Tuesday, December 16, 2014

Kontrol Suara

Sewaktu saya nulis ini, saya lagi di dalam sebuah kereta api dari Surabaya menuju Bandung. Isi gerbong cuman tinggal separuhnya, coz separuh gerbong sudah turun di Jogja. Saya melihat keluar jendela dan kereta sudah sampai di sebuah stasiun kecil di daerah bernama Cipeundeuy. Kalau Anda nggak tahu di mana Cipeundeuy, itu berada di antara Tasik dan Bandung.

Di tengah-tengahnya menikmati perjalanan kereta, saya dengar penumpang lain di gerbong ini terima telepon di HP-nya. Suara bicaranya keras banget. Nada suaranya masih terdengar sabar, tapi saya menduga dos-q sedang dimarahi orang di HP-nya ini. Saya rasa dos-q pengusaha kayu. Ada masalah dengan seorang konsumen mengenai pengiriman kayu yang tidak dikehendaki konsumennya. Dan nampaknya kejadian ini karena salah paham, melibatkan seseorang bernama Tohir atau kurir atau supir atau apalah. Dan saya tercengang sendiri kenapa saya begitu kepo ngupingin pembicaraan nggak enak ini.

Nguping? Ih, siapa juga yang nguping? Ngomongnya si bapak ini lebih keras daripada burung kakatua piaraan Grandma saya.

Si bapak mungkin seorang pengusaha yang pekerja keras dan selalu berusaha menjual kayu-kayu yang berkualitas bagus, tapi pembicaraan ini mengesankan dos-q seolah-olah dos-q pengusaha yang brengsek. Alasannya? Ya dari tuduhan sang konsumen tak puas yang meneleponnya itu.

Tuduhan ini mungkin cuman persepsi saya. Tapi mungkin nggak cuman saya yang punya cara pandang gitu. Coz di gerbong ini nggak cuman kami berdua, tapi juga ada penumpang-penumpang lain yang mau nggak mau ikutan mendengarkan konflik ini. Konflik yang sebetulnya bukan urusan penumpang-penumpang lain kecuali urusan sang pengusaha kayu.

Jarang ada pengetahuan tentang etika menerima telepon di tempat umum. Di sekolah formal itu nggak ada. Saya nggak ngerti apakah anak SMA jaman sekarang sudah diajarin etika menerima telepon di tempat umum. Yang saya tahu, ke sekolah itu nggak boleh bawa HP, apalagi kalau lagi ujian.

Kelakuan orang ketika menerima telepon di tempat umum sangat ditentukan oleh kualitas handset, sinyal, dan kebiasaan orang itu sendiri.

1) Kualitas
Ada yang handphone-nya bisa meredam noise. Jadi misalnya kasusnya kalau saya lagi di-blow di salon, terus saya nerima telepon. Si penelepon nggak akan tahu saya lagi di salon, karena HP yang saya pakai bisa meredam suara berisik hair dryer yang lagi nge-blow rambut saya.

2) Sinyal
Misalnya saya lagi ada di konsernya Linkin' Park. Chester Bennington nyanyi-nyanyi berisik. Tahu-tahu saya nerima telepon. Telinga saya akan kebingungan karena harus berusaha mendengarkan suara orang yang nelfon saya, tapi di saat yang sama saya juga harus dengerin Chester yang jelas nggak akan mengurangi volume suaranya.

3) Kebiasaan
Kalau orangnya punya kebiasaan ngomong dengan volume keras, maka dos-q akan nerima telepon dengan volume suara keras juga. Kadang-kadang kebiasaan ini ditentukan dari kemampuan telinga juga. Perhatikan deh, orang-orang yang udah rada budeg (misalnya karena usia tua) umumnya ngomongnya keras banget kayak lagi di sawah.

Saya sendiri nggak suka terima telepon di tempat umum kalau nggak genting-genting amat, jadi saya lebih suka dikirimin pesan via messenger atau SMS. Karena saya takut orang yang tidak saya kenal akan menilai saya yang jelek-jelek cuman gara-gara nggak sengaja ngupingin suara saya ketika menerima telepon. Apalagi kalau ternyata isi pembicaraan teleponnya berbau nggak enak.
"Vicky, kenapa kunci rumah nggak ditaruh di bawah keset seperti biasanya?"
"Bu Vicky, kenapa Bu Vicky tidak merespons SMS-SMS kami tentang penawaran kavling hutan jati di Situbondo?"
"Vicky, kenapa kamu ndak mau periksa ke dokter kandungan temannya mama biar gratis?"
Dan topik-topik lainnya yang bikin saya kepingin melempari penanyanya dengan sendal jepit.

Saya nggak naruh kunci rumah di bawah keset coz semua maling tahu bahwa orang bego menyimpan kunci di bawah keset.
Saya nggak tertarik beli hutan coz modal saya belom cukup.
Saya nggak mau periksa ke dokter temannya mama, coz dokter yang itu bukan pendengar yang baik. Saya mendingan periksa ke dokter lain, biarpun mbayar yang penting omongan saya didengerin.

HP saya bukan tipe high end yang bisa meredam noise. Dan saya sering berada di tempat yang desibelnya di atas 100 dB. Dan karena nyokap saya bersuara keras, dan pada dasarnya saya orang yang periang, itu bikin suara saya jadi terbawa keras juga. Bisa dibayangkan kayak apa suara saya kalau terima telepon di tempat umum.

Bisa dibayangkan kalau ada orang nelfon saya ternyata buat ngajak berantem, seperti apa yang dialami sang pengusaha kayu di sebelah tempat duduk saya di kereta ini. Bagaimana saya meladeninya dan bagaimana orang menilai cara saya berbicara, yang pada akhirnya bagaimana orang akan mendapatkan kesan tentang saya?

Coba Anda tutup halaman blog ini dan mikir, bagaimana Anda nerima telepon di tempat umum?

Eh, tapi sebelum nutup halaman ini, komentar dulu yaa..
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Saturday, December 13, 2014

Sudah Natal Duluan

Natal masih 12 hari lagi, tapi saya udah dapet hadiahnya duluan.

My hunk kepingin stapler. Tahu stapler kan ya? Stapler itu jepretan. Spesifiknya dos-q kepingin jepretan yang ukurannya gede, sedangkan di rumah kami adanya jepretan yang kecil-kecil. Minggu lalu kami ke Gr*m*dia, nemu jepretan yang gede, tapi my hunk nggak suka harganya. Jadi tadi pagi dos-q ngajakin saya ke Togamas beli jepretan besar. Biasanya harga-harga stationery di Togamas lebih murah.

"Mmmh..oke. Kebetulan aku juga lagi kepingin beli Ryan Filbert," jawab saya. Akhir-akhir ini saya baru denger Ryan Filbert baru ngerilis buku lagi. (Oh ya, saya sudah punya buku-bukunya Ryan di rumah dan saya sudah baca ulang buku-buku itu masing-masing berkali-kali dalam setahun ini.)

"Tuuh kan, kamu beli buku lagi," keluh my hunk.
Hihihi..saya memang doyan beli buku. Saya bahkan lebih seneng beli buku daripada beli baju.

"Lho, kenapa?" tanya saya heran.

My hunk membenamkan mukanya di perut saya, tempat anak saya lagi ngumpet. "Mama mau beli buku lagi tuh," gumamnya, kayak dos-q lagi mengadu ke janin berumur tiga bulan. "Kalau Mama beli buku terus, lama-lama Mama jadi pinter. Kalau Mama pinter, kan Papa jadi bego.."

(Janin) saya ketawa terbahak-bahak.

Friday, December 12, 2014

Hujan Basa-basi Busuk

Foto oleh Eddy Fahmi
Selamat datang, musim hujan. Begitu senang lihat hujan sungguhan supaya kita punya bahan pembicaraan.

Seorang kolega curhat ke saya. Beberapa hari yang lalu, dos-q entah bagaimana harus satu perjalanan berdua dengan kolega lain. Si partner perjalanan ini nggak akrab-akrab banget sama dos-q, bahkan tahu nama lengkap satu sama lain pun enggak. Tetapi mereka harus jalan bareng ke suatu tempat untuk kepentingan pekerjaan.

“How is he?” tanya saya. Maksudnya saya pingin tahu apakah dos-q menyenangkan, atau badannya bau, atau apalah.

“Oh, dia sangat pendiam,” jawab kolega saya dengan perasaan penuh tersiksa.

Saya ketawa. Kolega saya orangnya sangat periang. Tapi seseorang yang periang kadang-kadang bisa merasa tersiksa banget kalau harus jalan bareng orang yang sangat pendiam.

“Kalian ngobrolin apa? Eh, sori, maksud aku, kamu ngomong apa sama dia?” tanya saya mengejek.

“Mmmh..” kolega saya berusaha mengingat-ingat dengan susah-payah. “Saya nanya, ‘kemaren ujan ya?’”

Tawa saya meledak keras.

Thursday, December 11, 2014

Ibu Hamil Perlu Beli Apa?

Menjelang Natal gini, undangan pesta makin bejibun aja. Ya undangan pernikahan, undangan ulang tahun pernikahan, undangan launching restoran, macem-macem lah. (Sebetulnya nggak ada hubungannya sama menjelang Natal, tapi biarin ah..maksa :p) Saya yang bingung, soalnya dalam keadaan hamil gini, kayaknya nggak cuman perut yang makin besar, tapi sepertinya seluruh badan saya makin besar. Bahkan saya merasa kuku saya juga makin besar. Bulan lalu saya udah dapet masalah besar coz kebaya seragam pernikahan sepupunya my hunk nyaris nggak muat di saya, gegara lengan saya yang kegedean buat masuk seragamnya (dan seragam itu sudah di-fitting dulu di saya sebelum dijahit, dan sialnya fitting-nya terjadi sebelum saya divonis hamil :p).

Urusan pesta-pestaan gini rada krusial coz saya bukan tipe orang yang suka pakai baju seenak udelnya sendiri kalau pergi ke pesta. Gaun-gaun pesta saya itu banyak banget di lemari. Tapi dasar saya yang demen pake bajunya yang ngepas di badan, jadi begitu saya hamil, langsung gaun-gaun sebanyak itu mulai nggak cukup (panik!). Gaun yang saya pakai di foto ini masih lumayan, setidaknya saya masih bisa napas, mungkin karena potongan gaunnya yang nggak terlalu ngepas. Gaun lainnya, sackdress yang mesti harus pake bantuan my hunk buat ngancingin ritsletingnya, terpaksa cuti dulu di lemari coz gaun itu sekarang nggak bisa diritsleting.

Wednesday, December 10, 2014

Kapan adalah Pertanyaan yang Tidak Sopan

Dari dulu saya selalu penasaran dengan arti kata “sopan”. Orang-orang jaman dulu yang tua-tua selalu bilang sopan itu artinya sesuai tata krama. Saya kirain tata krama itu hanya kosa kata yang ada di benua Asia Timur, coz sepanjang pengetahuan saya cuman benua ini yang ribut masalah tata krama.

Sampai kemudian di sebuah sekolah, enam bulan yang lalu, saya belajar apa itu sebenarnya tata krama. Tata krama bukan sekedar membungkuk kalau lewat di depan orang yang umurnya lebih tua atau cowok bukain pintu supaya cewek bisa lewat duluan. Tetapi tata krama, atau dalam bahasa Inggrisnya adalah social grace, punya inti tujuan akhir yaitu menyenangkan orang lain. Tata krama tidak cuman berlaku jika berkelakuan di hadapan yang lebih tua, di hadapan lawan jenis, tapi bahkan juga berlaku jika berkelakuan di depan yang lebih muda. Iya, bahkan kita harus sopan kepada anak-anak.

Tuesday, December 9, 2014

Puasa Seafood Dulu

Sebetulnya, waktu kuliah dulu, saya didoktrinasi bahwa ikan mengandung zat-zat gizi terutama omega tiga yang berguna banget buat pertumbuhan otak pada janin. Makanya ibu hamil sangat dianjurkan makan ikan supaya anak-anaknya pintar.

Laut kita yang baru ngelelepin kapalnya Vietnam-maling-ikan-Indonesia ini dipenuhin ikan-ikan yang tentu saja banyak gizinya buat kita-kita. Kesempatan emas buat para ibu hamil, termasuk saya, untuk makan ikan yang beragam.
Tetapi, saya juga baca bahwa laut kita ini juga penuh dengan polusi dari kapal-kapal pertambangan. Polutan itu antara lain timbal, air raksa, dan barang-barang lainnya yang menyebalkan. Timbal dan air raksa ini, kalau sampai dikonsumsi ikan-ikan di laut, lalu ikan-ikannya dikonsumsi manusia, maka timbal dan air raksanya pindah ke perut manusia. Coba bayangkan kalau manusia yang makan ikan itu sedang hamil.

Friday, December 5, 2014

Motret Malem-malem? Kenapa Tidak?

Salah satu keluhan yang paling sering diomongin kalau motret pas lagi hang out malem-malem adalah: Fotonya seringkali nggak tajem. Nggak peduli jenis kameranya, mau kamera handphone kek, kamera saku kek, atau kamera DSLR sekalian yang mirip tumbler itu pun, tetap aja butuh keahlian ekstra untuk berperang melawan cahaya yang minim. Hasil jepretan seringkali nggak fokus, karena lensa seolah bersusah-payah menangkap semua cahaya yang pada dasarnya memang sudah minim demi bisa mengekspos segala objek yang sebenarnya ciamik di malam hari. Dan tragisnya, ketika minimnya cahaya dikambinghitamkan sebagai alasan susahnya motret malem-malem, bahkan ketika kita memaksakan diri foto-fotoan di daerah yang banyak lampunya pun, hasil jepretan pun jadi ngeblur karena terlalu banyak cahaya. Aaah..frustasi!

Efeknya adalah buat kita yang seneng selfie. Bayangin, udah dandan cakep-cakep demi siap-siap selfie (atau wefie kalau bareng-bareng) pas hang out, percuma aja kalau perginya malem-malem karena hasil potretan pun nggak akan fokus-fokus amat. Saya malah punya tip personal: Kalau mau hang out dan udah niatnya mau selfie di TKP dengan dandanan yang extra effort, mending perginya pas siang hari sekalian. Karena di siang hari bermandikan cahaya matahari, pasti hasil jepretannya lebih fokus!

Monday, November 24, 2014

Kosmetik Apa yang Wajib Kita Punya?

Seorang teman mampir di department store dan bingung dos-q kudu punya kosmetik apa. Semua kosmetik yang ada di sana nampak menarik dan dos-q bingung apakah dos-q harus beli semuanya. Teman saya berumur sekitar 40-an, nggak begitu hobi dandan, punya anak yang sudah remaja, merasa clueless soal dandan tapi tahu bahwa sebagai cewek dos-q harus tahu sedikit-sedikit.

Apakah Anda juga kayak gini?

Kosmetik adalah perkara wajib nggak wajib, tergantung tujuannya. Tiap item punya kegunaan berbeda-beda, jadi perlunya kita beli kosmetik sangat tergantung kepada manfaat yang mau kita ambil. Jadi jangan beli kosmetik kalau kita nggak tahu gunanya apa. Oh ya, cowok juga kadang-kadang perlu beberapa dari kosmetik di bawah ini lho.

Friday, November 21, 2014

Menghadapi Konsumen Skeptis

Seorang pelanggan bertanya kepada sebuah perusahaan software, apakah cloud yang mereka jual itu aman dari hacker. Eksekutif dari perusahaan itu malah bertanya balik, apakah server yang selama ini Anda gunakan sudah aman?

Eksekutif ini ceritain pengalamannya ke saya dan saya malah mengerutkan kening nggak setuju. Pikir saya, jika calon klien bertanya kepadamu sebagai penyedia produk, kenapa kau harus bertanya balik?

Pengertian saya: Pertanyaan jangan dijawab dengan pertanyaan lagi. Efeknya malah bikin calon klien jadi bingung. Kalau bingung, kira-kira orangnya mau beli produk kita nggak?

Tuesday, November 18, 2014

Kenyang Nongkrong di Carl's Jr

Di tangan restoran ini, burger menjadi makanan yang bikin kenyang. Cukup santap setangkap burger aja, kenyangnya membekas terus sampai berjam-jam kemudian dan bikin mulut jadi ogah makan lagi.

Suami istri blogger penggemar makanan
siap menghabisi burger.
Foto: Mas-mas pegawainya Carl's Jr
Surabaya bersorak-sorai siang ini. Bukan, bukan lantaran harga BBM naik. Tetapi lantaran akhirnya Carl’s Jr beneran buka cabang di Surabaya. Marketing HO-nya Carls’ Jr, berseri-seri ketika ketemu saya waktu saya dateng ke pembukaan restoran itu siang ini. “Ini cabang kami yang kedua di Surabaya. Sebelumnya kami sudah buka di terminal airport Juanda,” katanya.

Saya menyeringai di dalam hati. Wah, kalau buka cabang di airport Juanda itu sih bukan cabang di Surabaya namanya. Tapi buka cabang di Sidoarjo. Airport Juanda kan masuk wilayah Sidoarjo, hahahaa..

Dengan bangga Carl's Jr memenuhi meja saya dengan burger-burger mereka.
Foto: Eddy Fahmi
Restoran burger asal Amrik ini punya bermacam-macam burger yang dijual di Indonesia (tapi saya ceritain sebagian aja karena perut saya nggak sanggup menghabiskan semua varian yang mereka jual!). Varian pertama adalah Famous Star, berupa dua roti bun yang mengatup sepotong patty, keju cheddar, sayuran lettuce, dan bawang bombay, dan dilumuri mayonaise yang banyak. Jika sepotong patty aja kurang buat penggemar burger, maka Carl’s Jr menyediakan varian kedua, yaitu Superstar. Adapun Superstar ini hampir sama dengan Famous Star, hanya patty-nya ditambah sampai dua potong..