Friday, August 15, 2014

Aborsi pada Korban Pemerkosaan

Akhir-akhir ini lagi marak pro kontra tentang Peraturan Pemerintah nomor 61 tahun 2014 yang baru ditandatangani Presiden bulan lalu. Kebetulan salah satu inti dari PP ini adalah disahkannya aborsi untuk korban pemerkosaan.

Kita tentu sudah ngerti kan bahaya yang timbul dari kehamilan hasil perkosaan:

1) Karena pemerkosanya tidak jelas latarbelakangnya, maka sang cewek nggak bisa memperkirakan apakah kira-kira si laki-laki ini punya penyakit keturunan yang bisa membahayakan si bayi. Padahal kalau sampai si bayi ternyata mengidap penyakit berat karena turunan dari si bapak dan ternyata bayi ini malah hidup sampai dewasa bersama penyakitnya, sang cewek yang terpaksa jadi ibu akan harus menanggung pengobatan si anak ini sehingga malah mengganggu kualitas hidup si ibu.

2) Keputusan untuk bersedia hamil adalah hak sang cewek. Karena hamil adalah proses yang perjalanannya sebetulnya berisiko: bisa bikin tekanan darah tinggi selama hamil, bisa bikin pendarahan waktu melahirkan, jantungnya sang cewek jadi lemah ketika melahirkan, dan lain-lain yang intinya sebetulnya bisa mematikan nyawa sang cewek. Iya, seorang perempuan bisa meninggal hanya karena hamil (dan melahirkan). Jadi kalau sang cewek nggak siap menjalani risiko kehamilan ini, ya sebaiknya nggak usah hamil. Apalagi yang hamilnya tidak sukarela, termasuk karena diperkosa.

3) Kalau ingin punya generasi bangsa yang bermutu, ya harus punya generasi anak yang otaknya sehat. Kesehatan seorang anak sebetulnya dimulai dari saat dia masih berupa janin berumur dua minggu di dalam kandungan (bukan dimulai sejak dia lahir), karena saat itulah mulainya pertumbuhan sel-sel otak. Memeliharanya tidak bisa setengah-setengah, kehamilannya harus dipantau sebulan sekali, kelahirannya harus ditolong tenaga kesehatan yang kompeten, dia harus diberi ASI langsung dari payudara ibunya selama sedikitnya enam bulan, dan dibesarkan di keluarga yang harmonis.

Untuk menghasilkan anak ini perlu biaya, dan biaya ini akan membebani sang cewek yang melahirkannya, rumah bersalin yang harus mengurus alat melahirkannya, bahkan pemerintah harus menyediakan bangku sekolah untuknya kalau nanti dia besar. Bagaimana kalau kehadiran anak ini tidak direncanakan? Berapa kerugian yang diperoleh karena harus membesarkan anak yang tidak diinginkan siapapun, padahal dengan dana yang sama kita bisa berinvestasi untuk hal-hal lain yang mungkin jauh lebih bermanfaat?

Pemerkosaan bukan cuma menyusahkan korbannya, tapi juga menyusahkan pemerintah, dan pada akhirnya, menyusahkan rakyat. Karena menimbulkan ledakan penduduk yang tidak perlu. Bayangkan kita harus berebut bangku sekolah dan lowongan pekerjaan dengan anak hasil pemerkosaan. Mau suruh si anak homeschooling dan jadi wirausaha sendiri?

Makanya diadakan Peraturan Pemerintah nomor 61/2014 sebagai bagian dari perundang-undangan untuk melindungi korban pemerkosaan. Korban itu nggak cuman ceweknya yang diperkosa lho, tapi juga termasuk anak hasil perkosaan itu. Karena anak ini jelas tidak akan dinafkahi oleh ayahnya. Kecuali sang pemerkosa mau bertanggung jawab untuk menafkahi si anak sampai besar, tapi emang ada pemerkosa ginian?

"Baiklah, Nak. Aku sudah memperkosa ibumu dan kini aku akan menyekolahkanmu dan mengajarimu memancing ikan mujaer."

"Baik, Ayah!" kata sang anak hasil perkosaan dengan riang gembira.

Bah.

***

Memangnya apa isinya PP 61 tahun 2014 ini sampek bisa dikira melegalkan aborsi pada korban perkosaan?

Mari kita lihat:

Pasal 31 ayat (1) berbunyi begini:
"Tindakan aborsi hanya dapat dilakukan berdasarkan:
a. Indikasi kedaruratan medis, atau
b. Kehamilan akibat perkosaan."

Lalu pasal 34 ayat (1) menerangkan begini:
"Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 ayat (1) huruf b merupakan kehamilan hasil hubungan seksual tanpa adanya persetujuan dari pihak perempuan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan."

Sebagian orang ngeri bahwa PP ini akan disalahgunakan oleh cewek-cewek yang sengaja melakukan seks tidak halal supaya bisa menggugurkan kehamilannya.

Orang kadang-kadang lupa bahwa ciri-ciri hubungan seks yang disengaja dengan ciri-ciri pemerkosaan itu beda jauh. Ciri-ciri pemerkosaan itu sebetulnya jelas kan. Ada unsur hubungan seks yang dipaksakan. Beda jauh dari hubungan yang mau-sama-mau atau suka-sama-suka.

Saya sendiri pernah beberapa kali bikinin visum buat cewek-cewek yang dianter polisi dan keluarganya dengan kecurigaan baru mengalami perkosaan. Belakangan setelah saya interogasi sendiri dan saya cek vaginanya, ternyata memang ceweknya "mau" sukarela berhubungan seks dengan si tersangka pemerkosa, cuman kebetulan pasca hubungan ternyata ada masalah komunikasi dengan si tersangka, sehingga si cewek memutuskan untuk mengadukan si tersangka dengan tuduhan pemerkosaan.
Tapi sebaiknya pengalaman ini tidak digeneralisasi.

Intinya, untuk menyatakan suatu kejadian pemerkosaan, nggak bisa semata-mata hanya berdasarkan pengaduan sang korban. Ada prosedur pembuktian, prosedurnya antara lain berupa interview dengan psikolog, pemeriksaan dengan dokter, dan lainnya. Melalui prosedur psikolog dan dokter ini sebetulnya bisa tereliminasi, mana pengaduan yang pemerkosaan sungguhan, dan mana yang cuman pura-pura diperkosa.

Anda nggak bisa bohong, cepat atau lambat dokter akan tahu Anda bohong.
Bahkan meskipun Anda pintar memanipulasi body language pun, vagina Anda tetap nggak bisa bohong. Robeknya vagina yang habis diperkosa dengan robeknya vagina yang seksnya menyenangkan itu, beda..

Dan sebetulnya Menteri Kesehatan sudah menulis paragraf di atas ini duluan, karena ayat (2) berbunyi begini:
"Kehamilan akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibuktikan dengan:
a. Usia kehamilan sesuai dengan kejadian perkosaan, yang dinyatakan oleh surat keterangan dokter; dan
b. keterangan penyidik, psikolog, dan/atau ahli lain mengenai adanya dugaan perkosaan."

Ayat ini menyiratkan bahwa seorang perempuan yang ingin berpura-pura diperkosa supaya bisa digugurkan harus bisa membohongi banyak ahli. Membohongi dokter, membohongi psikolog. Apakah sarjana di Indonesia sebego itu sampai bisa dibohongi?

Alasan yang paling sering jadi dasar menentang ini adalah karena sebagian orang percaya bahwa hak hidup seorang manusia adalah hak Tuhan. Jadi Tuhan yang berhak menentukan seseorang itu boleh hidup atau boleh mati.

Pertanyaannya, apakah janin yang diaborsi dalam PP 61 tahun 2014 itu termasuk makhluk hidup?

Hm..

Saya sendiri sering lupa bahwa di al-Qur'an sudah dituliskan bahwa roh baru ditiupkan ke janin setelah janin sudah berbentuk mudghah, dan momen itu adalah saat kehamilan itu berusia 120 hari. Jadi kalau umurnya belum 120 hari, janin ini belum punya roh. Belum hidup. Meskipun usia 120 hari itu sudah cukup untuk membentuk jantung dan otak pada suatu janin.

Dan pasal 31 ayat (2) PP 61/2014 ini menulis:
"Tindakan aborsi akibat perkosaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama berusia 40 (empat puluh) hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir."

Anggap saja seorang cewek korban pemerkosaan punya siklus haid normal 28 hari per bulan. Maka untuk bisa hamil, tubuhnya harus dimasuki sperma 14 hari sejak hari pertama haid terakhir. Misalnya dia sial karena ternyata 14 hari sejak hari mens pertama, dia diperkosa. Kalau sampek beneran dia hamil, dia cuman punya waktu 26 hari semenjak hari pemerkosaan untuk bisa menjalani aborsi sesuai PP nomor 61 tahun 2014. Lewat dari itu, nggak boleh diaborsi.

Dan bahkan kalau pun dia menjalani aborsi pada hari ke-40 semenjak hari pertama haid terakhirnya sesuai PP itu, janin itu bahkan baru berusia paling banter 26 hari.
26 hari itu belum ada ruhnya, janin ini baru berupa nutfah (menurut al-Qur'an). Janin ini tidak hidup. Belum 120 hari aja tidak bisa dibilang hidup, apalagi yang baru 26 hari.

I really love when al-Qur'an writes about biology. It is the proof that it never lies.

Kita memang ingin melindungi anak. Mungkin termasuk melindungi anak-anak akibat perkosaan. Tapi kita sering lupa bahwa perlindungan yang terbaik untuk anak adalah perlindungan dari ibunya. Jadi kalau kita mau mewujudkan perlindungan pada anak, pekerjaan pertamanya ya bikin perlindungan pada perempuan dulu. Termasuk dilindungi dari kehamilan yang tidak diinginkan. Dan perlindungan terhadap perempuan-perempuan korban pemerkosaan, tidak cukup hanya dengan pendampingan kejiwaan. Kesehatan fisik sang perempuan itu, adalah prioritas mutlak. Tidak cukup hanya dengan nyanyi, "Sabar ya Mbak, ikhlas ya Mbak, sabar ya Mbak.."

Peraturan Pemerintah nomor 61 tahun 2014 ini dibuat untuk menolong banyak perempuan dari kerugian di kemudian hari. Terlalu picik untuk menilai bahwa PP ini bisa disalahgunakan untuk melegalkan aborsi akibat pura-pura diperkosa. Kalau PP ini sampai diimplementasikan dengan sungguh-sungguh, maka menipu PP ini adalah pekerjaan yang sangat ruwet.

Bagikan pikiran Anda, jika pikiran itu bisa menambah pengetahuan orang lain.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Thursday, August 14, 2014

Wajib (Baju) Pramuka

Pada suatu hari ketika umur saya sembilan tahun, wali kelas saya ngumumin di kelas bahwa mulai Sabtu depan semua anak harus pakai baju Pramuka. Bajunya silakan beli sendiri-sendiri.

Saya ngomong begitu ke nyokap saya, terus nyokap saya langsung beli seragam Pramuka buat saya di pasar. Sabtu berikutnya saya pakai baju itu ke sekolah.

Ternyata saya malah dipersalahkan sama temen-temen. Alasannya, badge yang ada di bagian dada baju Pramuka saya itu warnanya cokelat. Itu mah buat Penggalang, kata temen-temen saya. Kita kan waktu itu masih kelas empat, cocoknya ya bukan Penggalang, tapi Siaga. Dan Siaga itu badge-nya warna ijo, bukan cokelat.

Sumpah, saya nggak tahu apa itu Siaga, apa itu Penggalang.

Tapi pokoknya saya adalah satu-satunya murid kelas empat yang badge Pramuka-nya warna cokelat. Dan itu bikin saya jadi nggak pede berat.

Pulang ke rumah, saya bilang ke nyokap bahwa nyokap saya telah membeli "baju yang salah". Dan saya minta dibeliin baju Pramuka yang baru, yang warnanya ijo. Tentu saja nyokap saya menolak mentah-mentah, hahahahah..

Alasan nyokap saya adalah saya bukan anggota Pramuka sungguhan. Saya cuman murid sekolah yang disuruh pakai seragam Pramuka oleh kepala sekolah, dan pasti kepsek yang malang itu baru dititah oleh kepala dinas pendidikan dan kebudayaan yang terhormat.

Bertahun-tahun kemudian saya menyadari nyokap saya benar. Tapi kan masalahnya adalah waktu itu saya nggak pede pakai baju ber-badge cokelat siyalan itu setiap hari Sabtu sepanjang sisa kelas empat. Dan nunggu sampai naik kelas lima itu lama sekali, hahaha..

(Sekarang saya bingung kenapa waktu itu nyokap saya nggak beli badge ijo terus dijaitin aja di atas badge cokelatnya ya? Kan itu menyelesaikan persoalan)

Sebetulnya sebagai seorang murid, saya waktu itu berharap lebih. Mbok ya hari Sabtu ada pelajaran tambahan gitu, misalnya pelajaran tali-talian. Lumayan kan bisa buat modal cara naliin tali rafia di kardus. Atau pelajaran cara bikin api unggun. Lumayan lho itu buat ngirit tanpa harus beli kompor buat masak. Atau pelajaran sandi morse. Lumayan buat belajar nembak gebetan kalo kita masih malu-malu kucing. Pokoknya banyak banget deh manfaat latihan Pramuka itu.

Tapi ya karena sekolah saya nggak mewajibkan latihan Pramuka buat semua murid, kita nggak dapat pelajaran itu. Yang diwajibin cuman pake seragamnya doang. Yang sampek sekarang juga saya bingung apa manfaatnya pake baju cokelat-cokelat itu. Seragamnya mau dipamerin ke siapa? Ke Pak Presiden? Saya ketemu Soeharto aja nggak pernah..

Alhasil, saya nggak pernah berani nembak gebetan karena saya nggak ngerti sandi morse. Kalo urusan naliin kardus buat kirim paket, saya minta tolong suami aja. Dan saya barbeque-an ya pake alat panggangan hasil kado pernikahan kami, hahahahah..

Tapi kita harus bersyukur lho anak-anak SD diwajibin pake baju Pramuka. Karena yang jelas kena cipratan untungnya adalah para pengusaha toko seragam. Jualan baju Pramuka jelas lebih untung daripada jualan baju Paskibra. Karena anak-anak SD yang ditodong gurunya jadi anggota Paskibra cuman sedikit. Sedangkan anak yang diwajibin pake baju Pramuka? Semuanya.

Apalagi sekarang banyak ibu nggak bisa ngejait. Jadi kalo anaknya naik kelas dan jadi selevel Penggalang dan terpaksa beli badge yang baru, mungkin si ibu lebih milih beli seragam baru. Tinggal pengusaha toko seragamnya yang kipas-kipas.

Kok saya jadi pingin bisnis baju Pramuka yah? Hihihi..
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Ketika Bensin Naik

Suatu hari saya kebelet kepingin ke sebuah pusat pertokoan di kawasan Pengampon. Ada yang saya kepingin beli, dan saya merasa harga yang murah di Surabaya bisa saya dapatkan di area itu. My hunk mau nganter, tapi mobil lagi dipakai sama mertua saya. Saya, yang keinginannya nggak bisa dihambat oleh ketidakadaan mobil, milih naik bemo.

Dari rumah saya berjalan kaki sekitar 200 meter ke tempat bemo biasa lewat, pakai payung biar nggak panas. My hunk jalan di samping saya, nggak mau pakai payung. Bemo nongol dalam tempo lima menit setelah kami ngetem di pinggir jalan.

Kami terpaksa turun di kawasan Ambengan, karena bemo yang kami tumpangin nggak lewat Pengampon. Di Ambengan itu, kami oper ke bemo lainnya, dan dengan bemo kedua ini kami sampai di Pengampon.

Total perjalanan dengan bemo kira-kira 45 menit, jarak sekitar 10 km. Sebetulnya nggak perlu selama itu, karena itu termasuk 15 menit ngetem di Ambengan lantaran bemonya yang kedua itu lama datengnya.

Pulangnya, saya sempat rada kebingungan karena nggak tahu cara naik bemo dari Pengampon ke rumah. Seorang tukang becak akhirnya mengajari saya bahwa saya harus ngetem di sebuah pengkolan supaya saya dapet bemo yang sekali jalan langsung menuju rumah mertua saya.

Hari itu, saya nggak cuman senang coz saya dapet hampir semua item yang ada di dalam daftar things-to-buy saya. Tapi yang lebih penting lagi adalah saya tahu gimana cara naik angkutan umum dari rumah ke tempat belanja kesukaan saya. Duit yang semula saya alokasikan buat naik taksi, bisa saya pakai untuk senang-senang, misalnya buat beli Baskin Robbins.

Tapi pada saat yang sama, saya juga jadi agak sedih karena sadar ada orang yang nggak seberuntung saya. Saya punya tetangga-tetangga yang tinggal di blok lain, yang mana lebih jauh lagi posisi rumahnya dari tempat ngetem bemo. Kalau mereka maksakan diri naik bemo, mereka bisa jalan kaki sampek 500 meter, dan menurut saya itu terlalu jauh. Beginilah masalah perkotaan di Surabaya, jumlah kendaraan umumnya kurang memadai, trotoarnya kurang bagus buat pemakai high heels, dan jumlah pohon di pinggir jalan kurang banyak.

Tidak heran orang-orang di Surabaya punya ketergantungan tinggi terhadap taksi. Atau pada kendaraan pribadi.

Kita bisa aja gampang ngomong, "Makanya tho, harus punya sepeda motor.'
Tapi motor kan butuh bensin. Berapa persen anggaran yang bisa dipake seseorang buat makan Baskin Robbins malah berkurang karena dipakai buat bayar bensin motornya?

Jadi ketika Pemerintah berencana mau menghapuskan BBM subsidi, saya bisa mengerti kenapa orang-orang protes. Maka harga bensin akan naik. Yang akan jadi korban pertama-tama adalah orang-orang yang letak rumahnya 500 meter dari tempat ngetem bemo. Mereka akan dipaksa memilih, mau beli bensin yang harganya naik, atau mau beli sepatu yang enak supaya nggak pegel waktu jalan ke tempat ngetem bemo?

Persoalan ini akan lebih gampang solusinya jika:
1) ada kendaraan umum kecil-kecilan sejenis keor yang bisa masuk ke kompleks perumahan untuk bisa mengoper warga ke jalan raya yang dilintasi bemo
2) setiap orang mau menginvestasikan uangnya pada sepatu yang mutunya bagus dan nggak rusak kalau dipake jalan jauh di trotoar yang jelek
3) Dinas Pekerjaan Umum nggak korupsi semen dan mau bikin trotoar yang bersahabat buat pejalan kaki
4) tiap orang bersedia pakai payung supaya nggak takut kepanasan (lirik suami yang ogah-ogahan payungan bareng)
5) bemo diperbanyak supaya bisa nongol di tempat ngetem lima menit sekali
6) setiap orang bersedia naik kendaraan umum

Karena percaya deh, saat kita bisa mengirit anggaran untuk transpor, maka kita bisa mengalokasikan anggaran itu buat senang-senang, misalnya untuk makan es krim, main bowling, atau mandiin anjing kesayangan di salon..
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Tuesday, August 12, 2014

Mengenang Mrs Doubtfire

Mrs Doubtfire mungkin salah satu film favorit saya di tahun 1993. Semula waktu saya nonton resensinya di Cinema Cinema (Ya Tuhan, berkatilah Noorca Massardi yang menciptakan acara ini pertama kali di RCTI. Gara-gara acara ini, bokap saya jadi manyun coz saya todong terus buat nonton bioskop), saya kirain ini cuman cerita tentang mantan suami (yang diperankan Robin Williams) yang berusaha merebut kembali mantan istrinya (Sally Fields) yang lagi pacaran sama pengusaha keren (Pierce Brosnan).

Dulu Pierce ini keren bingits lho, dan dia belom jadi James Bond. Salah satu om-om favorit saya. Iya, dulu saya memang pengidap father complex alias penyuka om-om senang, hihihi..

Waktu saya nonton filmnya sungguhan di laser disc (hayoo..kalau kalian nggak tahu apa itu laser disc, kalian pasti masih ingusan!), ternyata saya ketemu pelajaran-pelajaran lain yang lebih menarik. Antara lain, saya belajar tentang semangat "fight"-nya si Mrs Doubtfire yang sebetulnya laki-laki ini, untuk tetap bisa ketemu anak-anaknya padahal dilarang sama hakim negara bagian. Di sini saya belajar bahwa sejelek-jeleknya bokap, dos-q pasti tetap ingin mendidik anak-anaknya supaya jadi orang baik. Dan dos-q akan melakukan segala cara untuk itu, termasuk menyamar menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri.

Sunday, August 10, 2014

Masa Depan IPK Bontot

Beberapa hari yang lalu saya dikirimin kabar hasil IPK adek saya yang kuliah arsitek. Nilainya bagus, rata-rata 3. Kepadanya saya bilang nilainya bagus. Saya yakin dia akan gampang dapet pekerjaan kalau sudah lulus nanti.

Jujur aja, saya cuman berusaha terdengar menyenangkan.

Anak-anak yang lagi belajar S1 seringkali mendedikasikan waktunya untuk ngejar-ngejar IPK bagus. Sepertinya mereka bangga sekali kalau bisa lulus cum laude.

Yang saya penasaran, mereka mau mengejar kebanggaan IPK itu buat siapa? Buat orang tua mereka? Atau buat diri mereka sendiri? Atau buat orang lain?

Saturday, August 9, 2014

Khotib Kuta Gondok Dicuekin

Lebaran tahun ini berkesan banget buat saya, coz untuk pertama kalinya keluarga saya mutusin buat merayakan Lebaran di luar kampung halaman kami. Soalnya secara tradisional kami selalu berlebaran gantian di Tangerang atau di Kreyongan. Sehubungan Grandma dan Grandpa di Tangerang udah meninggal, dan tahun ini sebetulnya kita sudah ke Kreyongan, dan karena tahun ini kita belom ambil jatah liburan bersama, makanya kita mutusin buat ngerayain lebaran di Bali.

Lho, kenapa Bali, yang nggak ada sesepuhnya kami sama sekali di sana? Yah karena kami ngejar konteks liburan barengnya. Mumpung sempat. Siapa tahu besok umur nggak dapet, kan sayang kalau belom liburan. Mumpung keluarga kami masih berenam aja. Nanti kalau saya atau adek saya sudah hamil, pasti makin susah buat ngumpul bareng. Coz sekarang keluarga kami terpisah-pisah, bonyok saya di Bandung, saya di Surabaya, dan adek saya di Bogor.

Kami sholat Ied di Kuta. Ada mesjid kecil di sana yang kebetulan ngadain sholat Ied, tapi ternyata penuh juga sama jemaah yang rerata juga turis. Ngeliat jemaah sholat ini lucu juga. Karena bau-baunya turis, maka mukena yang dipake pun macem-macem, warna-warni. Sekarang mukena Bali lagi nge-booming ya, dengan warna dasar yang nggak melulu putih, dan dikasih aksen lukisan kembang segede-gede gaban. Jemaah yang bukan penduduk asli pun bisa dikenalin dari model mukena Bali-nya, warnanya ngejreng, dan kayaknya sih belom dicuci, hahaha..

Tuesday, July 22, 2014

Bubarkan Sahur On The Road?

Sekarang sahur on the road lagi ngetrend. Orang-orang keliling-keliling di jalan menjelang subuh-subuh sambil bagi-bagiin nasi kotak.

Gerakan yang sebetulnya umurnya udah semenjak 15 tahun lalu ini saya ingetnya dirintis oleh stasiun radio. Penyiar-penyiar dan klub pendengarnya patroli di jalan raya bagiin nasi bungkus. Sasaran utamanya anak jalanan, gelandangan, tukang parkir, polisi, pokoknya orang-orang yang kesulitan untuk makan di rumah pada jam empat pagi. Intinya sih ibadah, berbagi dengan yang kurang mampu. Kurang mampu itu, baik yang kurang materi maupun kurang waktu.

(Kalo berbagi dengan yang jomblo, itu termasuk kurang mampu nggak ya? Termasuk kan ya? Iya aja deh..) *maksa*

Sekarang, gerakan sahur on the road mulai melenceng dari niat ibadahnya. Penggiat sahur on the road ini mulai bikin macet. Bawa-bawa makanan pakai sepeda motor, jalan beriringan, kadang-kadang bawa bendera entah apa, dengan suara knalpot digede-gedein. Kadang-kadang tampangnya lebih mirip mau tawuran ketimbang mau bagi-bagi nasi kotak.

Karena jalan beriringan, akhirnya pengguna jalan lainnya (yang kebetulan tidak dalam konteks sahur) nyaris nggak kebagian jalan. Maka terciptalah kemacetan baru. Ironisnya, kemacetan itu terjadi gara-gara ada orang mau bagi-bagi makanan sahur.

Perasaan Nabi Muhammad nggak pernah ngajarin berbagi makanan sambil bikin jalanan macet deh. Atau saya yang jarang baca berita, apa ada ceritanya dulu Nabi Muhammad ngajak sohib-sohibnya bagi-bagi korma dengan naik onta-onta yang memadatin pasar sampek kaum Yahudi dan kaum Quraisy nggak kebagian jalan?

Saya pikir, kemacetan oleh para pembagi sahur jaman sekarang itu, mungkin karena namanya sahur on the road. Sahur di jalan.
Coba kalau orang-orang yang bagi-bagi sahur itu rada minggir dikit, mungkin namanya ganti jadi sahur on the pedestrian. Sahur di trotoar.

Apa mending sahur on the road dibubarkan aja?

Saturday, July 19, 2014

Kita Ini Cacingan. Anda Juga.

Sebuah tweet lewat di timeline saya, isinya mencemooh salah satu capres yang lagi nunggu hasil pengumuman KPU tanggal 22 mendatang. Katanya dos-q tengsin kalau punya presiden yang badannya kerempeng kayak cacingan. Dos-q bahkan mengimbau para pendukungnya supaya beliin sang capres itu C*mbantrin.

Lalu saya ketawa dalam hati. Menyadari betapa ketololan bisa merangsang orang untuk jadi penghina.

Tapi sedetik kemudian tawa saya raib. Karena saya baru sadar, orang itu tolol karena dia nggak tahu. Jadi mungkin tugas saya untuk bagi-bagi pengetahuan.

***

Ingat saya waktu masih kecil dulu, nyokap saya selalu nyuruh saya gini, "Vicky, habis main di luar ya? Ayo cuci tangan sama kakinya dulu! Jijik, bawa cacing!"

Padahal saya nggak suka main tanah lho. Saya sukanya main sepeda. Tapi disuruh cuci tangan kaki ya saya manut aja. Biarpun saya nggak merasa bawa cacing.

Waktu itu nyokap saya nggak mengajari konsep "kuman". Melainkan yang diajarin adalah konsep "cacing". Semula saya mengira karena anak umur tiga tahun lebih paham arti hewan cacing ketimbang arti hewan kuman.

Sampai kemudian saya masuk sekolah kedokteran di umur 18 tahun. Semester pertama, hewan musuh pertama yang diperkenalkan kepada mahasiswa adalah cacing. Bukan kuman bakteri apalagi virus.

Kenapa? Ternyata Indonesia adalah negara endemik cacing parasit. Artinya di seluruh dunia, Indonesia merupakan negara yang banyak ditemukan cacing-cacing yang terbukti bisa menimbulkan penyakit pada manusia. Antara lain cacing gelang (Ascaris), cacing kremi (Oxyuris), cacing pita (Taenia), dan lain-lainnya.

Selain karena faktor ketropisan negara kita yang menjadi geografi yang disenangi cacing, juga karena sanitasi di Indonesia masih berada dalam taraf mengharukan. Kemiskinan pada 60 persen rakyat, ketidakcerdasan para ibu rumah tangga, kesulitan PAM menjangkau desa terpencil, minimnya sumber daya sungai yang jernih, membuat banyak rakyat masih kesulitan untuk memperoleh air bersih yang layak minum. Saat rakyat masih mengira bahwa air yang layak minum cuman air jernih yang nggak berbau, PAM masih berjibaku dengan susahnya mendekontaminasi air sungai dari partikel-partikel berbahaya, termasuk telur cacing yang nggak kelihatan dengan mata telanjang.

Efeknya buat penduduk Indonesia, selama negara Indonesia masih menjadi negara endemik cacingan, maka tidak satu pun dari perut rakyat Indonesia yang bebas dari telur cacing. Itu sebabnya ada saran supaya kita minum obat cacing enam bulan sekali. Meskipun Anda tidak merasa sakit. Karena obat cacing ini sifatnya untuk pencegahan, bukan untuk menghilangkan sakit.

Makanya C*mbantrin laku.

Jadi, kalau memang sang capres ini disarankan oleh kubu seberangnya itu untuk minum C*mbantrin, ya itu memang saran yang benar. Tapi itu belum lengkap. Karena yang harus minum obat cacing itu nggak cuman sang capres. Tapi yang harus minum obat cacing itu, juga seluruh rakyat Indonesia.

Wednesday, July 16, 2014

Ketika Burung Belum Hamil

Memang pada dasarnya semua makhluk hidup itu punya kodrat untuk punya keturunan. Tidak cuma manusia, tetapi juga hewan-hewan. Ada kalanya hewan tidak kunjung juga punya anak. Mungkin di sini yang resah nggak cuman sang khewan bersangkutan. Tapi juga manusia yang memiliki mereka pun ikutan resah.

***

Tuesday, July 15, 2014

Surat-surat Sumpek

Saya ketawa ngakak waktu nonton sitkom Keluarga Masa Kini di Net TV. Ceritanya Farhan kedatangan ayah mertuanya dan ayah mertuanya pidato panjang lebar tentang pentingnya menantu berbakti kepada ayah mertua.
Saya ngitung kurang lebih ada dua menit si mertua ngoceh panjang lebar, sementara sang menantu eneg dengernya. Ketika sang mertua berhenti berpidato, dos-q tercengang coz ternyata yang berada di sebelahnya bukan sang mantu lagi, melainkan pembokat di rumah itu, sementara sang mantu sudah ngacir entah ke mana. Jadi pembokatnya yang disuruh dengerin pidato sang mertua.

Saya ketawa terbahak-bahak coz merasa mendapat ide baru untuk saya praktekin sehari-hari. :-p

Let’s say, anggap aja sebetulnya sang mantu bukan eneg denger isi pidatonya sang mertua yang penuh dengan ucapan menggurui itu. Tapi sang mantu eneg karena sang mertua sibuk ngoceh sendirian tanpa membiarkan sang mantu mengungkapkan pendapatnya meskipun cuman satu dua patah kata. Seolah-olah di dunia ini yang penting cuman dirinya, dirinya, dan dirinya aja, orang lain cuman numpang duduk. Dalam sehari-hari kita sering banget ngeliat yang kayak gini, misalnya lagi ketemuan sama siapa gitu, terus sang lawan bicara itu sibuk ngoceh dan nggak tanya pendapat kita. Kesel nggak sih?

Enggak lah. Kan kita sibuk makan, bukan dengerin dia. *sambil ngunyah cheese cake*

Dewasa ini nggak cuman komunikasi lisan yang bisa bikin eneg, bahkan komunikasi tulisan ternyata bisa bikin eneg. Pernah terima BBM atau Whatsapp yang sekali nulis itu panjang banget sampek lebih panjang daripada layar LCD HP-nya sendiri? Wah, saya sering banget nerima itu. Bawaannya males banget scroll scroll ke bawah karena sepertinya isi message itu nggak abis-abis!