![]() |
| The birthday girl |
![]() |
| I'm 30 and greedy! |
Jadi, apa yang baru hari ini?
![]() |
| The birthday girl |
![]() |
| I'm 30 and greedy! |
Lalu saya jawab ke mahasiswa-mahasiswa pirang itu, keadaan saya nggak fit soalnya kemaren malemnya saya habis jaga rumah sakit. Dan saya jaga itu, nyambung langsung dari dinas paginya. Kalau diitung bahwa saya mulai dinas pagi secara sah itu jam 7 sampek jam 3 sore, lalu saya jaga jam 3 sore sampek jam 7 pagi besoknya, lalu saya sambung dinas lagi besoknya dari jam 7 pagi sampek jam 3 sore, bisa diitung bahwa total durasi saya dinas itu 32 jam.
Terus, karena namanya kan dinas, berarti kan nggak tidur. Jadi total nggak tidur itu 32 jam.
Si mahasiswa Groningen itu terbengong-bengong kenapa kita nggak tidur selama itu. Di negara asalnya, nggak cuman dokter, setiap pegawai dilarang bekerja lebih dari durasi tertentu. Saya lupa durasinya berapa, yang pasti nggak ada ceritanya pegawai bekerja sampek 24 jam. Apalagi yang kerja nggak tidur sampek 32 jam seperti dokter di Indonesia.
Yang seperti ini bukan hanya terjadi pada saya, tapi sudah terjadi turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun. Saya sering ditanya profesor saya, "Kamu jaga berapa kali seminggu?" Saya jawab 1-2 kali seminggu.
Lalu profesor saya mengerutkan kening. "Di level kamu dulu, saya dulu jaga lima hari seminggu.."
Jadi, saya nggak pernah ngeluh kurang tidur pada guru saya. Soalnya saya tahu mereka sudah begadang lebih banyak dari saya.
Dalam diskusi saya dengan seorang teman yang biasa bekerja untuk perusahaan multinasional, teman saya bertanya-tanya kenapa dokter di rumah sakit segede-gede gaban kudu bekerja nonstop seperti itu, padahal jumlah sumber daya manusia kan banyak. Memangnya dokternya cuman dikit yah sampek harus kerja bakti gitu?
Saya jawab, jumlah orang yang bisa jadi dokter itu banyak. Tapi rumah sakit pemerintah tidak sanggup mempekerjakan dokter sebanyak itu. Kalau mereka cuman punya anggaran sejumlah X untuk mempekerjakan dokter sejumlah Y padahal yang seharusnya jumlah dokter yang mereka pekerjakan menurut standar internasional adalah 2Y, maka mereka akan tetap pekerjakan dokter sejumlah Y saja. Sebodo amat dengan standar internasional.
Saya tidak pernah mikirin urusan gaji, tentu saja. Tapi saya lebih peduli tentang kesejahteraan dokter, karena kesejahteraan dokter sangat berbanding lurus dengan kesejahteraan pasien. Bisa dibayangkan kalau dokternya capek karena nggak tidur 32 jam, kemampuannya menangani pasien dengan aman dan tepat bisa diragukan. Siapa yang bisa mikir enak kalau sel otaknya kelelahan?
Dan saya juga nggak tertarik dengan pameo bahwa "pendahulumu bekerja lebih keras daripadamu, padahal beban mereka jaman dulu jauh lebih berat daripada bebanmu jaman sekarang". Menurut saya, selalu ada harga yang harus dibayar. Kerja yang tidak seimbang membuatmu stress, stress itu mempengaruhi kualitas hidupmu sebagai manusia. Pernahkah kamu tanya pada istri/suamimu, apakah mereka bahagia melihatmu pulang larut malam setiap hari? Pernahkah kamu datang ke sekolah anakmu untuk mengambil raport tanpa pikiranmu bercabang ke pasien di kantor yang mungkin menungguimu untuk dioperasi? Pernahkah kamu bercita-cita jadi pembuat kebijakan, yang kira-kira bisa mengatur supaya setiap dokter bisa membagi beban pasiennya ke dokter lain secara rasional, supaya dirinya sendiri punya waktu luang untuk beristirahat, mengabdi kepada keluarga, dan menjadi manusia yang seimbang antara sebagai individu dan sebagai makhluk sosial?
Di Indonesia, semua dokter yang sedang bersekolah tidak diatur untuk mendapat jatah libur setiap kali mereka telah menunaikan tugas jaga mereka malam sebelumnya. Karena, bagi dokter yang bersekolah, setiap hari adalah kesempatan untuk mendapatkan kasus pasien untuk dipelajari, dan kasus yang sama belum tentu akan meraka dapatkan lain kali. Jadi, jika mengambil libur, mungkin dokter itu kehilangan kesempatan menghadapi kasus yang langka.
Pada kesempatan lain, kita juga sering menemukan dokter-dokter spesialis tertentu mengalami kekacauan emosional lantaran kesulitan berbagi pekerjaan. Di sebuah ibukota kabupaten di Jawa, jumlah spesialis anestesinya hanya dua orang karena bupati setempat hanya mampu menggaji spesialis anestesi dua orang saja. Dampaknya, operasi yang bisa dilaksanakan dengan optimal pada waktu bersamaan di kota itu hanya dua operasi saja. Bisa dibayangkan jika ada lima orang sakit parah dan harus dioperasi pada waktu yang sama, tiga orang pasien terpaksa mengalah untuk dua orang lainnya karena ahli anestesinya memang cuman dua. Jika salah satu dokter ingin libur, entah itu karena ingin beristirahat atau karena mau ikut seminar, maka dokter satunya harus kerja bakti meladeni semua beban tugas. Keinginan untuk punya tambahan dokter ahli anestesi ketiga untuk berbagi pekerjaan belum tentu terwujudkan, apalagi kalau pemerintah lokalnya cuma sibuk memikirkan kekuasaan dan tidak mau repot-repot memikirkan apakah bawahannya cukup tidur atau tidak.
Dokter juga perlu dibela hak asasinya. Dan salah satu hak asasi dokter itu, adalah menjaga kesehatan. Dan upaya menjaga kesehatan itu dimulai dengan tidur yang cukup.
Ada banyak kontradiksi yang harus dihadapi dokter. Mendapatkan ilmu, tapi kehilangan waktu pribadi. Mendapatkan kehormatan, tapi terasingkan. Mendapatkan prestise, tapi terpaksa berkorban perasaan.
Dan ini saya, berkisah tentang hidup yang saya jalani sekarang.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Kini, ada hal-hal lain yang jadi topik favorit saya dan my hunk selain makan dan jalan-jalan. Salah satunya adalah: properti tempat tinggal. Karena kami berencana menikah tahun depan, dan my hunk nggak kepingin kami menumpang rumah orang tua lama-lama, maka kami mulai melirak-lirik iklan properti. Sayangnya menemukan rumah yang pas nggak semudah mencari restoran bebek goreng, karena ternyata harga rumah yang kami sukai nggak sepadan dengan isi kantong kami yang memang kempes.
Lalu, tersebutlah kami nemu properti yang nampaknya enak buat ditongkrongin di kawasan Surabaya Timur. Lahannya nggak terlalu luas, tapi cocoklah buat kami berdua yang tipe "pekerja yang kerja kayak orang gila, pulang ke rumah cuman buat tidur". My hunk suka harganya, tapi saya enggak, soalnya masalah sepele: Tempatnya nggak dilaluin bemo, dan saya belum nemu pangkalan becak atau ojek sekitar situ.
Sebagai bandingan, saya nemu properti lain di deket situ, yang nggak terlalu jauh dari jalan raya yang dilewatin bemo. Dibandingin proposalnya my hunk, yang saya sukain ini selisihnya lebih mahal Rp 40 jutaan. My hunk nggak suka lantaran cost-nya lebih mahal, belum lagi selisih service charge bulanannya yang juga cukup signifikan sekitar 1,5 kali lipat. Jadi jelas, ini masalah khas antara (calon) suami dan istri, saat yang cowok lebih pusing oleh biaya, sementara yang cewek lebih mentingin fungsi.
Saya yakin yang pusing kayak gini nggak cuman kami. Ada banyak orang di kota ini yang dipusingin urusan tempat tinggal cuman gara-gara nggak mau dibikin susah oleh jarak. Contoh simpel aja, saya masih bingung kenapa ada orang mau tinggal di Bogor padahal sehari-harinya kerja di Kuningan-Jakarta. Kakak saya aja ngalah, masang investasi dengan beli apartemen di Kuningan supaya nggak kejebak macet ke kantornya di sana. Saya mufakat dengan cara mikirnya, mendingan berkorban mahal beli tempat tinggal deket kantor daripada duitnya habis cuman demi bensin dari rumah ke kantor hanya lantaran rumah di ujung dunia.
Saya sendiri nggak bercita-cita akan menghabiskan hidup dengan pakai mobil pribadi sehari-hari. Saya nggak keberatan ngantor pakai bemo. Tapi saya puyeng kalau untuk ke jalan yang dilaluin bemo kudu jalan kaki jauh. Kolega saya bilang, kalo kayak gitu cara mikirnya, mestinya saya jangan pacaran sama fotografer, tapi pacaran aja sama sopir taksi.
Nggak adil, jika jalan keluarnya adalah kita harus punya mobil pribadi hanya supaya kita bisa mobile dengan tempat tinggal yang jauh dari keramaian kendaraan umum. Itu tidak mendidik kita dari kemandirian, itu hanya akan membuat kita bergantung pada bensin.
Kenapa Pemerintah nggak bikin aja kendaraan umum yang nyaman, yang berjalan tertib dan rutenya bisa dijangkau semua orang? Saya rasa itu tindakan yang jauh lebih bermanfaat ketimbang sibuk memberantas konser Lady Gaga.
Lalu saya bertanya-tanya dalam hati, apakah berkorban duit transpor dengan taksi setiap hari pada tempat tinggal yang jauh itu, setimpal dengan mengirit service charge bulanan plus selisih harga beli yang mungkin jatuhnya akan lebih mahal jika kami beli properti yang lebih deket dengan jalan raya?
Saya berdoa, kalau memang jodoh tempat tinggal kami di sana, semoga ada wiraswasta yang mau berinvestasi bikin grup tukang ojek atau becak. Sesungguhnya para transporter kawakan itu akan sangat berjasa buat menghemat tenaga dan pikiran saya nanti.
Seandainya saya punya anak nanti, saya ingin dia bisa belajar naik motor sendiri. Saya tidak mau dia jadi tahanan bensin yang ngomel saban kali harga BBM naik, seperti orangtuanya.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com