Tuesday, May 5, 2015

Kau Bisa Baca Nggak?

Beberapa orang memang nggak senang membaca.

Sudah dibilangin, kalau mau komentar, tulis nama dulu. Supaya nyaman. Komentatornya nyaman, yang punya rumah juga nyaman.

Tapi tetep aja dateng-dateng ngoceh panjang-panjang sembari nggak nulis identitas.
Nggak bisa baca kah?

Segitu susahnya daftar ikutan Kelompok Belajar Paket C sampai baca instruksi simpel aja sulit?
Biar saya kasih tau Bang Anies nanti, mumpung dia lagi jadi menteri.

Eh, sebentar, Bang Anies itu menteri pendidikan dasar atau khusus ngurusin pendidikan tinggi?
*Saya juga nggak baca daftar menteri itu*
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Monday, May 4, 2015

Dokternya Menyerah Di Tangan Dokter

Saya selalu dimarahi kolega kalau habis pergi ke dokter.

"Kamu ngapain gitu aja ke dokter? Obatin sendiri!" Saya inget begitu kata kolega senior saya, sekitar beberapa tahun lalu, waktu saya minta ijin hengkang duluan dari acara main badminton bersama gara-gara saya kepingin ngejar prakteknya seorang spesialis THT.

"Saya sakit," jawab saya sambil ngelap idung saya yang meler. Sumpah, jorok banget.

"Kamu kan juga dokter!" Dos-q nuding saya.

Saya mendelik ke sang senior. Mau bilang, "Kita nggak boleh sombong, Bang!" tapi saya ogah menggurui.

Malam itu saya tetap pergi. Ke ahli THT yang sudah saya incar. Sampai di sana, bener aja, sang dokter netesin obat ke hidung saya dan mendadak pilek saya langsung surut bagaikan banjir yang mendadak berhenti.

"What have you given me?" Saya tidak bisa menahan mulut saya untuk tidak bertanya.

Sang dokter cuma nyengir dan memandang saya dengan tatapan penuh kebapakan. Caranya memandang seolah-olah mau bilang "Di dunia ini ada banyak hal yang tidak bisa kau atasi sendiri, Nak, dan kau perlu pertolongan orang lain untuk itu. Meskipun kau mungkin sebetulnya sudah cukup pintar."

Itu adalah saat-saat di mana saya merasa diingatkan Tuhan bahwa kemampuan kita kadang-kadang terbatas.

***

Hari ini saya ke dokter lagi. Keputusan yang saya bikin setelah sebelumnya maju mundur nggak cantik. Semua dimulai gegara saya mulai batuk seminggu yang lalu. Gara-gara saya kesusahan tidur akibat janin saya yang makin besar.

Tiga hari batuk-batuk, saya mengadu ke dokter kandungan. Si SpOG kasih obat pengencer dahak coz itu satu-satunya alternatif yang aman untuk janin. Dia suruh saya istirahat. Saya minum obatnya, tapi sepanjang long weekend saya habiskan dengan piknik Batu-Malang bareng-bareng keluarga yang dateng dari luar kota untuk merayakan liburan hari buruh.

Saya senang-senang, pulang-pulang bawa foto banyak-banyak. Tapi tentu saja saya kecapekan. Yang tadinya cuman batuk, sekarang jadi pilek. Pileknya menyumbat napas, bikin nggak bisa tidur. Tiap kali batuk, perut ini rasanya tertekan. Janin saya ikut tergencet, dan dia membebaskan dirinya sendiri dengan ngedempet kandung kencing saya. Akibatnya saban batuk, kandung kencing saya jadi terasa kram. Hwarakadah. Ganggu banget.

Pagi ini saya tepar di kursi pasiennya dokter THT. Mengeluh panjang pendek tentang batuk dan pilek. Dan tentang kepusingan saya bikin resep sendiri untuk diri saya sendiri lantaran semua obat flu itu kategori C semua, kategori berbahaya untuk janin. Si otorinolaringologis pun tersenyum, lalu ngetikin resep. Dan bilang saya punya alergi, mungkin alergi dingin atau debu. Dan itu mengingatkan saya karena gara-gara saya pergi sepanjang long weekend, sprei tempat tidur belom saya ganti. Dan hawa Malang-Batu emang dingin banget.

Dia kasih saya steroid. Ya, terserahlah, saya mbatin. Don't worry about it, toh janin saya sudah mateng. Dia mau kasih saya antiinflamasi juga. Dan mukolitik. Istirahatlah, dan minum air putih yang buanyak. Saya mengangguk lesu. I need sleeping.

***

Sebetulnya dokternya cuman mengulang apa yang sudah saya baca di buku kuliah dulu. Tapi saya sudah ngeh, kalau saya sendiri yang nulis resepnya, mungkin saya akan menyunat beberapa komposisi supaya jatuhnya lebih ngirit.

Dan saya nggak pernah ngerti kenapa dokter selalu mengirit-ngirit obat untuk dirinya sendiri, tapi tidak pernah mengirit resep kalau resepnya untuk orang lain. Saya sendiri merasakan, jika saya lagi sayang sama pasien, kalau bisa semua obat yang bermanfaat akan saya tuliskan di resepnya supaya dia cepet sembuh. Tapi kalau saya sendiri yang sakit, saya malah nggak beli obat kalau nggak terpaksa banget. Selalu mikir, "Ah..makan buah kiwi aja yang banyak, nanti sembuh sendiri." "Ah..kalo gue bawa tidur, nanti juga sembuh." Nggak ada pemikiran seek-for-another-help. Tanda-tanda sombong (pada diri sendiri)?
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Monday, April 27, 2015

Mental Daerah Rumahan

Ini kisah nyata dari seorang kawan jemaah blog saya. Yang struggle untuk mencari nafkah, dan ironisnya perjuangannya dihambat oleh keluarganya sendiri. Atau mungkin oleh mentalnya sendiri.

Kawan saya laki-laki, mungkin umurnya sekitar 30 tahun. Bekerja jadi pegawai negeri sipil, di sebuah kantor dinas di sebuah kabupaten. Dos-q baru menikah, istrinya juga pegawai negeri sipil, bekerja di kantor yang lain di kabupaten itu. Pasangan muda ini punya seorang anak balita yang berumur kira-kira dua tahun.

Mungkin karena kinerjanya bagus, kantor tempat kawan saya ini dianggap berprestasi. Atasan dari kepala kantor ini menganggap lokasi kantornya nggak ideal lagi berada di kabupaten itu, karena kantor ini nggak cuman meladeni urusan sekabupaten itu, tapi bebannya sudah sampai tingkat propinsi. Jadi sang boss pun ambil keputusan, kantor ini mau ditutup dan dipindahkan ke ibukota propinsi. Termasuk pegawai-pegawainya, ya termasuk kawan saya juga, disuruh pindah sekalian ke ibukota.

Nggak tahunya, kawan saya mengerang keluh kesah. Karena istrinya juga mengeluh. Menurut dalih kawan saya, kalau dos-q disuruh pindah ke ibukota propinsi, dos-q harus ninggalin istrinya. Karena istrinya sudah betah bekerja di kabupaten itu, plus di kabupaten itu ada orang tua yang bisa dititipin anak mereka kalau istrinya sedang ngantor. Lha kalau istrinya ngikut kawan saya ke ibukota propinsi, istrinya mungkin harus ninggalin pekerjaannya yang sebagai PNS itu, biaya hidup akan meningkat coz mereka harus siap-siap cari rumah kontrakan, cari pengasuh anak, pokoknya jadi lebih mahal deh.

Saya nggak tahu mekanisme perempuan-perempuan yang kerja jadi PNS di Indonesia, apakah mereka boleh mempertahankan pekerjaan mereka untuk mengikuti tempat tinggal suami. Tapi saya akan melihat dari sudut pandang yang lain.

Kita sering lupa tujuan akhir dari hidup kita ini apa. Apakah untuk kesejahteraan keluarga, atau untuk kesejahteraan karier. Sering kita mencampuradukkan dua-duanya, sehingga kepentingan keluarga dan kepentingan karier seolah-olah jadi bertentangan. Padahal kalau dibikin supaya dua-duanya saling mendukung, kan lebih baik.

Bagaimana Istri Mendukung Suami
Ketika orang sudah memutuskan untuk berkeluarga, pasangan mestinya bikin komitmen. Siapa yang paling bertanggung jawab untuk jadi sumber nafkah utama, mau suaminya atau mau istrinya. Kalau sudah sepakat suaminya mau jadi sumber tambang duit, istri ya harus konsekuen mendukung pekerjaan suami. Mau suaminya kudu dipindahin kerja ke kota mana kek, atau disuruh nyebrang laut kek, atau mau disuruh nambang di kutub utara pun, istri ya kudu rela. Kecuali kalau istri bisa memberi alternatif pekerjaan lain kepada suami.
(Dan itu memberi saya pertanyaan lain: Hari gini, ada nggak istri yang berani nyuruh suaminya berhenti jadi PNS hanya supaya dirinya nggak ditinggal kerja?)

Bagaimana Istri Mempertahankan Kariernya Sendiri
Perempuan boleh bekerja kantoran, tentu. Mau jadi pegawai kek, mau jadi direktur kek, mau jadi presiden pun nggak pa-pa. Bahkan dia mau tinggalkan anaknya di rumah untuk diasuh orang lain, itu hak dia. Tapi saat dia membuat keputusan untuk kerja kantoran ini, dia sebaiknya ingat bahwa ada banyak konsekuensi yang harus dia tanggung. Konsekuensi itu termasuk kudu long-distance-marriage dengan suami, kudu mempercayakan pendidikan anak di rumah kepada orang lain, dan sebagainya. Karena dia sudah memprioritaskan kariernya daripada memprioritaskan suami dan anaknya.

Prioritas Selalu Menciptakan Alternatif
Kalau sudah jelas prioritas kita yang mana, mestinya nggak perlu lagi galau ketika suami harus dipindahkan kerja. Istri yang lebih peduli untuk menyemangati suaminya, jelas akan ngikutin suaminya pindah, supaya ia bisa menyambut suaminya dengan pelukan hangat ketika suaminya pulang kerja ke rumah kontrakan mereka nan sempit. Meskipun istri mungkin sudah jadi kepala dinas di kabupaten tempat dirinya bekerja, tapi sang istri nggak akan segan-segan minta berhenti coz dia tahu dia lebih bahagia di samping suaminya daripada sukses jadi boss tapi pulang ke rumah sendirian.

Suami yang masih rela membiarkan istrinya membangun kariernya sendiri, nggak akan galau ninggalin istrinya ke kota lain. Sebab dia tahu bahwa kebahagiaan istrinya adalah kebahagiaan dirinya juga. Dia dengan senang hati di kota baru akan cari usaha tambahan supaya bisa bayar bis pulang pergi dari ibukota propinsi ke kabupaten hanya untuk bersama istrinya minimal dua kali seminggu. Atau memaksa operator seluler buat perbaikin jaringan internet supaya dia bisa video call dengan istrinya setiap hari untuk membunuh rasa kangen.

Kalau menurut pepatah kakak saya Frans, "Suami dan istri itu harus tinggal bersama." Itu yang diucapkannya sewaktu saya bertanya kenapa ia memilih tinggal dengan bininya yang dokter gigi daripada melanjutkan kariernya berlayar dengan kapal pesiar.
Dan menurut para pengusaha yang sering saya dengerin ceramahnya di radio, "Kalau nggak mau disuruh-suruh orang lain (termasuk disuruh pindah kerja dan ninggalin keluarga di kampung), bikinlah usaha sendiri."

Dan itu memberi mindset baru supaya kita jangan terlalu bergantung kepada rejeki (dari) boss kita yang sekarang.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, April 21, 2015

Gawul Ciamik di Stasiun Kereta

Sering ribet sendiri mau beli maem apa kalau mau naik kereta? Well..nggak lagi-lagi deh, coz sekarang ada café yang cozy banget di stasiun. Yupz, bulan ini jadi istimewa coz di Stasiun Gubeng Surabaya ada café yang senyaman café bandara dengan setumpuk kuliner ciamik keren. Namanya Loko Café, dan nongkrong di sini betah banget. Eits..ati-ati bisa ketinggalan kereta nih, hahaha!
Fasad Loko Cafe di Stasiun Gubeng, Surabaya

Loko Café ini adalah gerai tenant kuliner yang ketiga bikinannya PT Reska, anak perusahaannya PT Kereta Api Indonesia. Sebelumnya PT Reska udah buka café di Stasiun Tugu Jogja dan café di Stasiun Poncol Semarang. Café di Tugu berkonsep restoran dine in, sama kayak café yang di Gubeng ini. Sedangkan café di Poncol berkonsep take away. "Di Poncol, orang datang ke café untuk beli minum, lalu langsung dibawa pergi. Di Surabaya ini, kami ingin orang datang ke café untuk makan (di tempat)," jelas Decil Christianto, manajer dari Consumer Business Directorate PT Reska kepada saya.

Selama ini Reska baru aktif menggarap katering untuk kantor-kantor daerah operasinya PT KAI dan katering untuk penumpang kereta. (Dan saya baru ngeh dari penjelasan Decil kalau ternyata nggak semua hidangan yang disajikan di kereta untuk penumpang itu produknya PT Reska.) Semenjak tahun 2014, Reska berusaha memperluas usahanya dengan merambah bisnis restoran lantaran makin hari usaha kuliner rumah makan ini makin menarik. Karena itu mereka mencoba menggarap cafe-cafe di Jogja, Semarang, dan pada akhirnya di Surabaya ini.
Pengunjung meneliti menu.
Perhatikan rel kereta di belakang cafe sebagai latar belakang.
Interior Loko Cafe yang bergaya ringan,
cocok untuk jadi tempat hang out
meskipun tidak naik kereta

Pasar yang diincar, tentu aja para calon penumpang dong. "Kami mengincar 80% customer kami adalah calon penumpang kereta," kata Decil. "Tapi kami juga ingin orang luar yang bukan mau naik kereta juga ikut makan di sini." Kebetulan banget Stasiun Gubeng membuka akses menuju Loko Café ini supaya bisa didatengin orang-orang luar, termasuk mereka yang memang nggak punya tiket kereta.

Friday, April 10, 2015

Berhadapan dengan Si Tunnel Vision

Orang nggak hamil: "Nanti melahirkan di mana?"
Saya: "Mungkin di Rumah Sakit P."
Orang nggak hamil: "Sama dokter siapa?"
Saya: "Nggak tau, gimana dokternya yang piket aja nanti pas saya dateng ke situ."
Orang nggak hamil: "Lho, emang selama ini periksanya sama siapa?"
Saya: "Oh, ganti-ganti. Kadang sama dokter K, kadang sama dokter L, kadang-kadang malah sama dokter M. Yaah tergantung pas saya dateng ke sana adanya siapa yang lagi praktek."
Orang nggak hamil: "Oh bukan sama dokter H*rt*n*?" (Sambil nyebut makhluk beruban paling kejam sekota yang nggak pernah njahit perut pasiennya sendiri setelah Cesar dan selalu nyuruh asistennya buat njahit.)
Saya: "Hahahaa..saya nggak mau sama orang itu!" (Sambil pasang gestur melambaikan tangan dan pasang ekspresi jijik.)
Terus orang nggak hamilnya langsung diem.

Ma'am, saya tahu kalau situ bisa hamil lagi, kamu ingin diberesin sama H*rt*n*. Tapi saya tidak kepingin disentuh sama dia, saya nggak peduli biarpun mungkin situ pikir dia dokter terbaik se-Indonesia.

Ini rahim saya, saya yang menentukan dengan siapa saya ingin mencari pertolongan medis, dan pendapat situ nggak ada nyantolnya sedikit pun di kepala saya. Eh, nyantol ding, setidaknya buat bahan ngeblog.

Belajarlah untuk tidak nyuruh orang lain berpikir seperti caramu berpikir.

Monday, April 6, 2015

Soal Naik-naik Berat Badan Ini

Sudah beberapa bulan terakhir saya terobsesi sama berat badan. Terutama berat badan janin saya. Gini nih repotnya jadi dokter, saya sampai hafal kalau usia janin sudah sekian minggu, berat badannya si janin mesti segini. Sementara kalau usianya sudah nambah lagi, berarti berat badannya si janin harusnya segitu.

Soal Bayi
Siyalnya saya nggak bisa mantau beratnya si janin saban hari, jadi saya cuman bisa mantau trend-nya sebulan sekali pas lagi periksa ke dokter kandungan. Saban kali USG, yang saya tanyain pertama kali pasti "Berapa berat dia sekarang?" (Dan saya nggak peduli sama sekali soal jenis kelamin.)
Kalau dokternya sudah sebut angka berapa ratus gram, saya selalu tanya apakah itu normal untuk usia kehamilan segitu. Kalau beratnya di bawah rentang normal, saya pasti deg-degan kebat-kebit. Tapi kalau beratnya di atas rentang normal, saya deg-degan juga coz takut sama fenomena giant baby. (Giant baby identik dengan keterlambatan perkembangan otak.)

Saturday, March 21, 2015

Yang Penting Anggarannya Habis

Dua hari terakhir ini saya dateng ke pameran fotografi di sebuah plaza di kawasan selatan Surabaya. Acaranya berupa pameran foto dan seminar tentang fotografi yang nampilin tiga fotografer sebagai pembicara. Sponsor utama dari acara ini adalah sebuah merk tinta printer.

Sebetulnya acaranya menarik, tapi saya mau ngulas tentang penyelenggaraan acaranya.

Sebagai seorang mantan event organizer amatiran, saya ngerti bahwa bikin seminar terbuka di pusat perbelanjaan itu cukup sulit. Salah satu kendala gede mungkin dari pembiayaan, jadi saya ngerti kenapa klub fotografi penyelenggara pameran ini mutusin buat menggandeng merk tinta printer sebagai partner-nya. Logika saya, kalau pemilik merk sudah rela bayar banyak untuk ngadain event ginian selama dua hari di plaza yang gede, mestinya mereka memanfaatkan ini semaksimal mungkin.

Nyatanya, dari awal sampai akhir acara, kalau saya nggak perhatian, saya nggak akan ngeh bahwa sponsor utama acara ini adalah merk tinta printer. Saya cuman ngeliat booth-booth polos yang didominasi meja-meja panitia yang isinya cuman orang-orang ngerumpi di depan leptop. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang ini adalah staf tetap dari perusahaan sponsornya atau cuman SPB/SPG pajangan yang cuman disuruh njagain pameran.

Sunday, March 15, 2015

Alasan Blogger Absen Ngeblog

Seorang jemaah ngingetin saya bahwa saya udah sebulan mengabaikan blog ini. Dos-q kangen. Saya nyengir. Aduh, seandainya aja sang jemaah ngerti kenapa saya ngilang dari jagat blogosphere ini.

Saya yakin yang absen nggak cuman saya. Ada ratusan blogger lainnya yang milih mundur. Ada yang mundur sebentar, ada yang mundur selamanya. Alasannya macem-macem.

1) Sudah mulai pilih-pilih topik.
Dulu, ngeblog bisa ngomong seenaknya sendiri. Apa aja pun bisa diomongin. Mulai dari tema serius kenapa di Mojokerto belum juga ada MRT, sampai tema remeh kenapa kucing piaraan kita nggak doyan makan indomi.

Sunday, February 15, 2015

Eliminasi Pegel-pegel di Hotel


Seperti cewek-cewek lain yang lagi hamil, saya juga merasa pegel-pegel. Seiring dengan kehamilan saya yang makin gede, ternyata pegelnya juga makin sering. Pegel yang paling terasa itu di punggung sama di tungkai. Saya sendiri heran, perasaan anak saya di perut ini beratnya paling-paling baru enam ons, tapi kok saya merasa kayak lagi nggembol karung beras.

Eh, ternyata keluhan pegel-pegel ini bisa dijarangin sekiranya kita ini sering olahraga. Cuman kan olahraga buat ibu hamil itu selektif banget. Saya kasih tahu ya, kalau lagi hamil janganlah sok-sok milih olahraga seperti angkat besi kayak Lisa Rumewas. Juga jangan milih olahraga atletik seperti lompat galah. Apalagi gulat, judo, wushu, pokoknya jangaaan!

Monday, February 9, 2015

Move On Itu Mulai dari Bersih-bersih

Saya lagi seneng bersih-bersih.

Ya know, mula-mula saya kirain cuman rumah aja yang perlu dibersihin dari barang-barang tak berguna. Tapi kemudian ternyata saya nemu hal yang lebih penting dan cukup mengganggu: the work station of mine yang ukurannya nggak lebih dari 10 inci ternyata juga perlu dibersih-bersihin. Guess what, netbook yang udah nemenin saya lebih dari tiga tahun ini ternyata penuh barang-barang bosok, mulai dari file-file makalah sekolahan sampai foto-foto yang pingin saya buang ke tempat sampah.

Semua dimulai dari mood saya ngeblog yang makin lama makin turun. Lha gimana nggak menurun, nyalain laptop ini aja leletnya bukan main. Mulai dari muncul layar wallpaper sampai buka layar Microsoft Word yang siap ngetik aja butuh waktu dua menit. Genderuwo macem apa yang nongkrongin laptop saya sampai-sampai mau buka MS Word aja berat banget?