Sunday, April 20, 2014

Dihujat

Soalnya kau tidak tahu bagaimana rasanya memakai sepatunya.

Akhir-akhir ini di internet banyak beredar hujatan terhadap profesi financial planner. Dimulai dari kejadian sebuah biro perencana keuangan yang memberi rekomendasi sebuah CV berinisial "PM" untuk dijadikan tempat nanam modal kepada seorang calon investor. Ternyata CV itu nggak bisa bayar, pemilik CV-nya kabur membawa lari duit sang investor. Sang investor marah-marah kepada biro perencana keuangan tadi, coz dianggap kasih rekomendasi yang salah, lalu kisah itu di-blow up di media massa. Memang akhirnya si pemilik CV pun ditangkep polisi, tapi nama baik biro perencana keuangannya sudah kadung tercemar.

Kisah terulang lagi gegara seorang artis berinisial FH minggu ini ngamuk di media massa, coz merugi jutaan setelah nanam modal di sebuah PT. Padahal dos-q nanam modal di tempat itu setelah konsul ke biro perencana keuangan dan sang biro itu bilang bahwa PT ini aman buat ditanamin modal. Ngomong-ngomong, biro yang dikira "ikutan" merugikan FH dan jadi rekomendatornya CV "PM" ini adalah biro yang sama.

Gegara ini, orang jadi ngeh bahwa di dunia ini ada profesi bernama perencana keuangan. Dan gegara berita-berita ini juga, profesi perencana keuangan jadi dihujat oleh orang awam.

Saya nggak akan ngocehin perkara investasi bodong ini, tapi saya akan fokus terhadap isu penghujatan profesi.

Profesi saya dokter. Tahun lalu, profesi saya dihujat gegara dokter-dokter di seluruh Indonesia mogok massal nggak mau kerja lantaran ngamuk mendengar tiga kolega kami dipenjara karena disangka membunuh ibu ketika berusaha menyelamatkan janin yang dia lahirkan. Kolega-kolega kami akhirnya dibebaskan beberapa bulan lalu dan sekarang sepertinya nggak ada media massa yang ngocehin tuduhan membunuh itu lagi. Dan saya belom pernah denger ada dokter yang prakteknya jadi sepi cuman gegara dos-q ikutan mogok yang hanya berlangsung sehari itu.

Tapi kami belum lupa bahwa profesi kami pernah di-bully. Akibatnya semua dokter sekarang cari aman. Tidak ada praktek pertolongan kalau tidak ada surat ijin praktek. Entah pertolongan itu berupa tindakan menyuntik, atau menuliskan resep, atau sekedar jawab konsul via SMS. Karena dokter seperti manusia biasa, dalam usahanya bekerja, bisa saja khilaf. Dan kekhilafan itu mestinya tidak berujung pada pencemaran nama baik di media apalagi membuatnya dipidana.

Balik lagi ke urusan profesi. Profesi itu punya ciri khas, harus ada latar belakang kompetensinya. Lalu harus ada regulasinya. Dokter itu profesi, coz harus sekolah khusus bidang kedokteran dulu untuk jadi dokter. Dan regulasinya adalah regulasi dari Ikatan Dokter Indonesia.
Pengacara itu profesi, coz harus sekolah advokat dulu untuk jadi pengacara. Dan ada asosiasi khusus advokat di Indonesia.
Polisi itu profesi, coz ada sekolah polisi. Ada lembaga yang ngatur polisi yaitu Polri.

Pengobat alternatif itu bukan profesi. Karena nggak ada lembaga yang ngatur kompetensi pengobatan alternatif. Apalagi lembaga yang kasih ijin apakah pengobat alternatif itu boleh "praktek" atau tidak.
Seniman itu sebetulnya profesi. Karena ada sekolah seni yang menentukan kompetensinya. Dan ada lembaganya juga, misalnya yang saya tahu itu PARFI. Tapi dalam prakteknya, di Indonesia banyak orang bisa main sinetron dan dihonorin banyak tanpa harus kuliah dulu di IKJ.
Blogger bukan profesi. Kompetensinya nggak ada, biarpun untuk mempertahankan blog kudu bisa nulis dengan bagus dan mengendalikan page visitor dengan baik. Nggak ada lembaga yang kasih ijin apakah seseorang boleh ngeblog atau tidak.
Lha perencana keuangan? Orang sepertinya nggak tahu bahwa untuk jadi perencana keuangan itu harus belajar dulu secara khusus selama kurun waktu tertentu. Dan saya belom tahu apakah Otorisasi Jasa Keuangan berwenang untuk melegalisasi atau malah menutup seseorang untuk jadi perencana keuangan.

Lebih repot lagi, orang sepertinya nggak tahu bahwa keuangan itu mestinya direncanakan. Boleh direncanakan sendiri atau melibatkan makhluk profesional yang bernama perencana keuangan. Karena nggak tahu tentang pentingnya perencanaan keuangan itu, implikasinya banyak orang nggak merencanakan keuangan. Akibatnya di negeri ini banyak orang tua yang semula tajir pun gagal mewariskan kesuksesan duitnya kepada anak-anaknya karena memang nggak pernah merencanakan keuangan. Mungkin Anda salah satunya.

Karena banyak faktor nggak tahu tentang profesi-profesian ini, ketika sebuah profesi gagal memuaskan kliennya, maka profesi itu dihujat. Padahal yang menghujat itu nggak tahu bagaimana profesi itu telah bekerja keras untuk melayani kliennya.

Dokter nggak sembarangan mengobati pasien. Dia menginterogasi pasiennya, dia periksa seluruh badan pasiennya. Berdasarkan data-data yang dia peroleh, dia putuskan bahwa pasiennya butuh obat X, bukan obat Y. Sayangnya karena ternyata penyakit pasien itu berasal dari Tuhan, bukan diciptakan oleh pasiennya sendiri, maka obat X pun tidak manjur dan dokter yang dihujat.

Pengacara yang mau belain kliennya juga butuh data. Dia mau tahu kenapa kliennya dirugikan atau dituduh bersalah, dia cari undang-undang yang mengatur apakah kliennya sudah mendapatkan atau memberi perlakuan yang adil atau tidak. Dengan data itu, dia berargumentasi di pengadilan bahwa menurut undang-undang, kliennya nggak bersalah. Kalau menurut rakyat sebetulnya klien itu melakukan hal yang tidak adil, apakah harus menghujat pengacaranya? Ya nggak dong, yang mestinya dihujat ya undang-undangnya.

Polisi untuk bisa nangkep penjahat, harus tahu dulu penjahatnya itu siapa, posisi penjahatnya kira-kira di mana, penjahatnya baru melakukan kejahatan apa. Dia akan tanya dulu sama korban seperti apa tampang penjahatnya. Dia tanya sama orang-orang di TKP, pernah lihat orang lewat yang tampangnya kayak gini nggak. Dia mau tahu buktinya apa, kok sampek korbannya merasa dijahatin. Lha kalau korbannya telat lapor, nggak punya bukti, dan orang-orang di TKP nggak merasa pernah lihat penjahatnya, gimana polisinya mau nangkep penjahatnya? Apakah terus polisinya layak dihujat?

Perencana keuangan kan juga begitu. Sebelum dia kasih rekomendasi bahwa CV atau PT Anu itu layak ditanamin modal, dia udah selidikin dulu laporan keuangan si Anu itu. Di laporan keuangannya ada bukti bahwa si Anu bisa menghasilkan laba sekitar Y persen. CEO-nya si Anu itu lulusan dari sekolah bagus dan udah jadi manajer selama sekian tahun. Sumber dayanya si Anu itu bagus-bagus dan setiap tahun profitnya selalu nambah. Aman kan buat ditanamin modal?
Tapi yang tidak diketahui sang perencana keuangan, ternyata diam-diam CEO-nya dicopot oleh pemiliknya si Anu karena sang CEO nikungin putrinya si Anu. Karena nggak nemu CEO pengganti yang cemerlang, maka si Anu mengganti bahan baku dengan bahan KW. Dasar bahan KW berakibat jadi produk KW, maka produk nggak laku dan si Anu merugi. Padahal si Anu masih punya kewajiban bayar komisi ke ribuan investor yang udah kadung nanam modal. Awal-awal si Anu memang bisa bayar komisi ke investornya, tapi lama-lama nggak kuat bayar. Hal-hal drama yang kayak gini yang mungkin nggak bisa diramalkan perencana keuangan.

Jadi pekerjaan dari setiap profesi memang ada risiko ruginya. Meskipun setiap profesi sudah berupaya keras meminimalisir risiko rugi itu, tapi risiko akan terjadi kerugian yang tidak bisa diramalkan akan selalu ada. Dan yang tahu seberapa keras profesi itu berupaya, hanyalah orang-orang yang berkecimpung di dunia profesi tersebut. Nggak pantas orang menghujat suatu profesi, apalagi kalau orang itu nggak tahu seberapa keras profesi itu telah berusaha.

Because you don't know what it feels to be in their shoes.
Apalagi kalau Anda sehari-harinya cuman pakai sandal.
http://laurentina.wordpress.com
http://georgetterox.blogspot.com

Thursday, April 17, 2014

Obatnya Murah, Anda yang Mahal

TB alias TBC, seperti yang sudah saya tuliskan dua minggu lalu, adalah sakit paru yang punya ciri batuk-batuk sampai dua minggu lebih dan gampang ditemukan di masyarakat sekitar kita. TB ini sebenernya gampang ngobatinnya, cukup minum obat selama enam bulan terus-menerus tanpa bolos. Yang terakhir ini, justru bagian yang paling sulit.

Ada banyak alasan kenapa penderita TB di Indonesia susah sembuh:

“Minum obatnya kok lama banget? Nggak bisakah saya minum obatnya tiga hari aja?”
“Saya takut minum obat. Takut setelah minum obat itu saya jadi sakit perut!”
“Saya pernah dikasih tahu kalau obat TB itu banyak banget yang harus diminum. Sangat tidak praktis!”

“Saya sudah pernah minum itu selama sebulan. Suatu hari saya harus jaga dateng ke arisan kantor, padahal obatnya habis. Saya terus dimarahin suster di dokter langganan, dan disuruh ngulang obatnya lagi dari awal. Terus saya jadi jiper soalnya saya males ngulang lagi..”

“Saya ogah ke dokter. Ngantrenya panjang kayak uler ngantre beras.”

Tapi alasan yang paling sering saya denger adalah, “Obatnya mahal.. Mending dipake beli makan anak di rumah.”

Dengan setumpuk alasan kayak gini, nggak heran kalau penderita TB di Indonesia adalah dua orang di antara 1.000. Jumlah itu adalah jumlah orang yang ketemu Anda kalau Anda pergi ke kondangan :D

Wednesday, April 16, 2014

Konser Mini di Mall

Malam ini saya ngabisin waktu nemenin my hunk meeting di sebuah mall di deket Joyoboyo, Surabaya. Karena saya nggak cukup kompeten untuk ikutan diskusinya my hunk yang berbau komputer-komputeran itu, saya pun nonton sebuah konser mini yang malam ini digelar di mall itu.

Yang main adalah sebuah band berpersonel delapan orang. Vokalisnya ada tiga, jumlah yang menurut saya terlalu hambur, biarpun suara masing-masing vokalisnya lumayan bagus sih. Saya heran kenapa sebuah band harus punya vokalis sampek tiga orang. Saya kira jawabannya, nggak mungkin dua orang, coz mungkin lima orang lainnya nggak bisa nyanyi, sedangkan kalau honornya dibagi tujuh, kayaknya susah karena tujuh itu bilangan prima. Jadi mereka perlu satu orang vokalis lagi supaya gampang bagi honornya (katanya mathematic freak).

Selama bertahun-tahun saya selalu bertanya-tanya kenapa vokalis cewek bajunya harus you-can-see. Membuat gadis-gadis berjilbab nggak cukup laris untuk jadi vokalis band kecuali Elvi Sukaesih (itupun juga karena dos-q takut ditindas Rhoma Irama). Entahlah semenjak era Fatin Lubis ini. Tapi melihat lampu-lampu spotlight yang menyinari pentas malam ini, saya akhirnya mengerti. Pasti di panggung itu sumuk sekali gegara lampu-lampu spotlight itu. Menyesuaikan gaya busana dengan panasnya lampu adalah solusi yang baik.

Bicara soal vokalis, saya terheran-heran kenapa vokalis cowok harus nyanyiin lagunya Ari Lasso dan vokalis cewek harus nyanyiin lagunya Raisa. Kenapa jarang nonton band ada vokalis cewek nyanyiin lagunya cowok dan ada vokalis cowok nyanyiin lagunya cewek?

(Jadi inget bulan lalu saya main ke sebuah toko Jepang di sebuah mall. Ketika dari tengah mall itu ada konser mini di mana vokalis cowoknya nyanyiin Royal-nya Lorde, saya langsung bubarin acara belanja saya dan nontonin konser itu dengan khusyuk.)

Teka-teki yang nggak bisa saya pecahkan malam ini adalah kenapa keyboard-nya harus dua. Kalau keyboard yang satu untuk menciptakan efek piano, saya ngerti. Tapi keyboard satunya buat apa? Toh sudah ada drum sungguhan dan bass sungguhan untuk menciptakan irama dan mimpin melodi. Dan sudah ada gitar dan saksofon buat jadi budak melodi.

Anyway, saya selalu seneng liat pianisnya main keyboard di samping. Akan jauh lebih oke kalau dia main grand piano sungguhan, tapi pasti susah menggotongnya ke panggung Surabaya Town Square.

Sorry dori mori, untuk urusan bikin konser mini demi menciptakan crowd, saya tetep lebih seneng nonton di Paris van Java. Soalnya di PvJ dikasih bangku, jadi penontonnya bisa nonton orang nyanyi di bangku. Lha di Sutos nggak ada bangkunya. Memangnya harga bangku taman itu mahal ya?
http://laurentina.wordpress.com
http://georgetterox.blogspot.com

Friday, April 11, 2014

Berburu Hotel Murah


Travelling hari gini boleh dikata gampang asalkan punya duit. Duit nggak banyak pun sebetulnya masih bisa diakalin untuk bisa travelling, karena yang penting sebetulnya adalah alasan kita untuk travelling, bukan berapa budget yang kita miliki untuk travelling. Tetapi kesulitan yang umumnya dikeluhkan orang adalah biaya tempat tinggal yang nunggak apalagi di musim liburan. Masih enak kalau di tempat travelling ada sanak yang bisa diinepin, lha kalau yang ada cuman hotel? Mosok batal travelling cuman gegara nggak sanggup bayar penginapan? Ah, cupet banget sih.
Kalau Anda travelling pake pesawat dan kebetulan pake Air Asia,
ada juga fasilitas pesan tiket pesawat yang dibanderol dengan pesan hotel sekaligus,
dan biasanya jauh lebih murah.


Kali ini saya akan bagi-bagi tips merencanakan penginapan buat calon-calon pelancong yang ogah nginep di pom bensin atau di mesjid di tempat liburan nanti. Senjata saya apa lagi kalau bukan koneksi internet, dan sedikit pengalaman. 

Thursday, April 10, 2014

Jazz Gunung, Ketika Jazz dan Etnik Menjadi Satu

Ada jazz. Ada etnik. Dan background hawa dingin gunung yang menyelimut.

Ketika ketiga unsur ini berpadu, maka yang tercipta adalah sebuah festival jazz yang unik dan selalu jadi buah bibir nasional setiap tahunnya. Itulah, Jazz Gunung.


Dihelat setiap tahun semenjak wangsa 2009, Jazz Gunung tidak pernah sepi pengunjung. Festival yang rutin digelar di bulan Juli di kawasan Gunung Bromo ini, secara simultan terus berinovasi memadukan nuansa jazz dengan nuansa tradisional musik Indonesia.

Wednesday, April 9, 2014

Efek Mantra Gratisan

Saya masih bingung apa hubungannya kopi gratis dengan nyoblos Pemilu.

Parade Gratisan
Barista kerja bakti di Starbucks,
kasih kopi susu gratisan ke customer yang habis nyoblos.
Paris van Java, Bandung.
Semenjak S*bux ngeluarin pengumuman bahwa pada hari ini mereka akan kasih gratis kepada pengunjung yang jarinya ungu, maka hampir semua kedai kopi di Surabaya rame-rame ngediskon minuman mereka juga. Ada yang cuman kasih 10% tapi dapet esgrim, ada juga yang kasih diskon sampek 50% untuk kopi Toraja. Lumayan buat saya yang belom pernah ngincipin kopi Toraja apalagi pergi ke Toraja-nya langsung.

Persoalannya saya ini nyoblos di Bandung. Bukan di Surabaya. Dan saya nggak punya teman nongkrong buat minum kopi di Bandung, coz temen-temen saya itu udah pada married dan bikinin kopi untuk suami mereka di rumah masing-masing. Plus sebetulnya saya ini lebih seneng esgrim ketimbang kopi. Jadi S*bux gratis itu nggak ngefek buat saya.

Tapi saya udah berubah. Saya ini ibu rumah tangga, bukan lagi gadis lajang yang demen ngopi-ngopi cantik. Dan saya mbatin kenapa cuman Starbucks yang kasih gratis kepada orang-orang yang baru nyoblos pemilu. Kenapa bukan L'occitane? Bukan Zara? Bukan Mango?!

Tuesday, April 8, 2014

Sewot Iklan Ndeso

Semenjak belajar permodalan, saya jadi ngeh kalau yang namanya lahan itu bisa jadi sumber duit. Termasuk lahan di dunia maya.

Terus saya inget blog saya sendiri, yang biarpun isinya suka seenak jidat saya sendiri, tapi alhamdulillah sampek sekarang pengunjungnya lumayan. Lumayan banyak, dan lumayan produktif dalam urusan komen. Mikirin bahwa pengunjung adalah aset, saya jadi tercetus ide, gimana kalau saya pasang iklan aja di blog?

Meskipun saya tahu pengunjung blog saya rata-rata medit-medit dan nggak suka ngeklik iklan, tapi at least membiarkan seseorang menginfokan produknya di blog saya dan kasih saya imbalan untuk itu, seharusnya itu ide yang menarik..

Monday, April 7, 2014

Kronologi: Perempuan Masuk DPR, Negara Makmur



Pernahkah bayangkan kalau Anda tidak lahir dari perempuan? Anda lahir dari perut pria yang tidak punya hormon estrogen cukup, sehingga tenaganya buat mengeluarkan Anda itu empot-empotan? Lalu setelah lahir Anda tidak disusui karena pria yang melahirkan Anda itu tidak punya hormon prolaktin cukup, akibatnya Anda tergantung sama susu kalengan? Kemudian setelah Anda besar, ayah Anda jumpalitan membesarkan Anda karena dia harus jadi supir, jadi kepala keluarga, jadi tukang masak, jadi menteri keuangan, dan jadi master curhat sekaligus?

See, ini adalah alasan kenapa butuh perempuan dalam setiap keluarga. Karena harus ada yang melahirkan, ada yang menyusui, ada yang jadi menteri keuangan, dan ada yang harus jadi master curhat!
Ervianamurti Kurnisetyowati, caleg DPRD Gunung Kidul, Yogyakarta, kampanye dengan turun ke pasar.
Gambar diambil dari sini.

Indonesia Ini Masih Berkembang, Belum Maju
Persoalannya, Kawan, kapita rerata Indonesia ini tidak begitu besar. Sabda
 Badan Pusat Statistik, sepanjang tahun 2013, penghasilan domestik bruto Indonesia baru Rp 33,3 juta. Artinya sebulan rerata rumah tangga Indonesia baru menghasilkan Rp 3 jutaan. Anggap saja satu keluarga punya dua orang anak yang sekolah di SMP, harus makan bergizi dengan harga minyak goreng unrefined yang melonjak tinggi di pasaran, dan setiap minggu ayah harus mengeluarkan bensin yang seliternya mahal untuk pergi bekerja mencari nafkah, padahal di desa belum ada angkutan umum yang mumpuni menampung semua orang tanpa risiko berdesakan kena TB. Bisakah satu kepala keluarga berpenghasilan Rp 3 juta/bulan melakukan itu?

Sunday, April 6, 2014

April Mop a la Bandara

Meskipun ini sudah lewat beberapa hari, moga-moga masih belom telat buat ngomongin April Mop. Terutama karena orang Angkasa Pura baru bikin lelucon yang semula saya kirain itu April Mop, tapi ternyata itu sungguhan.

Jadi mulai 1 April ini, airport tax di Bandara Juanda naik. Airport tax semula Rp 40k, sekarang naik jadi 75k. Mahal? Iya.

Konon, katanya nggak cuman Juanda aja yang naik. Tapi ada tiga bandara lain di Indonesia yang juga naikin airport tax pada 1 April ini, saya lupa bandara mana aja.

Saya bilang mahal coz saya nggak melihat ada perbaikan yang menguntungkan di bandara Juanda tempat saya biasa wara-wiri bepergian. Malah Juanda akhir-akhir ini merepotkan semenjak mereka me-launch ulang terminalnya yang baru, yaitu terminal 2. Terminal 2 sebetulnya airport lama, tapi sekarang difungsikan lagi. Yang rese, jarak antara terminal 1 dan 2 itu lumayan jauh, sekitar tiga kiloan gitu. Dan antara kedua terminal itu dipisahkan antara perumahan rural penduduknya Sidoarjo, jadi nyebrang keluar dari area kekuasaannya bandara.

Efeknya? Kalau saya mau jemput orang di bandara, saya harus tanya sama orang itu dulu, "Ntie lu mendarat di terminal 1 atau 2?"

Saturday, April 5, 2014

Ternyata Memang Indonesia Hebat!

Tahun 2013, dalam gelaran International Conference of Youth Scientists, Mariska Grace berhasil menyabet medali emas atas penelitiannya memanfaatkan kulit kacang untuk mereduksi kadar tembaga di air. Pada saat yang sama, Melody Natalie (berkacamata) juga mendapatkan emas untuk penelitiannya yang mengeksploitasi lensa cumi-cumi sebagai sunblock untuk melindungi nelayan dari kanker kulit ketika bekerja. Satu perak dan dua perunggu juga diraih oleh Indonesia pada tahun ini. Ini adalah kesekian kalinya Indonesia memboyong emas dalam kompetisi ini, karena pada tahun 2010 bahkan pelajar-pelajar Indonesia membawa sampai tujuh medali emas dalam kompetisi yang sama. Gambar diambil dari sini.