Tuesday, May 29, 2012

Semlohay 30 Tahun

Ulang tahun tuh pada hakekatnya cuman satu hari, tapi entah kenapa di tangan saya yang namanya ulang tahun itu bisa curi start awal, malah bisa extend sampek berhari-hari, hihihi..

Dimulai dari H-1, saya mulai perayaan dengan pergi creambath! Yaiyy..rasanya saya udah lupa kapan terakhir kali creambath. Feels like many months ago, di mana salon yang saya kunjungin pas creambath itu berakhir dengan mati lampu! Untungnya salon tempat saya creambath kali ini nggak mati lampu, hahaha.. Nih salon direkomendasikan sama kakaknya my hunk, posisinya di kawasan Darmo sana, saya sengaja ambil paket yang biasa-biasa aja, cukup hair spa bonus masker tangan n kaki. Eh eh, taunya terapisnya ternyata pinter banget, saya aja pas dipijitin langsung ketiduran! Plus lagi bau krimnya bertahan cukup lama, wanginya sampek besoknya nggak ilang-ilang..

Malemnya, saya dan my hunk nekat menceburkan diri ke Surabaya Urban Festival di bilangan Tunjungan. Suatu keputusan sinting karena bodi saya yang udah wangi creambath jadi campur baur sama lautan manusia di festival yang lebih mirip pasar kaget itu, hahaha.. Sebetulnya kami kepingin makan di salah satu warung tenda sana, tapi entah kenapa, mungkin lantaran tempat itu saking kebanyakan dibanjirin pengunjung, jadinya kita susah banget nemuin tempat kosong. Alhasil kita berdua cukup menikmati aja kelilingin tuh festival sampek habis sembari makan es puter Singapore sambil suap-suapan sepanjang jalan..

Saya begitu capeknya malam itu sampek pulang-pulang langsung ketiduran. Malem-malem jam 12 my hunk nowel di semua socmed bilang selamat ulang tahun, dan saya bangun subuh-subuh mendapati belasan notification di HP saya, semuanya berisi ucapan happy birthday. Whoaa..saya nggak bisa bales semuanya, saya kudu visite pasien!
The birthday girl

Untungnya hari tanggal 28 Mei ini saya bisa bereskan semua kerjaan saya di rumah sakit tepat waktu, jadi saya tinggal pulang ke apartemen buat mandi dan dandan yang cantik. Menjelang sore, concierge saya naik ke apartemen saya dan berteriak, "Mbak Vicky, ada paket!" Ternyata bonyok dan adek saya di Bandung kirimin saya kado segepok dalam satu dus. Kadonya dibungkus satu-satu, jadinya kesannya banyak, hahahaa.. Lantas karena saya nggak sempet buka semuanya, maka kadonya pun nggak saya buka semua. Sore kemaren saya cuman buka satu-dua, terus tadi pagi saya buka kado ketiga, tadi sore saya buka kado keempat dan kelima, malam ini saya baru cengar-cengir lihat kado keenam, hahahaha..

Semalam kita berdua pun dugem di restoran Italia di kawasan Darmo (lagi). (Iya lagi, soalnya hampir semua restoran enak di kawasan Surabaya Timur sudah dijabanin semua..) Ternyata bener yang namanya all you can eat itu bikin semua cara makan jadi keliatan sesat. Saya nggak bisa berhenti mengambil semua pasta dan daging yang ada di situ, bahkan my hunk sampek nambah sayap ayamnya seporsi lagi. (Padahal sepiring itu ada banyak banget sayap ayam). 
Yang lucu adalah waktu my hunk bilang: "Kita nggak bisa pulang.."
Saya melongo. "Lho, kenapa?"
My hunk: "Aku nggak bisa berdiri.."
Saya langsung panik. "Tidak, tidak, kamu tidak boleh kekenyangan. Kamu harus menolong aku, aku nggak bisa menghabiskan daging iga ini sendirian..!"
I'm 30 and greedy!

Intinya adalah kami berdua semalam pulang dengan perut limbung dan jalan miring. Bener-bener tipikal ulang tahun yang saya sukai: Mabuk dan kekenyangan..

Tadi pagi saya bangun, pasca hari ulang tahun yang sepertinya belum berakhir, dan perut ini masih aja kekenyangan. Ajaib, kutukan penganan Italia itu masih bertahan.. Padahal hari ini saya masih kudu syuting operasi laparoskopi..

Dan..saya pun nggak lupa manfaatin kartu anggota saya di klub Tokobadan. Malam ini saya bela-belain ke sana cuman buat ambil hadiah ulang tahun saya, soalnya tahu sendiri kan kalo jadi anggota klubnya Tokobadan bisa dapet hadiah gratis kalau ulang tahun. Pramuniaganya bilang kalau tahun ini saya dapet hadiah sabun batangan yang bisa saya pilih sendiri aromanya, atau boleh juga saya milih, saya nggak dapet sabun batangan tapi saya dapet sabun muka buat pria. Ya jelas saya pilih sabun muka aja dong..soalnya saya kan memang nggak pernah mandi pakai sabun batangan. Sabun mukanya saya kasih ke my hunk, dan dia sumringah sekali. Coba bayangin, saya yang ulang tahun, tapi malah dia yang dapet kadonya, wkwkwkwk..

Foto di samping itu salah satu kado saya, sepatu desainnya Risdania Syafdini dari Luirre. Ris, makasih ya, nih sepatu cakep banget dan yang gw suka, nggak bikin kaki lecet biarpun gw baru pertama kali make! Eh ya, tadi gw jalan-jalan ke Galaxy Mall pake sepatu ini, n nggak sengaja gw nangkep ada cewek ngelirik sepatu bikinan lu ini lho..wkwkwkwkwk..

Makasih ya buat teman-teman yang udah kirimin saya selamat ulang tahun via e-mail, Twitter, Facebook, Foursquare, dan SMS. Sebentar, saya masih berupaya balas satu per satu. Semoga doa kalian semua di umur saya yang akhirnya masuk club 30's ini berbalik semua ke kalian. Amien, amien, amien..

Sunday, May 27, 2012

Kuteks Itu Urusan #2

Dalam setiap operasi, hampir semua pasien sebetulnya menghadapi risiko mati di atas meja, oleh karena obat-obatan anestesi yang harusnya digunakan.

Untuk mencegah kematian itu, sebetulnya kita bisa mengenali tanda-tanda yang menuju ke arah sana tanpa harus menunggu jantung berhenti berdetak.
Cukup dengan memeriksa kuku jari pasien. Pencet kukunya, maka kuku akan tampak pucat sebentar, lalu kembali berwarna pink hanya dalam kurun dua detik.
Tetapi jika lebih dari dua detik kuku tidak kembali berwarna pink, maka itu pertanda pasiennya telah kehabisan oksigen dan sebentar lagi bisa meninggal. Dokter akan perlu bergerak cepat dalam hitungan detik untuk memberikan obat-obatan penahan nyawa.

Siyalnya, pasien kadang-kadang suka sok modis.
Bukan, bukan monyet disko.

Seringkali pasien mengecat kukunya dengan beragam warna. Mulai dari warna ungu, warna biru, dan yang di foto saya ini, warna item. Sepanjang operasi yang sedang saya kawal ini, saya berdoa semoga si pasien nggak sampek kenapa-napa di atas meja operasi. Kalau dia kehabisan oksigen, dokter anestesinya nggak akan cepat tahu karena kukunya si pasien ketutupan kuteks!

Mosok rumah sakit harus memberlakukan ketentuan dilarang operasi kalau pasiennya masih pakai kuteks? Nanti pasiennya ngambek karena merasa nggak diobati dan kita disangka mempersulit..

Mbok ya sadar dirilah. Rumah sakit yang terpaksa menyediakan aseton hanya demi membersihkan kuku pasien yang mau dioperasi, cuman nambah-nambah kerjaan yang nggak efisien aja.

Yang penting pasien itu selamat nyawanya. Bukan cantik kukunya.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Thursday, May 24, 2012

Kami Juga Butuh Tidur

Dua orang mahasiswa kedokteran asal Groningen yang lagi pertukaran pelajar sempat magang sebentar di rumah sakit tempat saya bersekolah beberapa bulan yang lalu. Mereka terheran-heran kenapa saya sering datang ke kantor dalam keadaan mata merah, kepala setengah mabok, dan emosi yang tidak karuan, padahal saya nggak pernah ajeb-ajeb sembari nenggak pil seperti yang biasa ditelen si Afriyani yang nyetir Xenia sambil nabrak ibu hamil itu.

Lalu saya jawab ke mahasiswa-mahasiswa pirang itu, keadaan saya nggak fit soalnya kemaren malemnya saya habis jaga rumah sakit. Dan saya jaga itu, nyambung langsung dari dinas paginya. Kalau diitung bahwa saya mulai dinas pagi secara sah itu jam 7 sampek jam 3 sore, lalu saya jaga jam 3 sore sampek jam 7 pagi besoknya, lalu saya sambung dinas lagi besoknya dari jam 7 pagi sampek jam 3 sore, bisa diitung bahwa total durasi saya dinas itu 32 jam.

Terus, karena namanya kan dinas, berarti kan nggak tidur. Jadi total nggak tidur itu 32 jam.

Si mahasiswa Groningen itu terbengong-bengong kenapa kita nggak tidur selama itu. Di negara asalnya, nggak cuman dokter, setiap pegawai dilarang bekerja lebih dari durasi tertentu. Saya lupa durasinya berapa, yang pasti nggak ada ceritanya pegawai bekerja sampek 24 jam. Apalagi yang kerja nggak tidur sampek 32 jam seperti dokter di Indonesia.

Yang seperti ini bukan hanya terjadi pada saya, tapi sudah terjadi turun-temurun selama berpuluh-puluh tahun. Saya sering ditanya profesor saya, "Kamu jaga berapa kali seminggu?" Saya jawab 1-2 kali seminggu.
Lalu profesor saya mengerutkan kening. "Di level kamu dulu, saya dulu jaga lima hari seminggu.."

Jadi, saya nggak pernah ngeluh kurang tidur pada guru saya. Soalnya saya tahu mereka sudah begadang lebih banyak dari saya.

Dalam diskusi saya dengan seorang teman yang biasa bekerja untuk perusahaan multinasional, teman saya bertanya-tanya kenapa dokter di rumah sakit segede-gede gaban kudu bekerja nonstop seperti itu, padahal jumlah sumber daya manusia kan banyak. Memangnya dokternya cuman dikit yah sampek harus kerja bakti gitu?

Saya jawab, jumlah orang yang bisa jadi dokter itu banyak. Tapi rumah sakit pemerintah tidak sanggup mempekerjakan dokter sebanyak itu. Kalau mereka cuman punya anggaran sejumlah X untuk mempekerjakan dokter sejumlah Y padahal yang seharusnya jumlah dokter yang mereka pekerjakan menurut standar internasional adalah 2Y, maka mereka akan tetap pekerjakan dokter sejumlah Y saja. Sebodo amat dengan standar internasional.

Saya tidak pernah mikirin urusan gaji, tentu saja. Tapi saya lebih peduli tentang kesejahteraan dokter, karena kesejahteraan dokter sangat berbanding lurus dengan kesejahteraan pasien. Bisa dibayangkan kalau dokternya capek karena nggak tidur 32 jam, kemampuannya menangani pasien dengan aman dan tepat bisa diragukan. Siapa yang bisa mikir enak kalau sel otaknya kelelahan?

Dan saya juga nggak tertarik dengan pameo bahwa "pendahulumu bekerja lebih keras daripadamu, padahal beban mereka jaman dulu jauh lebih berat daripada bebanmu jaman sekarang". Menurut saya, selalu ada harga yang harus dibayar. Kerja yang tidak seimbang membuatmu stress, stress itu mempengaruhi kualitas hidupmu sebagai manusia. Pernahkah kamu tanya pada istri/suamimu, apakah mereka bahagia melihatmu pulang larut malam setiap hari? Pernahkah kamu datang ke sekolah anakmu untuk mengambil raport tanpa pikiranmu bercabang ke pasien di kantor yang mungkin menungguimu untuk dioperasi? Pernahkah kamu bercita-cita jadi pembuat kebijakan, yang kira-kira bisa mengatur supaya setiap dokter bisa membagi beban pasiennya ke dokter lain secara rasional, supaya dirinya sendiri punya waktu luang untuk beristirahat, mengabdi kepada keluarga, dan menjadi manusia yang seimbang antara sebagai individu dan sebagai makhluk sosial?

Di Indonesia, semua dokter yang sedang bersekolah tidak diatur untuk mendapat jatah libur setiap kali mereka telah menunaikan tugas jaga mereka malam sebelumnya. Karena, bagi dokter yang bersekolah, setiap hari adalah kesempatan untuk mendapatkan kasus pasien untuk dipelajari, dan kasus yang sama belum tentu akan meraka dapatkan lain kali. Jadi, jika mengambil libur, mungkin dokter itu kehilangan kesempatan menghadapi kasus yang langka.

Pada kesempatan lain, kita juga sering menemukan dokter-dokter spesialis tertentu mengalami kekacauan emosional lantaran kesulitan berbagi pekerjaan. Di sebuah ibukota kabupaten di Jawa, jumlah spesialis anestesinya hanya dua orang karena bupati setempat hanya mampu menggaji spesialis anestesi dua orang saja. Dampaknya, operasi yang bisa dilaksanakan dengan optimal pada waktu bersamaan di kota itu hanya dua operasi saja. Bisa dibayangkan jika ada lima orang sakit parah dan harus dioperasi pada waktu yang sama, tiga orang pasien terpaksa mengalah untuk dua orang lainnya karena ahli anestesinya memang cuman dua. Jika salah satu dokter ingin libur, entah itu karena ingin beristirahat atau karena mau ikut seminar, maka dokter satunya harus kerja bakti meladeni semua beban tugas. Keinginan untuk punya tambahan dokter ahli anestesi ketiga untuk berbagi pekerjaan belum tentu terwujudkan, apalagi kalau pemerintah lokalnya cuma sibuk memikirkan kekuasaan dan tidak mau repot-repot memikirkan apakah bawahannya cukup tidur atau tidak.

Dokter juga perlu dibela hak asasinya. Dan salah satu hak asasi dokter itu, adalah menjaga kesehatan. Dan upaya menjaga kesehatan itu dimulai dengan tidur yang cukup.

Ada banyak kontradiksi yang harus dihadapi dokter. Mendapatkan ilmu, tapi kehilangan waktu pribadi. Mendapatkan kehormatan, tapi terasingkan. Mendapatkan prestise, tapi terpaksa berkorban perasaan.

Dan ini saya, berkisah tentang hidup yang saya jalani sekarang.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Wednesday, May 23, 2012

Tahanan Bensin

Sewaktu santer diberitakan harga BBM mau naik bulan lalu (dan ternyata nggak jadi, karena si partai kuning itu ternyata memang pengkhianat buat si biru), saya tidak terpengaruh. Soalnya saya kan mahasiswa yang tinggal di seberang sekolah, yang mana untuk pergi ke sana saya cukup nyeberang jalan doang dan nggak butuh kendaraan, maka saya nggak peduli BBM mau naik apa enggak. Tapi sekarang, perlahan-lahan saya mengerti bahwa BBM itu seperti hantu yang akan mencekik kita, cepat atau lambat.

Kini, ada hal-hal lain yang jadi topik favorit saya dan my hunk selain makan dan jalan-jalan. Salah satunya adalah: properti tempat tinggal. Karena kami berencana menikah tahun depan, dan my hunk nggak kepingin kami menumpang rumah orang tua lama-lama, maka kami mulai melirak-lirik iklan properti. Sayangnya menemukan rumah yang pas nggak semudah mencari restoran bebek goreng, karena ternyata harga rumah yang kami sukai nggak sepadan dengan isi kantong kami yang memang kempes.

Lalu, tersebutlah kami nemu properti yang nampaknya enak buat ditongkrongin di kawasan Surabaya Timur. Lahannya nggak terlalu luas, tapi cocoklah buat kami berdua yang tipe "pekerja yang kerja kayak orang gila, pulang ke rumah cuman buat tidur". My hunk suka harganya, tapi saya enggak, soalnya masalah sepele: Tempatnya nggak dilaluin bemo, dan saya belum nemu pangkalan becak atau ojek sekitar situ.

Sebagai bandingan, saya nemu properti lain di deket situ, yang nggak terlalu jauh dari jalan raya yang dilewatin bemo. Dibandingin proposalnya my hunk, yang saya sukain ini selisihnya lebih mahal Rp 40 jutaan. My hunk nggak suka lantaran cost-nya lebih mahal, belum lagi selisih service charge bulanannya yang juga cukup signifikan sekitar 1,5 kali lipat. Jadi jelas, ini masalah khas antara (calon) suami dan istri, saat yang cowok lebih pusing oleh biaya, sementara yang cewek lebih mentingin fungsi.

Saya yakin yang pusing kayak gini nggak cuman kami. Ada banyak orang di kota ini yang dipusingin urusan tempat tinggal cuman gara-gara nggak mau dibikin susah oleh jarak. Contoh simpel aja, saya masih bingung kenapa ada orang mau tinggal di Bogor padahal sehari-harinya kerja di Kuningan-Jakarta. Kakak saya aja ngalah, masang investasi dengan beli apartemen di Kuningan supaya nggak kejebak macet ke kantornya di sana. Saya mufakat dengan cara mikirnya, mendingan berkorban mahal beli tempat tinggal deket kantor daripada duitnya habis cuman demi bensin dari rumah ke kantor hanya lantaran rumah di ujung dunia.

Saya sendiri nggak bercita-cita akan menghabiskan hidup dengan pakai mobil pribadi sehari-hari. Saya nggak keberatan ngantor pakai bemo. Tapi saya puyeng kalau untuk ke jalan yang dilaluin bemo kudu jalan kaki jauh. Kolega saya bilang, kalo kayak gitu cara mikirnya, mestinya saya jangan pacaran sama fotografer, tapi pacaran aja sama sopir taksi.

Nggak adil, jika jalan keluarnya adalah kita harus punya mobil pribadi hanya supaya kita bisa mobile dengan tempat tinggal yang jauh dari keramaian kendaraan umum. Itu tidak mendidik kita dari kemandirian, itu hanya akan membuat kita bergantung pada bensin.

Kenapa Pemerintah nggak bikin aja kendaraan umum yang nyaman, yang berjalan tertib dan rutenya bisa dijangkau semua orang? Saya rasa itu tindakan yang jauh lebih bermanfaat ketimbang sibuk memberantas konser Lady Gaga.

Lalu saya bertanya-tanya dalam hati, apakah berkorban duit transpor dengan taksi setiap hari pada tempat tinggal yang jauh itu, setimpal dengan mengirit service charge bulanan plus selisih harga beli yang mungkin jatuhnya akan lebih mahal jika kami beli properti yang lebih deket dengan jalan raya?

Saya berdoa, kalau memang jodoh tempat tinggal kami di sana, semoga ada wiraswasta yang mau berinvestasi bikin grup tukang ojek atau becak. Sesungguhnya para transporter kawakan itu akan sangat berjasa buat menghemat tenaga dan pikiran saya nanti.

Seandainya saya punya anak nanti, saya ingin dia bisa belajar naik motor sendiri. Saya tidak mau dia jadi tahanan bensin yang ngomel saban kali harga BBM naik, seperti orangtuanya.
http://laurentina.wordpress.com
www.georgetterox.blogspot.com

Sunday, May 20, 2012

Tetangga Ikut-Ikutan

Kadang-kadang saya bertanya-tanya, apakah kesulitan macam gini juga akan terjadi kalau saya sudah punya rumah sendiri nanti. Saya bahkan nggak tahu apakah ini layak disebut kesulitan.

Kemaren kan sempat libur, jadi saya bikin pesta piyama di rumah kakak saya di Malang. Sebenarnya ini bukan pesta piyama, tapi lebih layak disebut pesta daster, hahaha.. Maka my hunk pun pergi bermobil dari Surabaya sore-sore buat nganterin saya ke rumah kakak.
Salah satu bagian paling menyenangkan dari pulang ke rumah kakak adalah saya bisa main piano di rumahnya sampek puas. Maklum semenjak saya pindah ke Surabaya, saya kan nggak pernah main piano lagi lantaran sampek hari ini saya belum diijinkan ngegotong piano ke dalam apartemen saya (dasar nggak tahu diri, sudah tahu tangga buat naik ke apartemen saya itu sempit banget..)

Memang tuh piano sebetulnya lebih layak disebut keyboard, karena kan dia dibikin dari entah mika atau entah plastik, beda sama piano dari bilah kayu yang biasa saya mainkan, jadi suaranya pun nggak seindah piano sungguhan. Tapi lumayan kan buat melepas stres. Lagian saya nggak peduli, pokoknya jari-jari saya bisa main dengan lincah.

Kakak saya agaknya lupa memperingatkan saya, tapi saya sudah kadung buka tuh piano dan main tingtang-tingtung. Baru main dua lagu, saya berhenti sebentar lantaran saya mau pipis. Keluar dari kamar mandi, saya dengar ada suara piano lain. Nampaknya dari rumah tetangga kakak saya.

Lalu kakak saya bilang, "Dia selalu begitu."
Siapa? Maksudnya, tetangganya.
Katanya, dulu ceritanya, kakak saya baru pindah ke rumah itu. Yang namanya rumah baru mau diisi, pasti kosong blong, termasuk halaman depannya. Tuh halaman nggak ada rumputnya sama sekali. Lalu suatu pagi kakak saya lihat tetangga sebelah rumahnya punya tukang kebun panggilan, lagi berkebun di sana. Kakak saya panggil tuh tukang kebun, minta dipasangin rumput buat rumahnya sendiri, nanti kakak saya mau bayar.
Maka besoknya datanglah tuh tukang kebun bawa rumput bergepok-gepok, lalu dipasang di halaman depan rumah kakak saya. Entah gimana, besoknya lagi, si tetangga ribut kepingin pasang rumput juga buat halamannya. Padahal sebelum kakak saya pindah, tuh rumah si tetangga nggak ada rumputnya sama sekali..

Tadinya kakak saya nggak perhatiin. Maklum deh, kan masih banyak hal lain buat jadi prioritas pikiran. Lalu kakak saya kepikiran kepingin punya piano, karena keluarga kami kan memang musisi dan seneng main piano. Mau beli piano kok kayaknya malah bikin rumah kesempitan, jadilah kakak saya beli keyboard dulu. Singkat kata tuh keyboard masuk rumah dan kakak saya suka main seenak udelnya sendiri. Suaranya si keyboard disetel jadi mirip suara piano, beres deh.
Eh eh, besoknya, dari rumah tetangga terdengar suara piano, nggak tahu itu suara keyboard atau suara piano sungguhan. Di sinilah si tetangga mulai terasa ganjil. Kok tetangga ikut-ikutan beli juga sih?

Lalu tetangga-tetangga lainnya mulai towel-towel kakak saya. "Iya lho, Jeng, dulu sebelum sampeyan pindah ke sini, tuh orang ndak pernah punya piano. Saking aja liat sampeyan punya piano, dia jadi ikut-ikutan kepingin.." :p
Kakak saya bengong. Nggak kepikiran juga bakalan bikin tetangga jadi ngirian kayak gitu. Sebetulnya kakak saya nggak kebingungan. Tapi kakak saya kasihan sama tetangga-tetangga yang lain. Soalnya kalau pas kakak saya lagi main keyboard dan si tetangga jadi ikutan main piano juga, pasti lagunya beda dan nggak nyambung. Mana si tetangga selalu membuka pintu rumahnya lebar-lebar kalau dia lagi main piano, seolah "maksa" sekompleks pada dengerin dia. Kasihan tetangga-tetangga yang lain, jadi bingung mau ngedengerin yang mana..

Kalo katanya ibu-ibu yang lain sih, nggak cuman dalam aspek rumput dan piano keyboard aja si tetangga bersikap kayak gitu. Inget ibu-ibu suka pamer punya panci berharga jutaan? Nah, si tetangga juga keblinger beli panci cuman gara-gara orang sebelah punya panci!

"Idih! Apa-apaan tuh si tetangga baru kedatengan adeknya yang centil nggak ketulungan?
Besok-besok aku juga mau panggil dulurku si Sri ah ke rumahku,
 ta' suruh dia dandan a la Marilyn Monroe pula kayak cewek itu.."
Balik lagi ke cerita saya yang main keyboard bersuara piano di rumah kakak. Saya denger aja suara si tetangga main piano dentang-denting gara-gara denger saya main. Lalu saya bilang, "Jangan kuatir, Mbak! Lihat saja, aku akan provokasi dia!"
Saya narik kursi, lalu duduk di depan keyboard dan terbang ke genre asli saya: jingkrak-jingkrak! Saya main lagu-lagu susah bertempo ngebut, mulai dari Wonderland-nya Maksim sampek Pelangi Cita-nya Gita Gutawa. Setelah setengah jam saya main, saya diam sebentar. Haa..si tetangga nggak ikut-ikutan main lagi. Hah! Saya menang!

"Aku bahkan heran kenapa dia harus merasa tersaingi," kata kakak saya.

Lalu saya bilang ke dos-q, untung semalam saya bawa my hunk ke rumah kakak itu malem-malem, jadi nggak keliatan tetangga. Coba kalo my hunk datengnya pagi-pagi dan keliatan tetangga, bisa-bisa besok-besoknya tetangga ngeyel juga kepingin ikut-ikutan mendatangkan my hunk ke rumahnya.. Ih! Mosok saya mau pinjemin pacar saya buat dipamer-pamer punya oleh si tetangga, males banget deh!