Georgetterox
Jadi, apa yang baru hari ini?
Wednesday, May 15, 2013
Dokter, Jalan Tak Berujung
Friday, May 10, 2013
Mispersepsi, Argumentasi, dan Asertif
***
Pekan ini saya dapet wangsit dari seorang kolega supaya saya bikin peringatan ke seorang kolega yunior supaya jangan "melawan".
Saya masih menimbang-nimbang apakah wangsit ini layak dieksekusi atau tidak.
Thursday, May 2, 2013
Sekongkol dengan Juragan Tanaman
Tapi di Indonesia, menikah bisa jadi acara maha ribet. Teman saya, yang sebentar lagi mau menikah, cerita bagaimana untuk mengurus rencana pernikahannya ke KUA itu susahnya bukan main. Di Malang, seseorang yang mau menikah, ke KUA-nya harus nunjukin ijazah SMA.
Heh? Ini mau menikah atau mau cari pekerjaan?
Tapi nyatanya memang begitu. Yang kesiyan yang cuman lulus SMP, ya cuman bisa pamer ijazah SMP. Yang cuman lulus SD apa lagi.
"Kurasa mereka mau pendataan penduduk," saya menanggapinya tenang, sewaktu teman saya itu ngobrol dengan saya di sebuah tempat dugem di kawasan Jalan Pemuda. "Supaya mereka tahu berapa banyak penduduk mereka yang menikah dalam keadaan terdidik."
"Aku kasih ijazah S1-ku!" kata temen saya itu.
"Oh, that's better," kata saya sambil melahap nasi goreng.
"Tapi mereka tolak! Mereka maunya ijazah SMA! Nggak boleh ijazah S1!" tukas temen saya kesal.
Saya langsung keselek nasi goreng. Demit, saya memaki dalam hati. Mana nasi gorengnya pedes banget pula!
Monday, April 29, 2013
Dongeng dari Bangsal Pasrah
Kanker leher rahim, atau lebih populer disebut kanker serviks, pada dasarnya adalah tumor yang tumbuh di kawasan antara vagina dan rahim. Kalau masih di stadium 1 atau 2, cukup angkat aja rahimnya, maka kankernya nggak akan nyusahin penderitanya lagi. Tapi yang kasihan kalau udah stadium 3, di mana kankernya nggak cuman main di leher rahim, tapi sudah ndusel-ndusel ke saluran kencing sehingga bikin ginjalnya rusak dan pasiennya susah pipis. Maka penderitanya harus diobati dengan radiasi, artinya dikasih sinar khusus yang mengandung zat-zat radioaktif untuk menghambat pertumbuhan kanker. Paling apes pada stadium 4, di mana kanker sudah nyebar sampek ke tempat lain di atas perut, misalnya ke tulang punggung, ke paru, bahkan ke otak. Kalau kayak gini nggak mungkin dioperasi, radiasi juga kayaknya nggak mempan, obat-obatan kemoterapi belum tentu manjur. Dalam hal ini pasiennya tinggal "tunggu waktunya saja".
Pasien (kolega senior) saya yang saya urusin ini rata-rata stadium tiga. Beratnya penyakit yang sudah saya gambarkan di atas bikin saya bisa memahami kenapa mereka kadang-kadang begitu rewel. Ada yang tumornya begitu bandel, ditowel dikit aja langsung berdarah, dan darahnya na'udzubillah ngalahin cewek-cewek mens hari pertama. Nggak heran kalau kadang-kadang pasien-pasien ini suka nggak berani bersihin vaginanya saban kali habis pipis lantaran takut berdarah.
Efeknya betul-betul sinting: kebersihan kemaluan penderitanya sangat mengharukan. Kalau saya mau visite, baru jarak semeter aja udah tercium baunya busuk. Penderitanya jadi minder karena mencium bau vaginanya sendiri, alhasil mereka jadi depresi berat. Nggak cuman itu, banyak banget yang terpaksa "kehilangan" suami, lantaran suaminya juga sungkan mendampingi karena nggak tahan kebauan.
Nyeri kanker ternyata itu sakit minta ampun. Biarpun kankernya cuman di kawasan selangkangan, tapi nyerinya ternyata nyetrum sampek ke seluruh perut. Kadang-kadang penderitanya duduk miring-miring, tidur pun dengan posisi sedekap aneh, ternyata karena menghindari nyeri di kawasan antah-berantah dalam selangkangannya yang dia sendiri tidak bisa membayangkan di mana persisnya. Belum lagi kalau sudah nggak bisa pipis. Saat kami berusaha menolong dengan kasih kateter pipis, dia menjerit-jerit karena susternya nggak sengaja nowel kankernya.
Biarpun secara teoritis kanker stadium 1-2 bisa ditolong dengan operasi, nggak selalu operasi itu bisa dilaksanakan. Kadang-kadang tumornya terlalu besar, dan kalau dipaksa operasi, bisa-bisa jadi pendarahan hebat dan pasiennya malah mati di meja operasi. Supaya aman, pasien ginian harus dikasih kemoterapi dulu. Nanti kalau udah kemoterapi tiga kali dan ternyata tumornya mengecil, baru deh dioperasi.
Kemoterapi pada kanker itu sebetulnya memasukkan obat khusus ke dalam infusnya si pasien. Obat ini konon bisa menghambat pertumbuhan sel-sel kanker supaya nggak merangsek makin banyak. Yang menyebalkan adalah efek sampingnya. Obat ini ternyata nggak cuman menghambat sel kanker, tapi ternyata juga menghambat sel-sel lain yang masih sehat. Salah satu sel yang kena adalah sel rambut. Alhasil banyak penderita yang setelah dikemoterapi jadi botak.
Obatnya sendiri bikin mual. Padahal nginfusin obatnya sendiri nggak lama, paling banter tiga jam. Tapi kata pasien saya, sekali kemo, mualnya bisa sampek seminggu. Jadi buat penderita kanker, kemoterapi ini bisa jadi fase penyiksaan lantaran bikin mereka jadi gundul dan muntah-muntah :(
Seperti yang saya bilang bahwa pasien (kolega senior) saya kebanyakan stadium tiga, dan stadium tiga itu mestinya diobatin pake sinar. Dan rumah sakit tempat saya sekolah itu kebanyakan pasiennya dari kelompok miskin yang berobat gratisan. Siyalnya pasien-pasien miskin ini nggak bisa langsung disinar karena untuk acara radioterapi itu mereka harus ngantre. Sehubungan pengobatan ini program gratisan Pemerintah, maka antreannya panjang banget, bisa makan waktu enam bulan. Mosok mau ngobatin orang aja kudu nunggu enam bulan, maka si pasien terpaksa diobatin dengan terapi garis kedua supaya nggak sampek tewas. Terapi garis keduanya ya kudu ikutan kemoterapi tadi, sambil nunggu sampek tiba saatnya tiket untuk terapi sinar. Masuk zona gundul-muntah deh.
Dengan deskripsi derita di atas, nggak heran kalau pasien-pasien kanker serviks itu stress berat. Nggak cuman pasiennya yang stress, tapi keluarganya juga ikutan stress. Kesakitan itu membuat pasiennya ngamuk, lalu dia ngamuk pada dokternya, pada perawatnya, termasuk juga ngamuk pada keluarganya, dan pada akhirnya ngamuk pada dirinya sendiri. Pada pasien-pasien miskin yang berobat gratisan, asuransi Pemerintah nggak sampek meng-cover keluarganya, walhasil keluarganya jadi terbebani kalau harus nungguin pasiennya selama diopname. Banyak dari mereka yang terpaksa jual rumah dan jual sawah demi berobat. Kadang-kadang keluarganya ikutan sumpek, karena harus menjaga pasiennya yang tidur berjubel bareng-bareng pasien lain yang sesama sekarat. Saya pernah menyaksikan keluarga pasien berantem cuman gara-gara yang satu kepingin tidur dengan AC nyala sedangkan tetangga di sebelahnya nggak tahan AC.
Beberapa pasien yang tidak cukup sabaran menghadapi pengobatannya, kadang-kadang nekat berhenti berobat dan lari ke dukun-dukun modern yang dewasa ini populer dengan nama "pengobatan alternatif". Di sana mereka dicekoki ramuan macam-macam dan dikasih bisikan sesat bahwa dengan ramuan itu kankernya sembuh. Tentu saja karena tidak satupun dari ramuan itu punya dasar ilmiah, maka banyak yang tertipu dan beberapa bulan kemudian terkapar dengan ginjal yang bengkak lantaran kankernya semakin ganas dan ginjalnya kepenuhan oleh ramuan-ramuan alternatif tadi. Terpaksa cuci darah deh.
Apakah semua penderita kanker serviks seperti itu? Enggak juga. Karena operasi, radiasi, dan kemoterapi ternyata memang bisa menolong. Mereka yang patuh menjalani pengobatan dan bersedia disinar sampek 35 kali dan diberi kemoterapi sampek enam kali, ternyata kankernya mengecil dan bahkan selangkangannya kembali mulus. Memang dokter tidak boleh bilang kankernya sembuh, tetapi ya, pasiennya memang mendapatkan hidupnya kembali.
Beberapa pasien saya yang sudah dikemo berkali-kali, akhirnya mengakui bagaimana kemo yang bikin muntah-muntah itu akhirnya mengembalikan diri mereka lagi. Perdarahannya mulai berhenti, vaginanya tidak sebau yang dulu lagi. Mereka sesama penderita itu saling berkawan, saling curhat akan penderitaan, dan mereka berusaha menguatkan "teman-teman" sesama penderita lain yang sedang kesakitan. Bagian yang lucu adalah bagaimana mereka bertukar info tentang toko jualan jilbab, karena mereka ingin menutupi kepala mereka yang botak tidak karuan akibat obat kemoterapi itu. Rumah sakit kami mewajibkan mereka yang sudah selesai dikemo dan diradiasi untuk pap smear teratur (demi mengecek, siapa tahu kankernya kumat), dan setiap ada "alumni" yang pap smear-nya tetap bersih setelah tiga tahun, selalu dipandang kawannya yang lain untuk jadi bahan inspirasi supaya mau tetap berobat.
Kanker tidak bisa sembuh. Sel kanker akan tetap ada di sana, tetapi bisa dihambat supaya tidak tumbuh apalagi menyebar. Yang penting, penderitanya harus tetap bisa hidup dengan menerima dirinya sendiri. Bukan mati dalam keadaan tragis: kesakitan, botak, sedih, dan bangkrut. (Dan kadang-kadang, mati setelah tertipu dukun alternatif.) Karena seperti kata profesor saya, hendaknya jika umur sang penderita memang sudah habis nanti, penderitanya meninggal dengan tetap punya harga diri. Tetap punya perasaan bangga terhadap dirinya, tetap senang biarpun kepala sudah gundul, dan tetap punya uang cukup untuk sekedar membelikan cucu-cucunya esgrim.
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Sunday, April 21, 2013
Telat Haid? Jangan Kuatir
Ini sebenarnya sering dijumpai, kita telat mens dan kita langsung bertanya-tanya apakah kita hamil. Lebih gampang menerima jika test pack-nya positif, kalo hamil paling-paling ya tinggal dilanjutin. Tapi gimana kalo test pack-nya negatif dan kita nggak mens-mens jua, bukankah mens nggak teratur itu merupakan pertanda ketidaksuburan? Dan bagian yang penting, hampir 90 persen perempuan di dunia ini ternyata siklus haidnya nggak teratur (meskipun jumlah perempuan mandul di dunia ini nggak sampek 10 persen). Dan nampaknya, perempuan jaman sekarang, meskipun mereka nggak kepingin hamil pada saat yang tidak mereka inginkan, mereka lebih takut mandul.
Mari kita mikir pelan-pelan. Pertama-tama, harus disadari konsep bahwa yang namanya mens itu harus teratur. Definisi teratur, sekali siklus berlangsung antara 18-45 hari. Artinya, kalau saya mulai mens hari ini, maka saya harus mendapatkan mens lagi paling telat adalah 45 hari dari hari ini. Misalnya saya mens mulai tanggal 1 Januari, maka paling banter tanggal 14 Februari harus mens lagi.
Lha kalau sudah lewat 45 hari dari mens terakhir, tapi nggak mens-mens lagi, gimana? Kemungkinannya dua: 1) memang hamil. 2) siklus mensnya kacau, karena ovulasinya telat. Kalau ingin tahu apakah hamil atau enggak, cara paling gampang ya dengan alat-alat tes kencing yang bisa diperoleh di supermarket. Tapi harus diinget bahwa jika hasilnya negatif pun belum tentu juga si cewek itu sungguhan nggak hamil. Karena masih ada kemungkinan alat tes itu punya error 1%, maka jika si cewek yakin dirinya hamil, boleh ulang tes lagi bulan kemudian.
Tapi gimana kalau sudah di-USG pun ternyata memang nggak hamil, dan mens belum datang-datang jua? Maka dalam hal ini bisa dibilang bahwa memang si cewek punya kesulitan buat mens, dan penyebabnya bisa macam-macam. Jika ditengarai bahwa si cewek itu pernah mens 1-2 bulan sebelumnya, maka bisa dibilang bahwa siklus mensnya nggak teratur. Tapi kalau si cewek sudah nggak mens sama sekali sampai enam bulan, maka bisa dipastikan bahwa si cewek memang nggak bisa mens sama sekali (istilah latinnya: Amenorrhea).
Mengapa siklus mens bisa nggak teratur? Untuk sebagian besar cewek yang memang badannya sehat-sehat aja (nggak punya penyakit diabetes, penyakit gondok, dan lain-lainnya yang serius), sebetulnya penyebabnya memang murni karena stress. Soalnya, stress di pikiran bisa mempengaruhi hormon estrogen dan progesteron yang dihasilkan ovarium untuk "mogok", sehingga hormon-hormon yang bertugas mengatur pengeluaran menstruasi pun tidak akan berjalan dengan lancar.
Bisa aja sih hormon ini diatur dengan obat-obatan, tetapi konsekuensinya si cewek akan tergantung pada obat-obatan pengatur mens ini seumur hidup. Padahal penjahat utama dari penyakitnya kan stress-nya, bukan hormonnya yang nggak mau jalan. Jadi supaya mensnya teratur, kuncinya ya stressnya harus hilang dulu dong.
Bagaimana kalau sudah ditunggu sampek enam bulan nggak mens-mens juga dan nggak hamil pula? Dalam hal ini dokter akan mulai pemeriksaan menyeluruh, mulai dari memastikan bahwa si cewek itu memang memproduksi hormon-hormon yang dibutuhkan supaya bisa mens sendiri, sampek memeriksa apakah ada kelainan di dalam kandung telur, rahim, dan bahkan otak, yang membuat si cewek nggak bisa mens. Beberapa contoh kecil: Kegemukan bisa bikin kandung telur punya benjolan kecil-kecil yang menghalangi pengeluaran sel telur yang matang. Cewek yang pernah dikuret akibat dulunya keguguran, ada kemungkinan kecil bisa mengalami kerusakan di rahimnya sehingga rahim nggak bisa ngeluarin darah mens. Penyakit TBC yang dulunya dikira cuman masalah batuk-batuk, kalau menjalar ke rahim bisa bikin nggak mens juga lho.
Tentu saja kemungkinan solusi untuk membuat kita-kita yang nggak hamil ini untuk menjadi mens lagi beragam, tergantung pada kondisi badan kita yang berbeda-beda. Tapi kabar baiknya, sebagian besar acara terlambat haid yang terjadi pada kita-kita yang masih muda dan tidak hamil ini, adalah memang karena stress, sedangkan penyakit-penyakit yang saya sebutkan terakhir itu kejadiannya jarang-jarang. Jadi sudah tahu sendirilah obatnya kan.. :)
Satu hal yang harus dicari, kenapa kita begitu panik kalau terlambat haid? Apakah kita takut hamil atau takut mandul? Kalau takut hamil, nampaknya nggak ada yang bisa dilakukan selain test pack ulang beberapa minggu lagi, karena sebetulnya alat test pack itu paling akurat cuman pada kehamilan menginjak umur minggu ke-8 sampek ke-12. Tetapi kalau masalahnya adalah takut mandul, maka ada baiknya kita mengevaluasi apakah selama ini mens kita ini sudah teratur. Boleh juga potong kompas dengan pergi ke dokter kandungan untuk minta diperiksa USG, dalam hal ini dicari apakah jumlah sel telur kita cukup mumpuni untuk bisa dibuahin oleh suami. Periksa USG ini perlu diperiksa mungkin sampek berkali-kali dalam sebulan, karena memang untuk menilai kualitas dari siklus haid kita memang nggak bisa hanya dengan satu kali pemeriksaan.
Semoga mens Anda teratur, dan Anda bisa hamil pada saat Anda menginginkannya. :)
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Tuesday, April 9, 2013
Curiga Rujak Ini
Sebenarnya saya ini sama sekali nggak doyan rujak. Mungkin karena waktu dulu nyokap saya memperkenalkan rujak itu dengan bumbu petis dan itu penuh paksaan, akibatnya saya jadi nggak doyan banget. Kalau ada orang lain makan-makan rujak, saya biasanya minggir dan mojok sendirian sambil nenggak teh botol.
Lalu karena kali ini saya ingin belajar basa-basi (baca: mendekatkan diri) dengan para bidan, maka saya pura-pura ngambil sepiring potongan nanas, semangka, dan menyiraminya dengan bumbu. Kemudian sesuatu terjadi.
Lho, kok enak? Setelah piring saya habis, saya nambah lagi.
Lalu saya nambah lagi.
Dan lagi.
Lho, saya kok jadi doyan rujak??
Akhirnya rujaknya habis, dan saya hampir kekenyangan karena nikmat.
N.B. Kolega senior saya kasih tips, kalau bikin rujak party, sedia ketimunnya nggak usah banyak-banyak. Orang paling males ambil ketimun. Terbukti ketika buah-buahan lainnya udah abis, ini ketimunnya masih tersisa bejibun. Mau dibikin apa ini ketimunnya? Mosok mau dipakein masker mata?
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com
Monday, April 8, 2013
The New Simbok
Pas maghrib jam 6 sore saya baru teringat kalau seyogyanya dos-q mendarat di Surabaya jam 21.10 maka mestinya take-off dari Jakarta itu kira-kira jam 19.00. Kalo take-off jam segitu, berarti boarding jam 18.45. Karena my hunk orangnya tertib dalam urusan naik pesawat, maka dos-q pasti udah masuk ruang tunggu dari jam 17.45. Saya berkedut samar-samar teringat kalau ruang tunggu di Cengkareng itu nggak ada kantinnya..
Saya buru-buru suruh my hunk makan malam dulu, takut si Singa delay dan ntar dos-q makannya telat. Terlambat. Dugaan saya benar. Dos-q udah kadung masuk ruang tunggu.
Jam 19.00 dos-q ngabarin saya bahwa ternyata si Singa sungguhan delay sampek 30 menit, it means pesawatnya baru berangkat jam 19.40. Artinya lebih lama lagi waktu yang akan dihabiskannya di ruang tunggu tanpa makan malam. Saya mbatin sebal. My hunk itu orangnya be-te-an kalau perutnya udah laper.
Akhirnya begitu dos-q kabarin bahwa dos-q sudah dipanggil masuk pesawat, saya buruan capcus siap-siap jemput dos-q ke bandara. Sepanjang jalan saya mengingat-ingat di bandara ada kantin mana yang enak. Saya melenguh dalam hati coz ingat di Juanda itu yang enak cuman Dunkin Donuts. Sisanya makanan-makanan biasa aja, harganya terlalu mahal malah.
Waktu my hunk datang, saya tanyain dos-q kepingin makan apa, soalnya di rumah nggak ada stok makan malam lantaran seharian saya kuliah sampek sore. Dos-q kepingin makan di rumah aja, bikin indomi goreng. Saya segera menyadari bahwa dos-q lebih kangen rumah ketimbang merespon lapar.
Tapi sepanjang jalan dari bandara ke rumah, dos-q diam. Saya memijat-mijat lengannya, tapi dia tidak berespon. Dalam hati rasanya saya kepingin nendang bokong saya sendiri. Tentu saja dia lapar, dodol. Saya melirik-lirik restoran-restoran langganan kami sepanjang jalan, siapa tahu ada yang buka, tapi gairah rumah makan di jalur Surabaya Selatan sampai Timur begitu lesu padahal itu malam minggu.
Malam itu di rumah saya membuka kaleng sarden dan my hunk makan dengan lahap. Baru setelah makan itu dos-q bicara banyak dan saya mulai mengenali kembali sebelah dirinya yang riang.
***
He cannot live without me. Biasanya dos-q makan nungguin saya. Bahkan dos-q seringkali nggak menyadari dirinya lapar, sehingga saya yang menyadarinya duluan ketika mood-nya turun. Dan dos-q nggak makan karena saya nggak ngingetin. Saya nggak ngingetin karena saya memang nggak ada di sampingnya waktu dos-q nungguin si Singa di bandara itu.
Lalu saya sampai pada pertanyaan, memangnya dos-q anak kecil ya sampek-sampek saya harus bertindak sebagai ibunya untuk menyuruhnya makan malam?
Separuh diri saya menjawab tidak, tapi separuh diri saya menyadari, iya. Mungkin karena ketika laki-laki semakin dewasa, dia mulai memprioritaskan hal-hal lain selain dirinya sendiri. Termasuk menaruh rasa lapar sebagai prioritas bawah. Di situ gunanya istri. Untuk menyeimbangkan isi kepala suami. Iya sih, memang lama-lama kedengaran kayak simbok..
Saya cuman masih harus belajar simbok macam apa yang harus saya perankan. Kalau saya terlalu jauh jadi simbok, my hunk bisa jenuh. Tapi kalau kadar ke-simbok-an saya terlalu rendah, my hunk bisa kurang gizi atau langganan sakit maag.
Mungkin saya perlu belajar dari para simbok senior yang sukses menjadi simbok.
www.laurentginekologi.wordpress.com
www.laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com