Sunday, August 30, 2015

Tidur Sama Aku Aja

"Oeee..! Oeee..!"
Tuh kan, bayinya nangis lagi. Buru-burulah nyokapnya tergopoh-gopoh mendatangi si bayi dan menggendong bayinya. Segera dos-q buka dadanya dan nyodorin ke bayi. Tapi, lho..lho..kok si bayi malah membuang muka dan nangis makin keras? "Oeee..! Oeee..!"

***

Aneh ya, logikanya bayi laper itu kalau disodorin kelenjar susu nyokapnya ya langsung minum. Tapi ternyata ajaibnya bayi itu bisa ngambek, karena terlalu lama dicuekin waktu dos-q nangis. Sehingga pas minumnya dateng, dos-q malah nggak mau nyusu. Kalau gini pasti nyokapnya jadi bingung. Apa yang salah?

Jadi gini, bayi itu nggak sekonyong-konyong laper dan tiba-tiba nangis. Kita-kita yang dewasa pun kalau laper juga nggak mendadak dan tiba-tiba mengamuk toh? (Kecuali kalau lagi scroll timeline Path pada jam 11 malem dan mendadak nemu posting seorang temen yang pamer gambar indominya. Nah, itu bisa bikin mendadak laper)

Bayi itu kalau mulai laper dikit-dikit, mulut dos-q bakalan kecap-kecap. Ini karena dos-q memang kepingin ada sesuatu yang masuk ke mulutnya.

Lalu, dos-q masukin jari-jemarinya ke mulutnya. Karena dos-q berharap dari jari itu ada yang bisa dimakan.

Dan tentu saja tidak bisa kan? Karena memang jari itu nggak bisa dimakan. Dos-q mau protes karena lapernya nggak terakomodasi. Mulailah dos-q merengek-rengek sedikit ke nyokapnya.

Siyalnya, nyokapnya nggak ngeh isyarat rengekan itu. Dikiranya cuman rengekan biasa, karena bayi memang selalu merengek. Nyokapnya tetep asyik dengan kegiatannya sendiri, ya nyetrika popok lah, ya masak sop lah, atau sibuk baca blog. Maka rengekan bayi pun berkembang menjadi nangis. Semakin lelet nyokapnya dateng, semakin laper dirinya, lama-lama pun tangisan bayi jadi makin keras.

Bayangin kalau nyokapnya nggak dateng-dateng. Si bayi sudah be-te. Situ kira laper itu enak, apa?

Akibatnya, ketika nyokapnya beneran udah dateng, dan siap nyusuin, si bayi malah ngambek dan demo. Dos-q nggak mau nyusu, dan nangis makin keras. Tinggal si nyokap panik. Nih anak disusuin nggak mau, ngompol pun enggak, maunya apa sih?

Memang akhirnya bayi berhenti ngamuk dan mau nyusu (karena dos-q nggak tahan laper lama-lama). Tapi ya itu..nyusunya kayak onta nggak dikasih air setahun. Mulutnya mencakup pucuk kelenjar susunya dengan buru-buru, padahal posisinya belom pas. Karena dos-q ngeri nggak dapet minum lagi, dos-q gigit kelenjar nyokapnya keras-keras. Adooh..si nyokap kesakitan!

Belom lagi karena bayinya nyusu buru-buru, udara dari luar ikutan tertelan oleh si bayi. Lambung si bayi jadi overload, karena kebanyakan udara yang masuk plus ASI juga. Akibatnya si bayi muntah pas lagi nyusu. Hiyaa..drama lagi deh.

Coba kalau bayinya disusuin nggak nunggu nangis? Lebih enak kan?

Dulu saya pernah nulis di sini kenapa sebuah rumah sakit bisa nggak laris untuk jadi tempat buat download janin alias jadi tempat melahirkan. Saya bilang waktu itu, coz bayinya sesudah lahir nggak diinapkan bareng ibunya. Beberapa jemaah menyahut bahwa rumah-rumah sakit yang mereka pakai memang nggak punya kebijakan buat menginapkan bayi bersama ibunya.

Padahal, memang salah satu fungsi merawatkan bayi bersama ibunya itu (istilahnya rooming in) ya untuk mengajari ibunya mengenai tanda-tanda bayi yang laper. Mbok ya, kalau mau nyusuin bayi itu jangan nungguin bayinya nangis keras. Lebih baik nyusuin sudah dimulai semenjak bayinya menunjukkan tanda-tanda awal laper tadi. Selain proses menyusui lebih nyaman, si bayi minum lebih nikmat, juga menghindari acara drama akibat puting kegigit plus bayi muntah bonus episode puting lecet.

Percaya deh, bayi yang lahir sehat, jauh lebih bagus kalau langsung tidur sekamar dengan nyokapnya. Kalau memang kebijakan rumah sakit nggak memprogramkan demikian, para orang tua bisa berinisiatif minta kepada perawat untuk mengejar manfaat rooming in dengan menginapkan bayinya bersama ibunya. Tinggal ibunya aja yang mau apa enggak nih, ngomong sama bayinya, "Tidur sama aku aja yuuk..!"
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Saturday, August 29, 2015

Lomba Sold Out

"Sorry, Che, kuenya abis.."
Saya terperangah dan mendelik ke nonik yang punya stand itu. "Kok udah abis lagi? Ini kan baru hari pertama?"
Si nonik: "Iya, Che, tadi yang beli banyak banget.."
Saya: "Kapan restock lagi?"
Si nonik: "Besok ke sini aja lagi, Che. Jam 11."
Saya: "Huuh!" 
Saya langsung ngeloyor pergi. Tapi nggak bisa jalan cepet juga dari stand itu. Coz bazaar-nya penuh buanget kayak es dawet!

Friday, August 28, 2015

Sarung Tinju Bayi

Saya nggak bisa bedain kaos kaki dan sarung tangan bayi. Dua benda itu kelihatannya sama.

Orang yang pertama kali ngajarin saya tentang baby stuffs adalah pemilik toko Stars, sebuah baby shop di kawasan Dukuh Kupang di Surabaya. Di situ jugalah pertama kali saya belanja kebutuhan bayi (ya iyalah pemiliknya langsung ngajarin saya. Saya kan emak hamil newbie yang nggak ngerti apa yang harus dibeli). Di sana saya belajar kalau ternyata pabrik-pabrik baju bayi membuatkan kaos kaki yang satu stel dengan sarung tangannya juga biar matching.

Ketika Fidel pulang ke rumah dari rumah sakit, saya dan my hunk memasangkan sarung tangannya dan kaos kakinya dengan antusias. Maklum, anak pertama, dan kami baru pertama kali jadi orang tua. Masalah baru timbul ketika kami mencuci baju-bajunya dan menyetrikanya. Saya kebingungan, ini yang mana sarung tangan, yang mana kaos kaki. My hunk, yang matanya informatik banget, langsung bisa membedakan bahwa sarung tangan lebih bulet, sedangkan kaos kaki lebih gepeng. Saya, yang otaknya sudah njelimet, melihat bahwa benda-benda itu bulet semua.

Fidel lahir dengan berat yang cukup kecil untuk bayi seumurannya, sehingga praktis banyak sarung tangan dan kaos kakinya yang kegedean. Sarung tangan itu begitu gede di tangannya yang kecil, sehingga saya malah melihat itu sebagai sarung tinju, bukan sarung tangan. Saya julukin sarung tinju, karena tangannya selalu melambai-lambai meninju udara kalau dos-q laper minta nyusu.

Semula saya bingung kenapa bayi sebaiknya dipakaikan sarung tinju, eh, sarung tangan. Saya sendiri selalu mencopot sarung itu terutama kalau Fidel mau nyusu. Perhitungan saya, coz umur-umur baru lahir gini, penglihatan bayi masih rabun, padahal dos-q butuh mencari kelenjar susu nyokapnya. Bayi belajar melihat dengan meraba, jadi ia mengidentifikasi kelenjar susu nyokapnya dengan merabanya, maka memakai sarung tangan adalah omong kosong.

Suatu hari Fidel rewel dan mencakar leher my hunk. Ya ampun, kuku jarinya sudah mulai panjang. Saya dan my hunk pingin motongin kukunya, tapi nggak berani, coz jari dos-q kecil banget dan kita takut ngelukain dos-q. (Waktu itu kita belom ngeh kalau ada salon-salon tertentu yang bisa manicure pedicure bayi).

Terpaksalah Fidel saya pakaikan sarung tinju. Cuman saya copot sarungnya kalau dos-q lagi nyusu. Tapi agak repot juga kalau dos-q ketiduran abis nyusu, coz begitu saya coba pakaikan lagi sarungnya ke tangannya sing mungil itu, dos-q bangun dan nangis lagi.

Fidel sekarang berumur tiga bulan dan dos-q mulai punya kebiasaan baru yang cukup merepotkan saya: masukin tangan ke mulut. Adeuh..itu kalau ada kuman masuk ke mulut, gimana? Buru-buru saya tarik tangannya. Tentu saja teknik ini nggak berhasil, coz dos-q terus-menerus menggerogoti jarinya sendiri. Mau dinasehatin jelas nggak mungkin. Saya pakaikan sarung tinjunya, malah sarungnya dos-q makan sekalian. Sarung-sarung tinjunya sampek basah semua. He seems enjoying it!

Nggak selalu, ding. Dos-q baru berhenti kalau jarinya sudah masuk terlalu dalem, saking dalemnya sampai dos-q sendiri nyaris muntah.
(Kalau sudah gini, saya selalu menatapnya tajam dan bilang, "Nah, kan? Sudah Mama bilang jangan masukin jari ke mulut, jadinya pingin muntah, kan?)
Atau dos-q berhenti saban kali dos-q nyusu. Tapi begitu dos-q kekenyangan ASI, dos-q masukin lagi jarinya, seolah-olah jari itu hidangan penutup

Dan yang masuk itu bukan satu-dua jari, tapi lima-limanya. Ke dalam mulut sekecil itu!

Pusing, pelan-pelan saya buka website-website parenting. Ya ampun. Kenapa saya lupa kuliah psikiatri waktu jaman sekolah dulu? Sepertinya bayi saya masuk fase oral-nya mental development-nya Freud. Dos-q menggerogoti jari-jarinya karena dos-q sedang ingin mengeksplorasi lingkungan. Dos-q sebenarnya sedang mempelajari lingkungan setelah sebelumnya dos-q selalu asyik sendiri di dalam lingkungan rahim ibunya. Dan itu menjelaskan kenapa gerakan-gerakan dos-q itu adalah menggerogoti jari-jarinya, bukan mengemut jempolnya.

(Jika fase oralnya Freud ini gagal terlewati, bayi akan tumbuh jadi anak/dewasa yang nggak puas terhadap dirinya sendiri. Dalam jangka pendek ia akan melampiaskan ketidakpuasannya dengan cara mengemut jempolnya ketika bangun maupun tidur. Dalam jangka panjang, ia menjadi dewasa yang untuk memuaskan diri sendiri itu harus bergantung dengan cara-cara jelek, misalnya ngomong jorok atau malah menghina orang).

Jadi sekarang saya biarin aja Fidel makan tangan. Kalau dos-q mau, saya susuin aja. Saya udah siapin mainan buat dos-q gigit juga, cuman sekarang belum dos-q mainin karena tangannya belom bisa megang barang. Makanya sarung-sarung tinjunya pun saya masukin ke laci. Supaya dos-q belajar menggenggam juga.

Orang-orang yang nengokin Fidel dan gemes lihat Fidel makan tangannya sendiri, saya larang buat menarik tangan Fidel. "Tolong biarkan dia belajar. Nanti umur dua tahun dia berhenti sendiri," kata saya.

Tentu saja saya nggak kunci semua sarung tinjunya. Sarungnya masih saya pakaikan kalau dos-q lagi saya bawa keluar rumah. Saya nggak kuatir dos-q menyentuh apa-apa yang berkuman. Toh selama ini dos-q cuman berada di dalam gendongan saya, di dalam pelukan my hunk, atau tidur di stroller-nya.
Oh ya, saya belom memikirkan skenario kalau nanti Fidel sudah mulai bisa merangkak dan tangannya meraba-raba lantai. Saya pikir aja itu belakangan. Kalau dipikirin sekarang, kepala saya malah jadi pusing.

Dan setiap saat saya masih sering menggumam dalam hati, "Jadi kamu pikir punya anak itu gampang? Masih jauh lebih gampang pakai blazer, pergi ke kantor dan jadi wanita karier."

*ngetik di HP sambil ngeliatin deretan blazer di lemari*
*mikir kenapa nggak ada toko yang jual blazer untuk ibu menyusui*
*Apa gw bikin sendiri aja gitu, blazer untuk ibu menyusui?*
*tapi blazer sepertinya kurang matching dengan gendongan sling atau baby-wrap yang gw punya*
*aaah..pusing!*
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Monday, August 24, 2015

Lima Kali Ya Ampun

Bokap saya bingung kenapa tagihan kartu HP-nya selalu banyak padahal aktivitas online-nya dikit banget. Nggak kayak saya atau nyokap saya yang paling-paling budget pulsanya seret banget tapi bisa internetan ke sana kemari. Semula nyokap saya mencoba menolong, tapi kartu bokap saya itu Halo, sedangkan nyokap saya baru berpengalaman dengan kartu Simpati dan operator XL doang.

Saya komporin bokap saya buat konsul ke kantor Grapari Telkomsel aja, tapi bokap saya ogah option itu. Menurutnya orang-orang operator telpon seluler itu selalu bicara dengan istilah-istilah teknis yang sulit dimengerti oleh kami-kami yang cuma dokter ini. Nungguin adek saya buat jadi "penerjemah" juga nggak mungkin. Bagaimana pun adek saya sudah pergi dari rumah sekarang, jadi tinggallah bonyok saya cuman berdua di rumah dan terperangkap dalam kegaptekan mereka. Sementara itu, aktivitas internet bokap nyokap semakin meningkat, apalagi semenjak cucu pertama lahir. Dan pengeluaran untuk internet terus meningkat, seiring dengan berkembangnya sinyal 3,5 G di rumah.

Ketika bokap saya ketemu saya kemaren dan mengeluh soal tagihan yang terlalu banyak, saya suruh aja turunin standar paket internetan yang dos-q beli. Siyalnya bokap saya nggak ngerti dos-q pake paket apa. Saya tanya bokap saya abis berapa buat bayar pulsa HP tiap bulannya, jawabannya Rp 200k atau Rp 250k, gitu deh. Dos-q pake kartu Halo. Saya dengernya langsung keselek. Untuk ukuran seorang lansia gaptek, tagihan segitu kebanyakan.

Akhirnya saya ambil HP bokap saya, terus dengan nomer itu saya nelfon ke Customer Care Online-nya Telkomsel. Yang nerima mas-mas bernada suara bijak. Saya bilang kalau saya bicara atas nama bokap saya, bokap saya sudah lansia, dan saya mau tahu paket BB macam apa yang telah menagihi bokap saya Rp 200k tiap bulannya.

Si mas-mas Caroline ngecek tagihan bokap saya, terus bilang bokap saya selama ini pake paket Halo Fit untuk BBM-an. Yang saya tangkep dari penjelasannya, harga paketnya kira-kira Rp 125k. Ya ampun.

Nggak cuma itu. Bokap saya selama ini ternyata juga langganan paket Flash buat data internet. Ya ampun kedua.

Terus bokap saya juga langganan paket nelfonan senilai sekian rupiah. Ya ampun ketiga.

Terus ada juga langganan paket sms-an senilai sekian rupiah. Ya ampun keempat.

Dan ada paket-paket lain yang nggak saya catet saking saya pusing dengernya.

Setelah saya pulih dari kekagetan saya, saya tanya ada nggak paket yang paling murah buat kartu Halo. Si mas-mas Caroline jawab, paket Halo Fit itu udah paling murah buat BBM-an. Saya tanya lagi, kalau saya nggak pake kartu ini buat BBM-an, ada nggak paket yang lebih murah. Si mas-mas jawab, ada. Namanya Paket Bebas Abonemen, itu bayarnya cuman Rp 50k/bulan, belom termasuk nelfon dan sms. Harap diketahui, kalau nelfon ke operator non-Telkomsel itu, bayarnya Rp 83/detik. Osyit osyit osyit.

Saya bilang makasih ke si mas-mas, terus saya tutup telfonnya.

Nyokap saya yang sedari tadi duduk di sebelah saya nggak bisa menahan tawa gelaknya. Sepanjang saya telfonan sama si Caroline tadi, speaker HP-nya sengaja saya nyalain keras-keras supaya itu dialog bisa didengerin oleh bokap saya, nyokap saya, suami saya, dan anak saya.

Nyokap saya ngeledek bokap saya, bilang bokap saya ini tajir amat bisa langganan paket ini paket itu untuk sebatang HP yang cuman dipake nelfon dan sms-an. Saya nanya ke bokap sudah mulai kapan bokap saya langganan paket BBM-an yang harganya sampek Rp 125k. Bokap saya malah bingung coz nggak pernah merasa menyetujui beli paket semahal itu. Nah! Ya ampun kelima.

Lalu bokap saya bilang kalau bokap saya males pake BBM. Bokap saya lebih seneng Whatsapp. Coz sodara-sodaranya lebih aktif ngajak chatting pake Whatsapp ketimbang BBM. Kalau itu BBM dipake juga, nanti bokap saya pusing pindah-pindah aplikasi pada saat yang bersamaan. Haiyah.

Dan Whatsapp-nya nggak mau di handset Blackberry-nya. Whatsapp-nya udah dos-q aktifin di tabletnya yang segede tujuh inci. Bokap saya lebih seneng chatting pake tablet itu daripada pake handphone Blackberry yang layarnya cuman seupil. Dan tablet itu sekarang pake paket Flash-nya Simpati, yang budget pulsanya lebih gampang dikontrol. Cuman bokap saya nggak mau pake tablet itu buat nelfon, coz menurutnya menelfon dengan talenan segede tujuh inci adalah konyol.

Terus saya telfon lagi si mas-mas Caroline. Lalu saya suruh masnya setop itu semua paket di kartu Halo bokap saya. Ganti aja jadi paket Bebas Abonemen yang cuman Rp 50k itu, murah-meriah buat bokap saya yang lebih sering ditelfon ketimbang nelfon. Dan saya minta laporan tagihan kartu Halo dikirimin ke e-mail bokap saya supaya bokap saya bisa baca itu kartu dipakai buat apa aja.

Si mas-masnya memperingatkan saya bahwa kalau saya nyetop Halo Fit Khusus Blackberry-nya bokap saya ini, bokap saya nggak boleh balik lagi buat pake Halo Fit. Soalnya sekarang Telkomsel udah nggak melayani permintaan nomer telepon baru untuk menggunakan Halo Fit Khusus Blackberry. Yang masih dilayani itu Halo Fit Khusus Android.

Saya jawab, "I don't care." :D

Sepertinya Telkomsel juga udah nyaho bahwa era Blackberry sudah mulai tenggelam dan menggarap pasar Android jauh lebih potensial.

Ketika saya tutup telfonnya, bokap saya menggerutu, kenapa buat beresin paket-paketan gitu aja saya harus nelfon customer care-nya lama-lama.
Nyokap saya langsung menyanggah. Mendingan nelfon customer care online lama-lama dan langsung beres daripada meluangkan waktu untuk pergi ke kantor Grapari. Lagian kalau ke kantor itu juga bokap saya nggak bakalan bisa mengkomunikasikan ke mbak-mbak dan mas-mas di Grapari itu tentang apa yang kepingin diperbaiki. Urusan telfon seluler ini terlalu njelimet.

***

Sampai hari ini, saya masih berpendapat bahwa membayar pulsa dengan bayar di depan jauh lebih enak daripada bayar di belakang. Karena self-control-nya lebih baik.

Lansia kekinian nggak mau dikungkung usia dan mereka tetap kepingin bisa memaksimalkan potensi HP-nya. Meskipun penghasilan mereka dari pensiunan itu nggak seberapa. Anak-anaknya dong yang kudu bertindak supaya orang tua nggak sampai bangkrut hanya karena tidak bisa mengontrol apa yang tidak mereka pahami.

Sayang saya nggak nyatet nama mas-mas Caroline yang melayani saya itu. Bagaimanapun dos-q sudah memberikan penjelasan dengan lebih baik.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Saturday, August 22, 2015

Seiprit Doang

Anak saya ternyata bersihan.

Berulang kali dia bikin saya gondok.

Ya know, saya udah cerita kan sebelomnya kalau saya ini empet banget sama ruam popok. Maka kalau dia nangis dikit aja, yang saya cek pertama kali bukanlah dia laper atau haus, melainkan apakah dia pipis atau pup. Kalau dia pup, buru-buru saya ganti clodinya dengan yang baru.

Tapi, begitu dia pup lagi sedikit aja, Fidel langsung nangis. Saya semula mengira, kamu kok rajin banget pupnya, Nak? Belom setengah jam popok diganti, kok udah pup lagi? Ternyata begitu saya lihat isi popoknya, yaah emang dia pup sih, tapi yaa itu, pupnya cuman seiprit. Saya yang gondok. Yaah..clodi masih baru kok udah kudu diganti lagi sih?

Mana clodi yang dia punya itu rata-rata tipe yang pocket semua pula. Itu kan yang kalau bayinya pup, langsung pupnya langsung jatuh ke inner sehingga seluruh clodi kudu diganti.

Tadinya setan nongol di kepala saya. "Ayo laah..gak usah diganti dulu clodinya. Kan baru dikit ini pupnya. Ntar aja kalo pupnya udah banyak, baru diganti. Jadinya kamu ndak capek, Vic.." (Setannya pake logat Jawa)

Tapi terus malaikat nyamber, "Vickyyy..dasar pemalas! Mau anak kamu kena ruam popok kayak bayi-bayi di panti asuhan XXX yang di Sidoarjo yang fotonya berseliweran di FB itu??"

Kata setan: "Halah..diem lu malaikat gak usah banyak bacot!" (Sekarang setannya pake logat Betawi)

Kata malaikat: "Eh mingkem kowe setan!"

Terus saya jadi pusing tujuh keliling karena kedua makhluk itu berantem, jadi saya keplak aja dua awan berisi mereka itu (berasa kayak di komik-komik)

Dan akhirnya, saya menguap lebar-lebar mumpung nggak ada yang lihat. Lalu saya seret kaki saya yang pegel ini ke lemari pakaiannya Fidel, terus saya ambil clodi yang baru. Sambil saya ganti clodinya Fidel yang masih nangis-nangis, saya menggumam, "Ya Allah, males bener aku ini.."

Ajaibnya, begitu clodi lamanya yang udah basah itu saya angkat, Fidel langsung berhenti nangis. Dia ngeliatin saya, terus..senyum.

Lho, nangisnya ke mana?

"Hadeuh, Nak.." Saya garuk-garuk kepala. "Kamu nggak suka kalo bokongmu basah biarpun cuman basah sedikit ya?"

Selesai ganti clodinya, saya peluk dia dan bersyukur, ternyata anak saya bersihan.

Gitu aja terus. Tiap hari. Saking seringnya dia (nangis karena) pup (baru dikit), saya bisa ganti clodi dia sampai delapan kali sehari. Pegel laundry-nya? Emang.

Ya syukur deh. Kalau dia ogah becek gini, sepertinya kecil kemungkinan seumur hidupnya dia bakalan kena infeksi saluran kemih. Atau tinea pubis. Soalnya laki-laki jorok itu baru kerasa nistanya kalau udah punya istri. Kasihan kan Fidel nanti kalau udah married dan di malam pertamanya istrinya tertegun dan bilang, "Sayang, itu kamu ternyata panuan ya..?"
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Wednesday, August 12, 2015

Apotekernya ke Mana?

Suatu hari saya lagi ngantre di sebuah apotek untuk beli vitamin. Vitamin yang saya minta lagi diambilin di gudang apoteknya tatkala seorang emak berumur sebut aja sekitar 50-an dateng.

"Mbak, mau beli Sanaflu empat, Neozep empat, Decolgen empat," katanya.

Saya mengerutkan kening mendengarnya, kepo. Situ punya warung obat dan lagi kulakan ya?

Petugas apoteknya mencatet pesenan si emak. "Ada lagi, Bu?"
"Ndak, itu dulu," kata si emak. Tapi kemudian.. "Eh ya, mintak M Kapsul ya satu."
Petugas apoteknya manggut-manggut dan jalan ke gudang di balik kasir.

Di situ ada bapak-bapak yang juga lagi ngantre mau beli obat kayak saya, dan ternyata dia juga sama keponya dengan saya. Tapi dia lebih terang-terangan. "Belinya banyak bener ya, Bu? Padahal kan obatnya sama aja?" komentarnya usil . Sebetulnya ngomongnya nggak gitu, dia bertutur dalam bahasa Jawa.

Tau-tau si emak malah curhat. "Lha gimana, kayaknya musim flu ini. Anak saya cocoknya sama Sanaflu, kalo bapaknya cocoknya sama Neozep, kalo saya sih senengnya Decolgen."

Sanbe, Darya-Varia, Medifarma, saya nyebut pabrik dari masing-masing obat itu dalam hati. Kalo di rumah si emak itu ada anggota keluarga yang lain, saya taruhan si emak bakalan beli obat flu dari pabrik yang lain lagi. Tiap orang dapet obat dari satu pabrik.

Terus petugas apoteknya dateng dari gudang. Saya lirik aja bawaannya (serius deh, saya kepo banget). Bener aja. Empat strip Sanaflu, empat strip Neozep, empat strip Decolgen.

"Bu, M Kapsul-nya kosong."

"Owalaah.." si emak nampak kecewa. "Eh, kalo tetrasiklin ada? Kemaren itu aku cocok minum itu, pilekku langsung sembuh.."

"Ada, Bu. Tapi tinggal dua.."

"Ya udah, ndak papa. Aku ambil aja!"

Perut saya mules ndenger dialog nggak cerdas itu, tapi saya menggigit bibir saya rapet-rapet. Shut up, Ky. Nggak usah ikut campur urusan orang.

Akhirnya, obat saya nongol. Pas saya udah bayar, saya iseng nanya, "Bu Morgan ada?"

(Morgan bukan nama sesungguhnya.)

"Bu Morgan lagi cuti, Bu," jawab petugasnya.

Saya tersenyum kecut, lalu ngeloyor cabut. Apotekernya nggak ada. Dan ada tetrasiklin dua butir mengalir keluar dari apotek itu tanpa resep.

***

Obat itu seperti racun. Jika diminum dalam jumlah yang cukup, obat ini bisa mengakhiri penyakit. Tapi jika diminum melebihi jumlah yang seharusnya, penyakitnya malah semakin berat. Meskipun penyakitnya (katanya) cuma flu.

Tetrasiklin itu antibiotik. Diminum sedikitnya empat butir dalam sehari. Sekali minum harus diminum selama tiga hari. Bukan cuma diminum dua butir lalu berharap sakit pileknya sembuh.

Antibiotik yang diminum hari ini, hanya membunuh kuman sasarannya hari ini. Jika kuman itu kira-kira masih hadir di tubuh kita sewaktu kita jatuh sakit berikutnya, berarti antibiotik yang telah digunakan itu tidak manjur. Mengulangi antibiotik yang sama itu percuma.

Sakit pilek belum tentu butuh antibiotik. Sebagian besar penyebab pilek di Indonesia adalah virus. Virus tidak bisa dibunuh dengan antibiotik. Kenapa si emak membuang-buang duitnya untuk membeli antibiotik, padahal duitnya bisa dipake untuk beli sayur yang jelas jauh lebih berguna untuk mengobati pilek?

Tapi yang lebih penting lagi, ini apotekernya ke mana?

***

Saya nggak punya sahabat apoteker, jadi saya jarang memahami dilema pekerjaan mereka. Teman-teman saya yang orang farmasi, kebanyakan kerja jadi dosen, kerja di Kementerian Kesehatan, tapi nggak ada yang kerja patroli di apotek. Jadi saya bingung kenapa di apotek itu tercantum nama apotekernya besar-besar tapi orangnya nggak ada di tempat.

Saya kirain apoteker itu bekerja mencegah penggunaan obat yang irasional. Saya kirain mereka mengontrol supaya apotek mereka tidak ikut menjadi penyebab resistensi bakteri terhadap antibiotik. Saya kirain apoteker itu turut berusaha supaya penderita tidak sampai gagal ginjal akibat akumulasi residu obat. Atau setidaknya, saya kirain apoteker itu mengedukasi konsumen supaya mereka nggak memakai obat sembarangan.

Tapi sepertinya saya memang kurang pengetahuan tentang apa yang sesungguhnya mereka kerjakan.

Namun tentu saja saya mengerti, setiap pengusaha apotek butuh makan. Makanya, setiap butir obat yang dibeli oleh konsumen adalah rupiah buat para pemilik apotek. Iya kan? Iya kan?

Monday, August 10, 2015

Taruh HP-mu Sekarang

Saya lagi nulis draft untuk ngeblog di HP saya waktu saya baru menyadari kalau anak saya sedang memandangi saya. Dos-q nampak kepingin bilang sesuatu, tapi dos-q nunggu sampek saya selesai ngetik.

Saya: "Ada apa, Fidel?"
Fidel: ".. .."
Saya (mendekat, tapi belum naruh HP): "Kenapa? Fidel mau cerita apa?"
Fidel: "Aooh aooh.."
Saya (bingung): "Maksudnya?"
Fidel: "Aooh aah.." (Tangannya goyang-goyang, ikut menjelaskan maksud) "..aah eeh."
Saya (terdiam. Lalu naruh HP.): "Ooh. Mama juga kepengen." (Sok-sok ngerti bahasa bayi, padahal sumpah saya nggak ngerti apa yang dia pengenin.)
Fidel: ".. .." (Matanya tahu-tahu bersinar)
Saya nyengir. Dan tiba-tiba Fidel nyengir juga. Saya langsung lumer dan memeluknya.
Fidel langsung ketawa. "Ah!"

Bagaimana saya tega nerusin ngetik draft blog padahal anak saya kepengen ngobrol sama saya?

Masa-masa ketika dia baru berumur dua bulan dan baru bisa mengucapkan empat huruf vokal (Fidel belum bisa bilang huruf I) tapi bersikeras kepingin bicara, tidak akan terulang lagi.

Mungkin suatu hari nanti akan tiba saatnya dos-q lebih kepingin bicara sama orang lain daripada bicara sama ibunya. Jadi mumpung saat ini dos-q masih ingin guyon sama saya, saya ingin menikmati itu.

Saya jarang ngeblog sekarang bukan karena saya mati ide. Tapi semata-mata karena saya sedang punya prioritas lain.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Friday, August 7, 2015

Ngantre Sampai Mati

Nggak enaknya jadi pasien yang kudu berobat itu, mesti ngantre. Antreannya panjang amit-amit.

Seorang temen saya, penderita diabetes insipidus. Suatu hari dos-q curhat. Untuk berobat itu, dos-q kudu ngantre di rumah sakit dari jam lima pagi.

Saya bingung kenapa dos-q, sebut aja namanya Alexis, kudu ngantre sesubuh itu. Padahal poliklinik rumah sakitnya sendiri baru buka jam tujuh. Tapi Alexis nggak becanda, dos-q potretin ruang tunggu rumah sakitnya, terus dos-q upload fotonya di social media. Bener aja, jam lima itu ruang tunggunya sudah penuh sama pasien yang ngantre. Padahal lampu ruangannya sendiri belom nyala. Saya penasaran apakah di antara pasien-pasien ngantre itu ada yang bawa senter atau minimal lilin gitu? Jangan-jangan kalau ada yang nyempil nawarin jualan senter, kayaknya laku.

Alexis, akibat penyakitnya, harus nyuntik insulin tiap hari. Untuk dapet resep insulin itu, dos-q harus menghadap dokter setiap bulan. Ke dokternya itu kudu ngantre. Lalu karena Alexis berobat pake asuransi BPJS, antreannya panjang dan dos-q kudu bersaing dengan pasien-pasien lain untuk dapet antrean nomer awal.

Dos-q dateng jam lima subuh, dapet antrean nomer 4. Padahal dilayaninnya juga baru jam tujuh. Alexis nggak cerita apa kabar pasien yang baru dateng jam tujuh. Saya sendiri nggak nanya. Kesiyan.

***

Saya inget sepanjang saya hamil kemaren, saya hampir selalu pergi ke dokter kandungan dengan perasaan males. Dokternya praktek mulai jam sepuluh, tapi saya kudu dateng jam tujuh supaya dapet antrean nomer 4 atau 5. Itu karena saya kapok coz sebelumnya saya pernah baru dateng jam delapan, dan pas itu saya dapet antrean udah nomer 16.

(Jika ada yang nanya kenapa saya mau ngantre ke dokter padahal saya sesama sejawat, saya akan jawab dengan kalem. Saya sengaja milih cara prosedural, supaya jika terjadi hal-hal yang nggak enak pada diri saya, saya bisa nuntut provider yang bersangkutan.)

***

Saya kadang-kadang nebak-nebak apa yang terjadi bila saya dateng jam sepuluh aja. Toh pasti saya tetep dilayanin siang-siang. Setidaknya sepanjang pagi saya bisa habiskan untuk sarapan bersama my hunk tercinta dengan damai. Saya juga bertanya-tanya dalam hati gimana kalau Alexis ngantre aja siang-siang. Nggak urung toh dos-q bakalan tetap dilayanin siang jua. Supaya dos-q nggak usah bangun subuh-subuh hanya demi ngetag tempat duduk di ruang tunggu. Bisa-bisa di jalan kompleks rumahnya, dos-q malah papasan sama maling.

Tapi barangkali Alexis punya pikiran sama dengan saya. Kami sengaja datang awal untuk mengantre karena mengira dengan demikian kami akan merasa lebih "secure". Perasaan aman dalam diri sendiri.

Padahal gimana kalau di tengah-tengahnya lagi ngantre, tahu-tahu dia kena serangan jantung dan meninggal di tempat? Bisa-bisa dia masuk koran. Headline-nya sungguh nggak enak, "Seorang pasien meninggal akibat serangan jantung ketika sedang mengantre nomer di rumah sakit pada jam lima subuh."

***

Waktu melahirkan Fidel, saya udah putuskan untuk lebih cerdas. Nanti Fidel mau saya imunisasikan di dokter anak yang sepi aja. Supaya nggak ngantre. Toh semua dokter bayarnya sama aja. Saya pengen punya quality time lebih banyak, dan saya nggak mau habiskan waktu saya hanya untuk mengantre.

Tapi ternyata keadaan yang terjadi, lain dari perencanaan. Bokap saya minta saya untuk langganan imunisasi pada dokter anak yang merupakan sohibnya. Katanya, supaya sang sohib bisa back-up kalau-kalau saya lengah mengontrol kesehatan Fidel.

Sebenernya saya seneng-seneng aja di-back-up oleh sohib bokap saya, toh sang dokter juga udah saya anggep sebagai paman saya sendiri. Cuman ternyata sang dokter itu antreannya panjang beut. Saya udah dateng pas pintu pager tempat prakteknya baru buka jam enam, ternyata udah banyak pasien lain dateng lebih dulu dari saya. Pas saya ngobrol sama pasien lain, mereka bilang mereka udah dateng dari jam lima.

Saya ngeliatin para pengantre subuh itu dengan rasa kesiyan. Matanya masih ngantuk. Cuman pake celana pendek dan sendal jepit. Iya, saya tahu kaosnya bermerk dan sendalnya itu Crocs, tapi tetep aja bagi saya mereka seperti baru bangun tidur. Sementara saya, yah..saya selalu berusaha nampak seperti Audrey Hepburn. *ditoyor*

Saya yakin, seandainya portal rumah si dokter udah dibuka dari jam tiga pagi, maka pasien-pasien itu pasti akan dateng jam tiga pagi.

Saya ngerti kenapa orang-orang itu balapan dateng subuh. Mungkin hari itu mereka punya agenda lain. Sebagian besar orang masih bekerja jadi pegawai, dan mereka harus absen kedatangan jam delapan. Mereka nggak kayak saya dan my hunk yang ngejalanin bisnis dari rumah, bisa memulai kerja seenak udel kami.

Tapi saya nggak mau dateng lebih awal lagi. Standar saya dateng ke dokter paling pagi adalah jam enam, titik. Saya nggak kepengen hidup saya dihabiskan dengan olimpiade-memperoleh-nomor-antrean-lebih-awal. Karena saya nggak memperoleh benefit tambahan hanya dengan dateng ke dokter ketika matahari belum terbit. Apalagi jika tempat praktek sang dokter tidak mengandung kantin buat sarapan.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Wednesday, August 5, 2015

Berlindung dari Ruam Popok

Saya empet banget sama yang namanya ruam popok.

Saya kasihan banget sama bayi-bayi yang kena ruam popok. Bokong yang tergores-gores karena kulit yang masih terlalu tipis, dan mereka nggak bisa protes apapun selain nangis karena mereka memang belom bisa ngomong. Dan iritasi kulit bokong itu makin menjadi-jadi saban kali mereka pup. Adeeuuhh..kesiyan. Terus gimana, mosok mereka harus nggak pup dulu sampek ruamnya ilang?

Karena ngeri sama ruam popok, Fidel saya pakein popok kain. Saya jaraang banget pake popok sekali pake (pospak) yang merknya P*mp*rs itu, kecuali kalau lagi tidur di malem hari atau lagi jalan-jalan keluar rumah. Sekarang Fidel sudah mulai besar, bisa pake clodi, alhamdulillah. Dulu pas dia baru-baru lahir, clodi apapun masih kegedean di bokongnya, sehingga dos-q baru bisa pake popok kain segiempat doang. Saban hari praktis saya kudu gantiin popok kainnya saban dua jam. Gempor nyetrikanya, boo'!

Lantaran ngeri ini juga, saya pun selalu waspada saban kali Fidel buang air. Begitu dia nangis dikit-dikit aja, saya langsung ngernyit dan ngintip popoknya. Ada pup dikit aja, langsung saya ganti. Dan karena sekarang Fidel baru umur dua bulan, dos-q masih pup enam kali sehari, jadi ya lumayan sering clodinya saya ganti. Bayangin kalau saya milih pake pospak, bisa bangkrut duit saya kalau ganti pospak tiap empat jam.

Alhamdulillah, lantaran keparnoan ini, Fidel nggak kena ruam popok. Amit-amit deh jangan sampek. Temen saya ada yang anaknya kena ruam popok. Dos-q sampek ganti merk pospak gegara dos-q pikir anaknya nggak cocok sama merk pospak itu. Kebetulan juga emaknya rada males pake popok kain. Saya nggak nyalahin seleranya sih, karena saya ngerti clodi itu benda yang cukup tebal untuk dijemur dan rumah mereka rada defisit area jemuran.

Nyokap saya suruh saya olesin bokongnya Fidel pake krim bokong saban kali Fidel abis buang air. Semula saya lebih seneng pukpukin bokongnya pake bedak aja, coz lebih cepet daripada ngolesin krim. Tapi terus kakak saya denger-denger kalau rutinitas ngebubuhin bedak di kawasan selangkangan bisa bikin kanker, jadi saya berhenti pakein bedak. Selanjutnya saya pakein krim dong. Nah, suatu hari kami lagi jalan-jalan, dan Fidel kayaknya masuk angin lantaran kelamaan piknik seharian. Dia mencret, dan bekas mencretnya lengket di bokongnya yang licin karena pake krim. Euww..rese bangeet! Semenjak itu saya nggak pakein dia apapun kalau abis buang air. Saya bakalan gini terus sampek saya nemu bukti ilmiah bahwa bedak atau krim atau saos apapun memang berguna buat mencegah ruam popok.

Tadi sore my hunk jalan sama temennya. My hunk jemput temennya di rumahnya. Si temen bawa kantong kresek penuh popok bekas anaknya, dos-q bawa masuk mobil. Di tengah jalan, mereka lewat sebuah sungai. Si temen minta stop bentar, terus dos-q buang itu kantong kresek ke sungai yang ngalir.

My hunk bingung kenapa temennya buang sampah ke sungai. Ternyata kata temennya, dia disuruh mertuanya buang popok itu ke sungai, supaya popoknya jadi satu dengan air. Coba kalau dibuang ke tempat sampah, pasti popok-popok itu ujung-ujungnya dibakar orang, karena sampah kan diakhiri dengan dibakar. Nah, kalau popok bekas anaknya itu terbakar, nanti bokong anaknya itu kepanasan.. :p

Mertuanya itu orang Banjar.

Saya denger cerita itu dari my hunk, dan saya nyengir. Mungkin sang mertua sedang berusaha melindungi cucunya dari ruam popok.

Komentar saya, pasti sang temen itu sangat menyayangi mertuanya.. :p
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Thursday, July 30, 2015

Apron Menghindari Porn

Selamat hari menyusui!

Tanggal ini rupanya dirayain sebagai hari menyusui, dan kawan-kawan dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (sumpah, perhimpunan ini betul-betul ada, bukan LSM bikin-bikinan) bikin tema Hari Menyusui hari ini berupa Menyusui Sambil Bekerja. Mereka bikin macem-macem kampanye buat menyemangatin para mommies kantoran, supaya tetap nyusuin para bayi mereka biarpun mereka harus berkutetan di balik kubikel masing-masing. Saya bukan anggota resmi AIMI, biarpun saya juga seorang mommy dan saya juga netekin bayi, tapi boleh dong acara blogging saya hari ini ngoceh tentang tema yang sama.

Salah satu barang yang saya nggak boleh lupa bawa jika saya keluar rumah, sekarang adalah apron. Kalau Jemaah nggak ngerti, biarlah saya jelaskan bahwa apron ini adalah semacam kain penutup. Fungsinya nutupin payudara kalau-kalau anak saya mendadak minta nyusu, sedangkan saya nggak nemu ruangan tertutup untuk itu. Coba bayangin kalau saya lagi dugem di restoran, lalu tahu-tahu Fidel kepingin nyusu saat itu juga, sungguh nggak fleksibel kalau saya harus buru-buru pulang hanya demi nyusuin Fidel. Dan nggak mungkin saya menggedor pelayan restoran dan nanya, "Permisi, boleh saya pinjem kamar karyawannya? Saya mau nyusuin anak." Oh ya, saya nggak nyusuin anak di toilet. Jadi mari kita berterima kasih kepada teknologi bernama apron menyusui.