Sunday, October 5, 2014

Paduan Suara Mewek di Mesjid

Sepanjang sholat Id di mesjid hari ini, saya denger ada sedikitnya tiga anak nangis. Sebetulnya saya kepo pingin cari sumber tangisan, tetapi saya kan nggak bisa noleh-noleh lantaran saya juga lagi sholat Id. Kalau dari suaranya sih kayaknya yang nangis itu umurnya mungkin satu sampai tiga tahun, pokoknya sudah bukan bayi lagi.

Nangisnya kompak banget, sampai-sampai saya mikir mestinya mereka bikin paduan suara aja. Kalau direkam bisa jadi album, barangkali laku buat dijual di rumah-rumah duka cita.

Anehnya, begitu sholat Idnya selesai, tangisannya berhenti. Barangkali mereka berhenti nangis karena mengira emak mereka nggak nyuekin mereka lagi.

Seandainya saya dan janin ini sehat wal afiat, insya Allah tahun ini adalah tahun terakhir saya sholat Id sendirian (sebetulnya nggak sendirian, saya sholat bareng nyokap dan asisten).

Mungkin tahun depan saya terpaksa nggak sholat Id karena semestinya anak saya udah lahir dan saya lagi blingsatan nyusuin dua jam sekali. Sepertinya ide membawa buaian ke mesjid terlampau ribet. Dengan perkiraan saya baru bisa ngajarin dia supaya jangan rewel kalau saya lagi sholat pada waktu umurnya dua tahun, berarti paling cepet baru dua tahun lagi saya sholat Id.

Tapi kalau saya salah perkiraan dan saya terlalu optimis, berarti dia akan jadi anggota paduan suara mewek di mesjid. Yang baru berhenti nangis kalau saya berhenti sholat Id.

Saya selalu penasaran gimana cara ibu-ibu ngajarin balita-balita mereka ke mesjid. Bahkan saya juga penasaran bagaimana teman-teman saya ngajarin anak-anak mereka supaya nggak rewel waktu dibawa nyokap mereka ke kuil, ke gereja, ke pura. Bukankah tangisan bayi bisa mengganggu kekhusyukan ibadah?

Mungkin suatu hari nanti, ke si bayi, saya akan bilang, "Nak, jangan nangis ya kalau Mama lagi sholat. Mama cuman mau ngomong sama Tuhan sebentar, bukan nyuekin kamu. Nanti habis Mama sholat, kita main-main lagi ya, Nak.."
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Saturday, October 4, 2014

I Hate Anonim

Blogspot sangat menyenangkan untuk ngeblog, tapi kelemahan besarnya adalah nggak ada option untuk menjegal komentator anonim.

Anonim adalah fenomena untuk tampil di media tanpa menyebutkan jatidirinya. Tidak menyebut nama. Akibatnya pembacanya tidak tahu si anonim ini siapa. Efeknya, tidak bisa memperkirakan si anonim ini latarbelakangnya apa, apa yang menjadi background dari karya atau komentar si anonim.

Ada banyak alasan kenapa orang pilih jadi anonim. Contoh:
1. Takut tidak disukai kalau ia sebutkan nama aslinya. Ia bisa tidak disukai jika ia menuliskan ide yang kontra terhadap sesuatu.
2. Takut terancam image-nya. Misalnya jika seseorang adalah presiden yang terhormat, bagaimana citranya jika ia kedapatan ikut berkomentar di situs meme yang memuat foto cabe-cabean?
3. Malu karena takut ketahuan lemahnya. Misalnya pada tulisan-tulisan saya tentang pemerkosaan, saya sering banget dapet komentator yang mengaku korban pemerkosaan tapi nggak mau sebut nama aslinya. Mungkin takut kalo sampai pakai nama asli, maka ada yang mengenalinya dan bikin dia semakin terpuruk.

Kadang-kadang orang tidak sebut dirinya anonim, tapi pakai jati diri samaran. Karena dia ogah pakai identitas asli, lebih suka namanya dikira jati diri orang lain, tapi dia tetap ingin menyampaikan idenya.

Saya nggak pernah senang terhadap anonim. Buat saya, anonim itu pengecut. Meskipun saya ngerti bahwa alasan nomer 1, 2, dan 3 di atas itu manusiawi. Untuk alasan-alasan tersebut, saya sendiri masih lebih menghargai komentator yang pakai jati diri samaran.

Saya nggak menyangkal bahwa kadang-kadang isi idenya para anonim itu bagus-bagus. Sayang kalau idenya harus hilang cuman gara-gara dia nggak mau sebut nama. Tapi blog ini rumah saya, dan saya punya hak penuh atas rumah saya, termasuk memberlakukan prinsip saya yang tegas (dan kaku).

Anonim itu bukan sekedar menulis di kolom komentar sebagai anonim. Contoh anonim lainnya adalah bikin account Google tapi nggak ada fotonya, nggak sebut dirinya tinggal di mana, umurnya berapa, pengusaha atau kerja ikut orang, atau minimal dia suka makan biskuit merk apa. Pokoknya nggak bisa diperkirakan deh ini orang atau makhluk halus. Yang repot itu kalau account Google kosong ini ngirim komentar-komentar nggak sopan ke blog kita, wah kelakuannya ini udah mirip tuyul banget. Kalau nemu komentar nggak sopan plus komentator yang account-nya kayak gini, biasanya saya nggak baca lama-lama, langsung saya tekan "Mark as spam". Dan saya langsung lupakan. :D

Kalau gitu, repot juga ya kalau komentar di blog saya? Penulisnya nggak demokratis. :D

Saya memang masih belajar untuk menerima perbedaan pendapat. Sama seperti para anonim yang masih belajar untuk berani tampil sebagai dirinya sendiri.

Tips untuk para anonim yang kepingin komentar di blog saya:
1. Daripada capek-capek komentar di blog saya, mending Anda bikin blog sendiri terus menulis sesuka hati, sebagai anonim. Lalu lihat saja feedback orang lain terhadap tulisan Anda.

2. Kalau masih kepingin komentar di blog saya, bikinlah account Google yang niat gitu. Pasanglah foto siapapun yang kira-kira masih hidup. Tulislah pekerjaan fiktif di perusahaan yang sungguhan ada. Yang kira-kira bisa bikin saya percaya bahwa Anda manusia sungguhan yang punya sopan santun, bukan makhluk halus yang cuman asal nyamber. Jangan pasang foto Nike Ardilla, apalagi pasang foto Che Guevara. Mereka itu memang fotonya cakep-cakep, tapi dua orang itu sudah meninggal, tauk.

3. Dan cantumkan alamat email atau website yang bisa dihubungi. Supaya Anda bisa dikirimi feedback dan diajak diskusi dengan intelek, bukan cuman nyamber kayak anak alay baru belajar socmed-an. Lebih bagus lagi alamat rumah. Jadi minimal kalau didatengin polisi, orangnya ada sungguhan, gitu.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Thursday, October 2, 2014

Kontribusi Rakyat Dalam Menjegal Jokowi

Sepanjang hari portal berita ramai dengan headline berhasil menangnya Koalisi Merah Putih menjadi DPR. Ini jadi polemik karena presiden kita sebentar lagi adalah Jokowi, dan Koalisi Merah Putih adalah kumpulan anggota DPR yang berasal dari partai yang tidak kepingin Jokowi jadi presiden.

Salah satu akibat dari kemenangan koalisi ini adalah jatuhnya harga-harga saham di bursa saham nasional. Para pemodal rame-rame melepas saham karena ngeri dengan kemenangan koalisi ini. Lima tahun ke depan akan diisi pertarungan Jokowi versus DPR yang tidak mencintainya. Artinya kalau Jokowi kepingin bikin pembangunan yang menguntungkan rakyat, DPR akan bergerak menentang ide Jokowi. Maka pembangunan terhambat, termasuk pengusaha pun akan sulit bikin usaha-usaha baru untuk menampung pengangguran. Jadi daripada susah bikin usaha baru, mendingan sahamnya dilepas aja sekalian dan duitnya diprioritaskan untuk didepositokan, kira-kira begitu jalan pikiran para penanam modal.

Ide ini mungkin terlalu cupet. Tapi suka nggak suka, negeri ini memang penuh dengan orang-orang cupet. Kayak saya.

Sebetulnya saya bingung kenapa Koalisi Merah Putih harus bergerak jadi oposisi alias menentang pemerintah. Sepertinya berpikiran ngambek karena Prabowo usungan koalisi itu batal jadi presiden, sudah lewat musimnya. Buat jalan pikiran saya yang naif, kalau idenya lawan kita itu memang bagus, dan kita nggak punya ide yang lebih bagus dari dia, ya mbok didukung aja. Toh nggak urung juga yang untung sama-sama kita juga.

Dan saya sendiri bingung kenapa tweepsies di Twitter kudu sebal liat Koalisi Merah Putih itu jumlahnya lebih banyak daripada Koalisi Kurus. Memang jumlah manusia di Koalisi Merah Putih itu lebih banyak, karena partainya lebih banyak. Lha yang milih partainya supaya bisa masuk DPR itu kan rakyat juga? Jadi kalau sampai jumlah oposisi penjegal presiden itu banyak, ya itu akibat pilihan dari rakyat untuk milih anggota DPR itu.

Oh, lupakan bahwa "Dulu saya milih si Pak Kumis itu karena saya kirain dia bakalan mendukung presiden siapapun presidennya. Meneketehe kalau ternyata dia bakalan menjegal presiden."

Dan rasain kalian para golputers. Gini nih akibatnya kalau kalian nggak mau ikut mikir waktu pemilihan legislatif.

Sekarang rakyat cuman bisa nonton sisa pertandingan. Berharap presiden bisa bikin ide bagus untuk membangun negara supaya nguntungin rakyat, dan berharap DPR nggak akan bersikap selalu menolak. Jika Koalisi Merah Putih ngeyel berprinsip untuk tetap menjegal, memang paling bagus manusia anggotanya mikir, apakah keputusan partainya sesuai dengan keinginan rakyat. Karena rakyat bukan kepingin DPR yang selalu menjegal presiden, rakyat cuman kepingin semua orang bisa punya pekerjaan dan hidup nyaman tenang.

Pertandingan ini akan berjalan lima tahun. Dan pertandingan ini bahkan belom dimulai. Wuih, lamanya.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Delegasi Bernama Pembantu

Pembantu rumah tangga saat ini adalah tenaga kerja yang sulit dipisahkan dari keluarga-keluarga di perkotaan. Persoalan jadi pelik bagi sebagian keluarga ketika pembantu mereka pulang dan mereka sulit mencari pembantu pengganti.

Orang-orang yang sering ngobrol sama saya umumnya seumuran dengan saya. Mereka pasangan suami-istri yang mungkin baru punya anak kecil-kecil. Umumnya baru belajar punya rumah sendiri. Suami dan istri sama-sama kerja demi tuntutan ekonomi. Salah satu kesulitan yang sering mereka alami adalah sulit mengurus kerjaan rumah tangga tanpa pembantu. Penyebab paling sering dari kesulitan ini adalah karena mereka tidak punya cukup waktu untuk sekedar nyapu rumah mereka yang cuman seuprit itu.

Beberapa ibu rumah tangga kadang-kadang mencibir sinis kepada ibu-ibu kantoran karena ibu-ibu kantoran umumnya tergantung kepada pembantu. Ibu rumah tangga sering kali merasa lebih keren karena mereka bisa ngepel, masak, setrika, bahkan manjat genteng, sendiri, tanpa harus suruh-suruh orang lain (baca: pembantu). Sepertinya ada gengsi sendiri di kalangan wanita jika semua-semua bisa dikerjakan sendiri.

Saya, penganut setia azas do-it-yourself, selalu salut kepada ibu-ibu macam begini setinggi-tingginya. Tapi itu dulu.

Sampai kemudian saya ketemu ibu-ibu jenis lain. Kelompok yang ini umumnya sudah tua, minimal 60 tahun gitu deh. Mereka tinggal di rumah yang sudah mereka diamin sejak lama. Kadang-kadang anak-anak mereka masih bersama mereka, kadang-kadang mereka cuman hidup bareng suami aja karena anak-anak mereka sudah tinggal sendiri. Ciri khas dari jenis yang saya maksud ini adalah nggak punya pembantu. Dan keluhan utama mereka adalah mereka terlalu capek untuk mengurus rumah mereka sendirian. Padahal mereka memang nggak pernah punya pembantu karena sewaktu jadi ibu muda dulu, bisa ngurus rumah sendiri.

Kita mungkin akan gampang berdalih, sok-sok kasih bermacam-macam saran untuk para manula ini. Kalau udah tua, rumahnya nggak usah besar-besar, pindah aja ke rumah yang lebih kecil. Anak-anak harusnya tau diri, berbakti dengan cara bantu orang tua ngurus rumahnya orang tua. Minta tetangga carikan pembantu. Dan lain sebagainya. Seolah-olah kita mengkambinghitamkan problem ukuran rumah, anak yang durhaka, dan keterbatasan tenaga kerja.

Kita sering lupa bahwa kadang-kadang di lapangan rumah tangga, ternyata akar masalahnya bukan sesimpel itu. Manusia makin tua, akan makin sulit mengkordinasi pikirannya. Termasuk sulit mengatur waktu, salah satunya sulit mengatur waktu untuk ngurus rumahnya. Tanda sederhana bisa dilihat dari kesulitan mengurus kamar tidurnya sendiri. Coba ingat-ingat, pernah nggak Anda ngintip ke kamar Bude/Pakde Anda dan Anda melihat bahwa di atas lemari pakaiannya ternyata banyak tumpukan barang yang nggak terpakai?

Pernahkah Anda sebal kepada pasangan Anda karena menurut Anda pasangan itu terlalu jorok gegara dia sering taruh baju kotor atau handuk basah sembarangan? Sebetulnya mungkin dia tidak jorok, dia hanya sudah merasa cukup dengan kadar kebersihan yang ada. Dan kebetulan kadar kebersihan sang pasangan itu tidak setinggi kadar kebersihan Anda. Ini yang terjadi pada ibu-ibu tua yang sering mengeluh rumah mereka kotor dan merasa keluarganya malas bersihkan rumah. Persoalannya bukan keluarganya malas, hanya mungkin suami atau anak-anak mereka sudah merasa cukup bersih dengan mengepel rumah satu kali sebulan. Ada seseorang yang terlalu perfeksionis di sini.

Dan siapa bilang cari pembantu itu susah? Di daerah-daerah pedesaan banyak banget sebetulnya orang-orang yang fisiknya masih kuat meskipun cuman untuk ngepel rumah. Tapi masalahnya mereka belum dapet agen pembantu rumah tangga untuk menyalurkan mereka ke majikan-majikan yang membutuhkan. Atau mungkin calon majikannya aja yang terlalu pelit untuk membayari mereka dengan gaji sebesar UMR.

Di sini kita bisa melihat bahwa kesulitan cari pembantu umumnya justru disebabkan majikannya sendiri nggak punya sifat "acting like a boss". Majikannya sulit ngatur rumah karena dia sendiri juga nggak tahu persisnya bagaimana mengurus rumah (dia cuma mau tahu beres doang). Majikannya nggak percayaan sama pembantunya bahwa pembantunya akan membersihkan sesuai dengan selera kebersihan majikannya. Dan majikannya medit alias nggak mau berkorban modal buat menggaji pembantu.

Seorang ibu rumah tangga hendaknya bisa jadi boss, dan syarat utamanya adalah dia harus bisa mendelegasikan pekerjaan. Artinya mendelegasikan adalah dia harus bisa mempercayai pembantunya yang digajinya. Untuk bisa mempercayai pembantu, ia harus bisa mengajari pembantunya mengatur pekerjaan. Maknanya, ia sendiri harus bisa mengatur pekerjaan itu dengan tangannya sendiri.

Kemampuan mendelegasikan pekerjaan ini tidak akan terasa jika ibu-ibu rumah tangga ini masih muda-belia, karena di fase ini, tanpa pembantu pun ia masih bisa mengerjakan semuanya sendirian. Tetapi kemampuan mendelegasikan pekerjaan ini baru akan terasa tatkala sang ibu rumah tangga sudah lanjut usia, badannya sudah rontok semua, dan satu-satunya jalan solusi yang bisa ia harapkan untuk mengurus rumah adalah dengan bantuan orang lain.

Karena suatu hari nanti, kemampuan manusia pasti akan menurun. Dan yang bisa kita lakukan hanya mempercayakan pekerjaan kepada orang lain.

Ibu-ibu, ini bukan masalah Anda bisa mengurus rumah dengan pembantu atau tidak. Masalahnya adalah, bisakah Anda mempercayai orang lain?
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, September 30, 2014

Sejahtera Ketika Tua Nanti

Manusia tumbuh, bertambah usia, dan akhirnya menua. Ketika menjadi tua, kita kepingin hidup kita yang enak-enak saja. Bermain bareng cucu, bisa makan segudang, bebas main kartu Uno sama tetangga tiap malam Jumat, tanpa harus mikirin sakit-sakitan meskipun cuman sekedar encok. Alangkah indahnya hidup ini.

Persoalannya, kita jarang banget lihat orang tua seperti itu sekarang. Tengok deh nenek-kakek kita, atau tetangga-tetangga kita yang seumuran nenek-kakek kita. Apa kira-kira isu mereka kalau lagi ngobrol sama kita? Selain mengeluh sakit-sakitan, kesepian, ternyata keluhan tersering adalah masalah ekonomi. Kita sering melihat rumah-rumah yang dihuni orang pensiunan umumnya gelap, kadang-kadang kotor berdebu, baju mereka lusuh. Sebenarnya ciri khas pensiunan itu, orangnya sering ngirit. Mulai dari ngirit listrik, ngirit pel, sampai ngirit deterjen.

Alasan utama orang ngirit biasanya simpel: mereka takut besok-besok tidak bisa hidup seenak sekarang. Apalagi pensiunan yang jelas-jelas penghasilannya nggak sebanyak dahulu waktu masih bekerja. Mereka ngeri tahun depan mereka kehabisan uang, apalagi hidup di negara yang tiap presidennya hobi menaikkan harga BBM.

Semenjak dahulu, orang sudah diajarin turun-temurun untuk menghindari risiko kekurangan uang ketika pensiun ini dengan cara menabung. Orang tua kita mengajari kita untuk menabung di bank dalam bentuk deposito, dengan harapan tabungan kita akan bertambah karena mendapatkan bunga. Diharapkan jika kita rajin menyisihkan penghasilan kita untuk deposito, maka deposito itu akan bisa memenuhi kebutuhan kita pada masa pensiun kelak.

Namun di masa kini, deposito di bank tidak relevan lagi untuk jadi dana pensiun. Kenapa?

1) Sakit
Karena ternyata kadang-kadang dalam perjalanan hidup ada kejadian-kejadian tidak terduga yang membutuhkan uang banyak sehingga kita terpaksa mencairkan isi tabungan kita. Contohnya, kita menderita sakit parah yang menyebabkan harus dirawat di rumah sakit. Perawatan di ICU dan tindakan operasi termasuk hal-hal yang paling banyak mengeluarkan uang dari sekian pos untuk biaya kesehatan.
Sebagai ilustrasi, perawatan di ICU untuk rumah sakit pemerintah per harinya minimal Rp 1 juta, dan untuk merawat penyakit demam berdarah di ICU rata-rata butuh tiga hari.
Biaya operasi Cesar untuk melahirkan di rumah sakit pemerintah minimal Rp 5 juta, belum termasuk obat dan sewa kamar inapnya. Di Indonesia, dari sekian banyak persalinan yang terjadi, sekitar 30% harus dioperasi Cesar untuk menyelamatkan ibu atau bayinya karena kondisi fisik yang tidak bisa melahirkan normal.

2) Inflasi
Inflasi di Indonesia rata-rata adalah 10% setiap tahunnya, artinya harga barang umumnya naik 10% tiap tahun. Sebagai contoh, jika beras merk X 5 kg yang biasa kita nikmati harganya Rp 50.000, maka tahun depan harganya akan naik Rp 55.000. Konsep inflasi ini jadi penting karena bunga deposito di bank di Indonesia, saat ini rata-rata hanya 6-8%/tahun. Jadi sebanyak apapun kita menabung uang di deposito, tidak akan bisa memenuhi kebutuhan beras kita di masa depan karena kenaikan harga barang di negara kita adalah 10% per tahunnya.

SOLUSI ?
Kita tidak mungkin berharap kita tidak akan sampai harus dirawat di rumah sakit, karena kita juga tidak tahu rencana Tuhan untuk menguji kemampuan keuangan kita. Dan tidak mungkin melarikan diri ke negara yang kira-kira inflasinya lebih rendah, karena inflasi terjadi di semua negara, bahkan di negara yang perekonomiannya paling stabil sekali pun. Tapi ada jalan keluar yang bisa kita siapkan untuk menjaga agar keuangan kita di masa pensiun nanti agar gaya hidup kita tetap bisa seperti sekarang, yaitu dengan memiliki asuransi kesehatan dan investasi.

1) Asuransi kesehatan
Asuransi yang ideal mestinya menjaga agar kita tidak sampai jatuh ke keadaan harus dirawat di rumah sakit. Di Indonesia, ada empat penyakit yang paling sering membuat orang harus dirawat di rumah sakit, yaitu 1) Penyakit jantung, 2) Serangan stroke, 3) Sakit paru-paru, 4) Kecelakaan yang menyebabkan harus dioperasi. Penyakit nomor 4) mungkin adalah musibah yang tidak bisa dihindari. Akan tetapi penyakit nomor 1), 2), dan 3) adalah penyakit yang seharusnya gejala-gejalanya sudah bisa dirasakan sejak awal, sehingga penderitanya bisa diobati hanya dengan berobat jalan. Dengan hanya cover biaya berobat jalan menggunakan asuransi kesehatan, penderita tidak akan sampai jatuh ke tahap penyakit yang sudah parah sehingga sampai perlu membobol depositonya hanya untuk biaya ICU apalagi operasi.

2) Investasi
Pada dasarnya investasi adalah kegiatan menanamkan uang pada alat investasi untuk menghasilkan nilai uang yang lebih banyak. Ada banyak contoh alat untuk investasi, misalnya:

a) emas
Kita membeli emas batangan, lalu menjualnya kembali dengan harga yang lebih mahal. Kesulitan dari investasi emas ini adalah kita harus mencari toko mas mana yang mau membeli emas batangan milik kita dengan harga yang kita inginkan.

b) saham
Kita menanamkan modal di perusahaan seseorang dalam bentuk surat pernyataan kepemilikan saham, lalu mencairkan modal tersebut saat harga saham tersebut sudah lebih mahal. Kesulitan dari investasi saham ini adalah karena perusahaan yang kita modali ini tidak kita kelola sendiri, maka kita harus pandai memilih perusahaan mana yang kinerjanya baik sehingga kita percaya bahwa modal kita akan kembali dengan untung.

c) reksadana saham
Kita menyetorkan uang di sebuah perusahaan manajemen investasi, lalu perusahaan manajemen itu akan memutar uang kita untuk memodali banyak perusahaan. Ketika perusahaan-perusahaan yang dimodali sudah menghasilkan laba, laba akan diberikan kepada kita selaku penyetor uang. Kesulitan dari investasi reksadana ini adalah nilai reksadana yang bisa berkurang, terutama jika perekonomian negara goyah, sehingga nilai modal kita bisa berkurang pada saat kita ingin menjual reksadana tersebut.

d) perusahaan sendiri
Kita menyisihkan uang untuk membeli produk tertentu, lalu menjual produk tersebut dengan harga yang lebih mahal. Atau kita membuat produk sendiri, lalu menjualnya dengan harga yang lebih banyak daripada nilai produksinya. Kesulitan dari investasi ini adalah kita perlu punya kemampuan berwiraswasta yang harus dilatih dalam jangka waktu lama.

Investasi yang paling tinggi keuntungannya adalah properti. Baik itu dalam bentuk tanah, bangunan rumah, atau sekedar unit apartemen. Karena harga properti tidak pernah turun dan tingkat keuntungannya bahkan lebih tinggi daripada keuntungan saham.

Saat ini hanya 10 persen penduduk Indonesia yang punya asuransi dan investasi. Karena kesadaran rakyat di negara kita untuk memikirkan kesejahteraan masa pensiun masih kurang. Jika Anda ingin hidup senyaman sekarang di masa tua nanti, sebaiknya Anda mulai menyisihkan dana sedikit demi sedikit untuk membeli premi asuransi dan memilih investasi. Asuransi dan investasi ini tidaklah mahal, karena jika kita memikirkan manfaatnya, maka nilai manfaatnya di masa depan jauh lebih besar daripada harga yang harus kita bayarkan sekarang untuk memiliki asuransi dan investasi tersebut.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Friday, September 26, 2014

#ICITY2ndAnniversary Klub Penggemar Indosat

Lampu-lampu dipadamkan sehingga suasana nampak remang-remang temaram. Semua orang di ruangan itu megang cupcake yang sudah dihiasi lilin. Musik dari home band pun menggelegar dan MC mengomando semua orang untuk meniup lilin di cupcake masing-masing. Happy birthday, Icity!

Kiri-kanan: Saya, Okky Listiani, Angki, Eddy Fahmi
Meniup lilin di cupcake ulang tahun
Foto oleh Fahmi
26 September ini, Icity alias Indosat Community, merayakan ulang tahunnya yang kedua di Surabaya. Perayaan yang dihelat di Gedung Indosat Surabaya itu dihadiri blogger-blogger Surabaya sekaligus mengundang Duta-duta Indosat dan IM3 se-Jawa Timur. 

Fun fearless female!
Saya dan Wiwik
Acara ini, selain sebagai ajang kumpul-kumpul penggemar SIM card-nya grup Indosat Satelindo, juga memperkenalkan lima orang konsumen mereka yang paling loyal (yang mereka sebut Superuser) se-Indonesia dalam memakai jaringannya Indosat.

Thursday, September 25, 2014

Digondokin Test Pack

Komplen pasiennya pasien itu sama aja biarpun orangnya beda-beda. Bingung apakah mereka hamil atau enggak, coz mereka ngakunya telat mens. Biasanya untuk meredakan kebingungan, saya suruh test pack ulang. Kalo disuruh gitu, mereka selalu protes karena toh merk test pack yang mereka pakai itu sama. Mereka ke dokter berharap diperiksain yang lebih canggih, minimal pakai test pack yang lebih mahal. Saya sendiri heran, memangnya saya ini pengusaha supermarket alat test pack?

Sampai kemudian tiba saatnya saya telat mens. Mulailah saya masuk ke fase itu, fase galau antara bingung apakah saya hamil atau enggak. Saya nggak merasa siap jadi ibu, tapi saya menginginkannya. Sementara itu saya takut kalau alat test pack-nya kebetulan KW sehingga saya mengira saya hamil padahal sebetulnya enggak. Saya sudah kapok berulang-ulang liat muka pasien yang gondok setelah saya beri tahu mereka bahwa mereka sebenarnya mengidap blighted ova. Nggak ada satu pun cewek yang seneng diumumkan bahwa sebenarnya mereka bukan akan punya anak, karena alat test pack itu positif jika ada blighted ova-nya.

Wednesday, September 24, 2014

Sajian Makan yang Anggun

Kadang-kadang kita ditunjuk untuk jadi seksi penyelenggara acara makan-makan, misalnya oleh karena tugas mewakili kantor, atau karena tugas jadi giliran penyelenggara arisan RT, atau sekedar mengundang kawan-kawan makan di rumah. Cara kita menyajikan makanan sebetulnya akan mencerminkan kepribadian kita, apakah kita ini orangnya jenis yang menghormati tamu atau "asal-asalan aja, yang penting sudah ngajak orang makan".

Perkara menghidangkan makanan ke tamu ini sebetulnya tidak jauh-jauh dari bagaimana kita memikirkan perasaan tamu yang diundang makan oleh kita. Contohnya, sering kita denger tamu diundang makan dalam jamuan makan-makan di hotel, contohnya dalam resepsi pernikahan. Terus pulang-pulang kita nggak sengaja menguping di lapangan parkir, tamunya menggerutu, "Huh, makanannya nggak enak."

Well, enak nggak enak sebetulnya urusan selera lidah masing-masing. Tapi bisa jadi makanan nggak enak karena alasan lain. Mungkin karena suasana makannya nggak enak. Harus berdiri karena standing party. Atau karena ngambil makanannya rebutan. Sebagian besar makanan terasa nggak enak justru karena kesalahan tamunya sendiri, karena dia mencampur makanan satu dengan makanan lain yang cita rasanya nggak cocok.

Coba bayangkan kalau kita jadi tuan rumah yang bikin pesta dan ternyata tamu kita merasa makanannya nggak enak, gimana perasaan kita?
*Kalau saya sih catet nama tamunya yang ngomel-ngomel, lalu mutusin bahwa lain kali kalau saya bikin acara makan-makan lagi, dia tidak akan diundang, hahahaa..*

Sebaiknya kita ingat tujuan kita dari awal bahwa kita bikin acara makan-makan untuk menjalin hubungan baik. Entah itu hubungan kekeluargaan atau hubungan bisnis. Kita kepingin tamu itu senang dengan kita, jadi implikasinya, baiknya kita bikin acara jamuan ini yang menyenangkan tamu dan meminimalisir keluhan.

Masakan itu ada macam-macam rasanya, ada yang manis, asin, asam, malah di kawasan Asia dan Karibia, makanan itu ada yang gurih dan ada yang pedas. Semua rasa sebetulnya enak, dan bisa diapresiasi asalkan rasanya jangan dicampur-campur. Diapresiasi artinya dihargai cita rasanya, dan tidak selalu harus disukai. Contohnya kalau kita menikmati sebuah hidangan misalnya gurame saos telor asin, kita akan tetap bilang bahwa rasa asinnya enak, meskipun mungkin lidah kita lebih suka yang manis.

Jamuan makan yang anggun, biasanya mengatur tamunya untuk makan sebanyak tiga sesi. Sesi pertama adalah makanan pembuka atau appetizer. Sesi kedua adalah makanan utama atau main course. Sesi terakhir adalah hidangan penutup atau dessert. Tamu yang tahu tata krama makan, umumnya menikmati sesi-sesi ini secara berurutan, bukan membolak-balik sesinya apalagi mencampur semua sesi secara tidak karuan.

Sesi pertama, appetizer, ditujukan untuk membuka selera makan. Oleh karena itu makanan yang disajikan di sesi appetizer ini umumnya bercita rasa asin atau asam. Di Barat, contoh hidangan yang disajikan misalnya roti yang diolesin mentega, atau sop asparagus. Di Indonesia, misalnya karedok, atau pempek, atau risoles. Pokoknya bukan yang manis, karena gula-gulaan dalam makanan yang manis cenderung bikin orang merasa kenyang dan nggak berminat menikmati sesi makanan utama apalagi sesi makanan penutup.

Sesi kedua, main course, adalah cerminan utama citra tuan rumah. Di sesi kedua ini, tuan rumah bebas kasih hidangan apapun yang diunggulkannya ke tamu. Boleh yang asam manis, yang gurih, atau yang pedas sekalian. Segala macam lauk bisa diekspresikan di sini.

Sesi ketiga, dessert, ditujukan untuk bikin tamu merasa puas dan kenyang. Oleh karenanya di sesi ini diharuskan makanan yang disajikan adalah yang bercitarasa manis. Contohnya es krim, cendol, cheese cake, puding, cokelat batangan, dan hidangan-hidangan manis lainnya. Pokoknya bukan makanan yang bercitarasa gurih apalagi asin, yang mengharapkan lidah minta air atau yang manis-manis untuk menetralkannya.

Umumnya kesalahan kita dalam jamuan makan sebetulnya simpel.

Kesalahan 1) Main course disajikan campur baur.
Ini jamak terjadi pada tuan rumah yang menghidangkan bermacam-macam main course sekaligus di satu meja. Sayangnya makanan yang satu tidak nyambung rasanya dengan makanan yang lain. Misalnya fettucini carbonara disajikan satu meja dengan kakap asam manis dan brokoli cah kailan. Akibatnya tamu nggak menikmati enaknya fettucini karena lidahnya kebingungan merasakan saos carbonara dan kakap dengan kuah kailan sekaligus.

Solusi: Pisahkan hidangan-hidangan yang rasanya nggak nyambung ini dengan meja-meja yang berbeda. Sediakan piring beda-beda untuk tiap hidangan. Menyediakan satu piring per orang untuk banyak hidangan sekaligus hanya akan merangsang tamu untuk mengambil semua hidangan sekaligus. Apalagi tamu orang Indonesia yang sering ngeri kehabisan makanan karena keduluan orang lain.

Kesalahan 2) Appetizer dicampur dengan hidangan utama.
Ini sering terjadi pada tuan rumah yang nggak punya ruangan cukup untuk menggelar meja, saking sempitnya ruangannya. Akibatnya appetizer-nya disajikan di sebelah main course pada meja yang sama. Efeknya, tamu mengira appetizer itu juga main course, sehingga tamu mencampur appetizer-nya dengan main course sungguhan.
Sering banget tuan rumah memaksa menyajikan appetizer berupa sop asparagus dengan mangkoknya sendiri, di meja yang sama dengan main course-nya. Main course-nya sendiri minimal tiga macam, ada piringnya yang lebar. Tamu Indonesia sering banget ambil piring lebar, lalu menumpuk mangkok sopnya di pinggir piringnya, lalu memenuhi sisa piringnya dengan segala macam main course yang dihidangkan. Saking penuhnya piringnya, sampai-sampai mangkok sopnya yang sudah di ujung piring itu miring dan sopnya siap tumpah ke gurame asam manisnya!

Solusi: Pisahkan appetizer dan main course pada meja yang berbeda. Kalau ruangan tidak cukup luas untuk memuat satu meja besar dan satu meja kecil, hidangkan appetizer dan main course di meja yang sama, tapi dandani meja supaya seolah-olah appetizer dan main course itu terpisah.
Sebaiknya tamu makan appetizer-nya dulu. Jangan ambil main course sebelum appetizer-nya habis.

Kesalahan 3) Tamu mengomel karena kehabisan makanan lantaran keduluan orang lain.
Sering banget tamu mengeluh karena begitu tiba di meja rendang, ternyata daging rendangnya habis dan tinggal lengkuasnya doang.
Kalau menurut saya, ini salah tuan rumahnya karena nggak bisa memperhitungkan jumlah makanan dengan jumlah tamu yang datang. :D
Kemungkinan lain adalah salah tuan rumahnya karena mengundang satu-dua tamu yang rakus.

Kesalahan 4) Menumpuk berbagai makanan sekaligus sampai piringnya penuh.
Beberapa teman saya milih numpuk salad buah dan mie cap cay dan bistik ayam sekaligus di satu piring. Alasannya, kalau ngambilnya satu-satu, malu dilihat orang, takut dibilang rakus.

Solusi: Coba dipikir, orang macam apa yang saking selonya sampai sibuk menghafal (baca: nge-judge) satu-dua orang lain di pesta yang mondar-mandir mengambil makanan di meja prasmanan dan menyangkanya rakus? Makan ya makan aja, nggak usah ngeliatin orang lain laah..
Lagian menumpuk-numpuk makanan yang nggak nyambung di piring yang sama itu justru tindakan yang rakus. Keliatan kalau nggak pernah diundang makan, hihihi..

Kesalahan 5) Menghidangkan kepiting dan paha ayam di acara jamuan prasmanan.
Tamunya disuruh standing party. Udangnya harus dikupas pakai tangan. Paha ayamnya harus dikrokotin dari tulangnya.

Solusi: Ini cuman cocok kalau jamuannya barbeque-an atau hura-hura, pokoknya bukan yang anggun. Tapi jika ini acara yang mengharuskan tamunya pakai baju rapi, tidak pantas menghidangkan makanan yang untuk menikmatinya harus makan pakai tangan.

Kesalahan 6) Ketika sedang makan, daging steak-nya mencolot keluar waktu diiris pakai sendok. Atau saking kerasnya dagingnya, tamu harus mengiris dagingnya pakai giginya!

Solusi: Daging steak yang betul, dimakan dengan cara diiris pakai pisau dan dimasukkan ke mulut pakai garpu. Memang di Indonesia bukan kebiasaan makan pakai pisau, melainkan pakai sendok dan garpu. Jadi tugas chef adalah memasak daging steaknya sampai empuk supaya bisa dipretelin hanya dengan satu kali saja pakai sendok.
Kalau di acara jamuan kita nemu daging steak yang saking alotnya sampai harus diiris berulang-ulang, taruh saja masakannya di tempat naruh piring bekas. Berarti daging itu memang bukan untuk dimakan. :-D

Selamat makan :)
Jadilah tetap keren biarpun lagi makan :)
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, September 23, 2014

Password Wi-fi-nya Apa?

Apa yang bisa bikin sebuah kedai kopi di Indonesia jadi rame?

Jawabnya simpel, wi-fi-nya kenceng.

Orang masuk ke kedai kopi, mau itu kedainya mahal, atau kedainya murah, tetep yang ditanya bukan "di sini kopinya yang enak apa?"
Tapi tanyanya cuman, "Password wi-fi-nya apa?"

Saya sendiri malah kalau masuk ke sebuah kedai kopi, begitu sang waiter membagikan menu, saya cuman tanya, "Wi-fi-nya nyala?"

Kalo nggak nyala, saya langsung balikin menunya dan angkat kaki dari situ (dan kemungkinan besar nggak balik lagi).

Malah wi-fi nggak cuman ngetop di kedai kopi. Pergi ke bengkel, nungguin antrean dokter, di bandara, tetep yang jadi tolok ukur senang pada sebuah tempat adalah wi-fi-nya.

Saya malah kepikiran, kalau suatu hari nanti saya kepingin kuburan saya rame, saya mau pasang wi-fi di kuburan saya. Biarin deh orang mau nongkrong di kuburan saya cuman demi wi-fi-an, setidaknya kalau lagi nongkrong pun pasti mereka sempat baca nisan saya dan ngedoain saya. Ada yang mau nyobain ide ini duluan? :)
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Sunday, September 21, 2014

Homestay: Investasi Bernama Liburan

“Liburan sekolah nanti kau ke Ostrali ya. Tinggal sama orang di sana. Sendirian.”

Kalimat itu dilontarkan ayah saya pada waktu sekitar bulan April 1996, di meja makan ketika kami makan malam. Saya syok dan langsung ketakutan.

Umur saya 14 tahun waktu itu. Belum pernah naik pesawat sendirian. Apalagi menyasar-nyasarkan diri di negara yang nggak bisa berbahasa Inggris. Tapi ayah saya tetap kirim saya ke Sydney, melalui program homestay berdurasi sebulan yang diadakan Rotary Club.

Opera House adalah salah satu icon yang saya kunjungi ketika tinggal di Sydney.
Berupa gedung yang terdiri atas beberapa hall untuk memutar pertunjukan opera dan pertunjukan musik.
Sumber foto di sini.
Di program homestay itu, remaja-remaja Indonesia disebar di Sydney untuk menginap di rumah penduduk lokal pilihan. Masing-masing tinggal bersama keluarga warga negara Australia, diperlakukan seperti anak sendiri oleh keluarga-keluarga itu, dan sehari-harinya bersekolah di sekolah setempat. Karena bahasa sehari-hari Australia adalah bahasa Inggris, jadi kami dipaksa ngomong bahasa Inggris dengan keluarga angkat kami, dengan guru dan teman-teman di sekolah (selama di sana saya bersekolah di Heathcote High School di kawasan Wollongong), dan juga dalam berbagai kesempatan casual seperti ketika kami naik bis, jalan-jalan ke mall, atau sekedar beli majalah di warung.

Saya sendiri beruntung mendapatkan keluarga Lewis yang sangat ramah, dengan pasangan suami-istri Philip dan Lewis yang senang bercanda satu sama lain bersama ketiga anak-anak mereka, Katie (15), Melissa (12), dan Benjamin (11). Saya tinggal bersama mereka di sebuah rumah di kawasan Engadine. Mereka tahu bahasa Inggris saya pas-pasan, tetapi mereka tidak keberatan mengoreksi. Vocabulary saya dulu parah banget, tapi banyak mengobrol dengan mereka sehari-hari membuat kosa kata saya berkembang banyak.