-bayi di kamar perinatologi, jangan sampai ketahuan orangtuanya. Mulut emak-emak yang baru melahirkan itu tajam-tajam, mereka bisa menyanyi ke ibu-ibu lain dan mengatakan bahwa "rumah sakit ini tidak sayang ibu apalagi sayang bayi".
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, May 5, 2015

Kau Bisa Baca Nggak?

Beberapa orang memang nggak senang membaca.

Sudah dibilangin, kalau mau komentar, tulis nama dulu. Supaya nyaman. Komentatornya nyaman, yang punya rumah juga nyaman.

Tapi tetep aja dateng-dateng ngoceh panjang-panjang sembari nggak nulis identitas.
Nggak bisa baca kah?

Segitu susahnya daftar ikutan Kelompok Belajar Paket C sampai baca instruksi simpel aja sulit?
Biar saya kasih tau Bang Anies nanti, mumpung dia lagi jadi menteri.

Eh, sebentar, Bang Anies itu menteri pendidikan dasar atau khusus ngurusin pendidikan tinggi?
*Saya juga nggak baca daftar menteri itu*
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Monday, May 4, 2015

Dokternya Menyerah Di Tangan Dokter

Saya selalu dimarahi kolega kalau habis pergi ke dokter.

"Kamu ngapain gitu aja ke dokter? Obatin sendiri!" Saya inget begitu kata kolega senior saya, sekitar beberapa tahun lalu, waktu saya minta ijin hengkang duluan dari acara main badminton bersama gara-gara saya kepingin ngejar prakteknya seorang spesialis THT.

"Saya sakit," jawab saya sambil ngelap idung saya yang meler. Sumpah, jorok banget.

"Kamu kan juga dokter!" Dos-q nuding saya.

Saya mendelik ke sang senior. Mau bilang, "Kita nggak boleh sombong, Bang!" tapi saya ogah menggurui.

Malam itu saya tetap pergi. Ke ahli THT yang sudah saya incar. Sampai di sana, bener aja, sang dokter netesin obat ke hidung saya dan mendadak pilek saya langsung surut bagaikan banjir yang mendadak berhenti.

"What have you given me?" Saya tidak bisa menahan mulut saya untuk tidak bertanya.

Sang dokter cuma nyengir dan memandang saya dengan tatapan penuh kebapakan. Caranya memandang seolah-olah mau bilang "Di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa kau atasi sendiri, Nak, dan kau perlu pertolongan orang lain untuk itu. Meskipun kau mungkin sebetulnya sudah cukup pintar."

Itu adalah saat-saat di mana saya merasa diingatkan Tuhan bahwa kemampuan kita kadang-kadang terbatas.

***

Hari ini saya ke dokter lagi. Keputusan yang saya bikin setelah sebelumnya maju mundur nggak cantik. Semua dimulai gegara saya mulai batuk seminggu yang lalu. Gara-gara saya kesusahan tidur akibat janin saya yang makin besar.

Tiga hari batuk-batuk, saya mengadu ke dokter kandungan. Si SpOG kasih obat pengencer dahak coz itu satu-satunya alternatif yang aman untuk janin. Dia suruh saya istirahat. Saya minum obatnya, tapi sepanjang long weekend saya habiskan dengan piknik Batu-Malang bareng-bareng keluarga yang dateng dari luar kota untuk merayakan liburan hari buruh.

Saya senang-senang, pulang-pulang bawa foto banyak-banyak. Tapi tentu saja saya kecapekan. Yang tadinya cuman batuk, sekarang jadi pilek. Pileknya menyumbat napas, bikin nggak bisa tidur. Tiap kali batuk, perut ini rasanya tertekan. Janin saya ikut tergencet, dan dia membebaskan dirinya sendiri dengan ngedempet kandung kencing saya. Akibatnya saban batuk, kandung kencing saya jadi terasa kram. Hwarakadah. Ganggu banget.

Pagi ini saya tepar di kursi pasiennya dokter THT. Mengeluh panjang pendek tentang batuk dan pilek. Dan tentang kepusingan saya bikin resep sendiri untuk diri saya sendiri lantaran semua obat flu itu kategori C semua, kategori berbahaya untuk janin. Si otorinolaringologis pun tersenyum, lalu ngetikin resep. Dan bilang saya punya alergi, mungkin alergi dingin atau debu. Dan itu mengingatkan saya karena gara-gara saya pergi sepanjang long weekend, sprei tempat tidur belom saya ganti. Dan hawa Malang-Batu emang dingin banget.

Dia kasih saya steroid. Ya, terserahlah, saya mbatin. Don't worry about it, toh janin saya sudah mateng. Dia mau kasih saya antiinflamasi juga. Dan mukolitik. Istirahatlah, dan minum air putih yang buanyak. Saya mengangguk lesu. I need sleeping.

***

Sebetulnya dokternya cuman mengulang apa yang sudah saya baca di buku kuliah dulu. Tapi saya sudah ngeh, kalau saya sendiri yang nulis resepnya, mungkin saya akan menyunat beberapa komposisi supaya jatuhnya lebih ngirit.

Dan saya nggak pernah ngerti kenapa dokter selalu mengirit-ngirit obat untuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah mengirit resep kalau resepnya untuk orang lain. Saya sendiri merasakan, jika saya lagi sayang sama pasien, kalau bisa semua obat yang bermanfaat akan saya tuliskan di resepnya supaya dia cepet sembuh. Tapi kalau saya sendiri yang sakit, saya malah nggak beli obat kalau nggak terpaksa banget. Selalu mikir, "Ah..makan buah kiwi aja yang banyak, nanti sembuh sendiri." "Ah..kalo gue bawa tidur, nanti juga sembuh." Nggak ada pemikiran seek-for-another-help. Tanda-tanda sombong (pada diri sendiri)?
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Monday, April 27, 2015

Mental Daerah Rumahan

Ini kisah nyata dari seorang kawan jemaah blog saya. Yang struggle untuk mencari nafkah, dan ironisnya perjuangannya dihambat oleh keluarganya sendiri. Atau mungkin oleh mentalnya sendiri.

Kawan saya laki-laki, mungkin umurnya sekitar 30 tahun. Bekerja jadi pegawai negeri sipil, di sebuah kantor dinas di sebuah kabupaten. Dos-q baru menikah, istrinya juga pegawai negeri sipil, bekerja di kantor yang lain di kabupaten itu. Pasangan muda ini punya seorang anak balita yang berumur kira-kira dua tahun.

Mungkin karena kinerjanya bagus, kantor tempat kawan saya ini dianggap berprestasi. Atasan dari kepala kantor ini menganggap lokasi kantornya nggak ideal lagi berada di kabupaten itu, karena kantor ini nggak cuman meladeni urusan sekabupaten itu, tapi bebannya sudah sampai tingkat propinsi. Jadi sang boss pun ambil keputusan, kantor ini mau ditutup dan dipindahkan ke ibukota propinsi. Termasuk pegawai-pegawainya, ya termasuk kawan saya juga, disuruh pindah sekalian ke ibukota.

Nggak tahunya, kawan saya mengerang keluh kesah. Karena istrinya juga mengeluh. Menurut dalih kawan saya, kalau dos-q disuruh pindah ke ibukota propinsi, dos-q harus ninggalin istrinya. Karena istrinya sudah betah bekerja di kabupaten itu, plus di kabupaten itu ada orang tua yang bisa dititipin anak mereka kalau istrinya sedang ngantor. Lha kalau istrinya ngikut kawan saya ke ibukota propinsi, istrinya mungkin harus ninggalin pekerjaannya yang sebagai PNS itu, biaya hidup akan meningkat coz mereka harus siap-siap cari rumah kontrakan, cari pengasuh anak, pokoknya jadi lebih mahal deh.

Saya nggak tahu mekanisme perempuan-perempuan yang kerja jadi PNS di Indonesia, apakah mereka boleh mempertahankan pekerjaan mereka untuk mengikuti tempat tinggal suami. Tapi saya akan melihat dari sudut pandang yang lain.

Kita sering lupa tujuan akhir dari hidup kita ini apa. Apakah untuk kesejahteraan keluarga, atau untuk kesejahteraan karier. Sering kita mencampuradukkan dua-duanya, sehingga kepentingan keluarga dan kepentingan karier seolah-olah jadi bertentangan. Padahal kalau dibikin supaya dua-duanya saling mendukung, kan lebih baik.

Bagaimana Istri Mendukung Suami
Ketika orang sudah memutuskan untuk berkeluarga, pasangan mestinya bikin komitmen. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk jadi sumber nafkah utama, mau suaminya atau mau istrinya. Kalau sudah sepakat suaminya mau jadi sumber tambang duit, istri ya harus konsekuen mendukung pekerjaan suami. Mau suaminya kudu dipindahin kerja ke kota mana kek, atau disuruh nyebrang laut kek, atau mau disuruh nambang di kutub utara pun, istri ya kudu rela. Kecuali kalau istri bisa memberi alternatif pekerjaan lain kepada suami.
(Dan itu memberi saya pertanyaan lain: Hari gini, ada nggak istri yang berani nyuruh suaminya berhenti jadi PNS hanya supaya dirinya nggak ditinggal kerja?)

Bagaimana Istri Mempertahankan Kariernya Sendiri
Perempuan boleh bekerja kantoran, tentu. Mau jadi pegawai kek, mau jadi direktur kek, mau jadi presiden pun nggak pa-pa. Bahkan dia mau tinggalkan anaknya di rumah untuk diasuh orang lain, itu hak dia. Tapi saat dia membuat keputusan untuk kerja kantoran ini, dia sebaiknya ingat bahwa ada banyak konsekuensi yang harus dia tanggung. Konsekuensi itu termasuk kudu long-distance-marriage dengan suami, kudu mempercayakan pendidikan anak di rumah kepada orang lain, dan sebagainya. Karena dia sudah memprioritaskan kariernya daripada memprioritaskan suami dan anaknya.

Prioritas Selalu Menciptakan Alternatif
Kalau sudah jelas prioritas kita yang mana, mestinya nggak perlu lagi galau ketika suami harus dipindahkan kerja. Istri yang lebih peduli untuk menyemangati suaminya, jelas akan ngikutin suaminya pindah, supaya ia bisa menyambut suaminya dengan pelukan hangat ketika suaminya pulang kerja ke rumah kontrakan mereka nan sempit. Meskipun istri mungkin sudah jadi kepala dinas di kabupaten tempat dirinya bekerja, tapi sang istri nggak akan segan-segan minta berhenti coz dia tahu dia lebih bahagia di samping suaminya daripada sukses jadi boss tapi pulang ke rumah sendirian.

Suami yang masih rela membiarkan istrinya membangun kariernya sendiri, nggak akan galau ninggalin istrinya ke kota lain. Sebab dia tahu bahwa kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaan dirinya juga. Dia dengan senang hati di kota baru akan cari usaha tambahan supaya bisa bayar bis pulang pergi dari ibukota propinsi ke kabupaten hanya untuk bersama istrinya minimal dua kali seminggu. Atau memaksa operator seluler buat perbaikin jaringan internet supaya dia bisa video call dengan istrinya setiap hari untuk membunuh rasa kangen.

Kalau menurut pepatah kakak saya Frans, "Suami dan istri itu harus tinggal bersama." Itu yang diucapkannya sewaktu saya bertanya kenapa ia memilih tinggal dengan bininya yang dokter gigi daripada melanjutkan kariernya berlayar dengan kapal pesiar.
Dan menurut para pengusaha yang sering saya dengerin ceramahnya di radio, "Kalau nggak mau disuruh-suruh orang lain (termasuk disuruh pindah kerja dan ninggalin keluarga di kampung), bikinlah usaha sendiri."

Dan itu memberi mindset baru supaya kita jangan terlalu bergantung kepada rejeki (dari) boss kita yang sekarang.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, April 21, 2015

Gawul Ciamik di Stasiun Kereta

Sering ribet sendiri mau beli maem apa kalau mau naik kereta? Well..nggak lagi-lagi deh, coz sekarang ada café yang cozy banget di stasiun. Yupz, bulan ini jadi istimewa coz di Stasiun Gubeng Surabaya ada café yang senyaman café bandara dengan setumpuk kuliner ciamik keren. Namanya Loko Café, dan nongkrong di sini betah banget. Eits..ati-ati bisa ketinggalan kereta nih, hahaha!
Fasad Loko Cafe di Stasiun Gubeng, Surabaya

Loko Café ini adalah gerai tenant kuliner yang ketiga bikinannya PT Reska, anak perusahaannya PT Kereta Api Indonesia. Sebelumnya PT Reska udah buka café di Stasiun Tugu Jogja dan café di Stasiun Poncol Semarang. Café di Tugu berkonsep restoran dine in, sama kayak café yang di Gubeng ini. Sedangkan café di Poncol berkonsep take away. "Di Poncol, orang datang ke café untuk beli minum, lalu langsung dibawa pergi. Di Surabaya ini, kami ingin orang datang ke café untuk makan (di tempat)," jelas Decil Christianto, manajer dari Consumer Business Directorate PT Reska kepada saya.

Selama ini Reska baru aktif menggarap katering untuk kantor-kantor daerah operasinya PT KAI dan katering untuk penumpang kereta. (Dan saya baru ngeh dari penjelasan Decil kalau ternyata nggak semua hidangan yang disajikan di kereta untuk penumpang itu produknya PT Reska.) Semenjak tahun 2014, Reska berusaha memperluas usahanya dengan merambah bisnis restoran lantaran makin hari usaha kuliner rumah makan ini makin menarik. Karena itu mereka mencoba menggarap cafe-cafe di Jogja, Semarang, dan pada akhirnya di Surabaya ini.
Pengunjung meneliti menu.
Perhatikan rel kereta di belakang cafe sebagai latar belakang.
Interior Loko Cafe yang bergaya ringan,
cocok untuk jadi tempat hang out
meskipun tidak naik kereta

Pasar yang diincar, tentu aja para calon penumpang dong. "Kami mengincar 80% customer kami adalah calon penumpang kereta," kata Decil. "Tapi kami juga ingin orang luar yang bukan mau naik kereta juga ikut makan di sini." Kebetulan banget Stasiun Gubeng membuka akses menuju Loko Café ini supaya bisa didatengin orang-orang luar, termasuk mereka yang memang nggak punya tiket kereta.

Friday, April 10, 2015

Berhadapan dengan Si Tunnel Vision

Orang nggak hamil: "Nanti melahirkan di mana?"
Saya: "Mungkin di Rumah Sakit P."
Orang nggak hamil: "Sama dokter siapa?"
Saya: "Nggak tau, gimana dokternya yang piket aja nanti pas saya dateng ke situ."
Orang nggak hamil: "Lho, emang selama ini periksanya sama siapa?"
Saya: "Oh, ganti-ganti. Kadang sama dokter K, kadang sama dokter L, kadang-kadang malah sama dokter M. Yaah tergantung pas saya dateng ke sana adanya siapa yang lagi praktek."
Orang nggak hamil: "Oh bukan sama dokter H*rt*n*?" (Sambil nyebut makhluk beruban paling kejam sekota yang nggak pernah njahit perut pasiennya sendiri setelah Cesar dan selalu nyuruh asistennya buat njahit.)
Saya: "Hahahaa..saya nggak mau sama orang itu!" (Sambil pasang gestur melambaikan tangan dan pasang ekspresi jijik.)
Terus orang nggak hamilnya langsung diem.

Ma'am, saya tahu kalau situ bisa hamil lagi, kamu ingin diberesin sama H*rt*n*. Tapi saya tidak kepingin disentuh sama dia, saya nggak peduli biarpun mungkin situ pikir dia dokter terbaik se-Indonesia.

Ini rahim saya, saya yang menentukan dengan siapa saya ingin mencari pertolongan medis, dan pendapat situ nggak ada nyantolnya sedikit pun di kepala saya. Eh, nyantol ding, setidaknya buat bahan ngeblog.

Belajarlah untuk tidak nyuruh orang lain berpikir seperti caramu berpikir.

Monday, April 6, 2015

Soal Naik-naik Berat Badan Ini

Sudah beberapa bulan terakhir saya terobsesi sama berat badan. Terutama berat badan janin saya. Gini nih repotnya jadi dokter, saya sampai hafal kalau usia janin sudah sekian minggu, berat badannya si janin mesti segini. Sementara kalau usianya sudah nambah lagi, berarti berat badannya si janin harusnya segitu.

Soal Bayi
Siyalnya saya nggak bisa mantau beratnya si janin saban hari, jadi saya cuman bisa mantau trend-nya sebulan sekali pas lagi periksa ke dokter kandungan. Saban kali USG, yang saya tanyain pertama kali pasti "Berapa berat dia sekarang?" (Dan saya nggak peduli sama sekali soal jenis kelamin.)
Kalau dokternya sudah sebut angka berapa ratus gram, saya selalu tanya apakah itu normal untuk usia kehamilan segitu. Kalau beratnya di bawah rentang normal, saya pasti deg-degan kebat-kebit. Tapi kalau beratnya di atas rentang normal, saya deg-degan juga coz takut sama fenomena giant baby. (Giant baby identik dengan keterlambatan perkembangan otak.)