Saturday, March 21, 2015

Yang Penting Anggarannya Habis

Dua hari terakhir ini saya dateng ke pameran fotografi di sebuah plaza di kawasan selatan Surabaya. Acaranya berupa pameran foto dan seminar tentang fotografi yang nampilin tiga fotografer sebagai pembicara. Sponsor utama dari acara ini adalah sebuah merk tinta printer.

Sebetulnya acaranya menarik, tapi saya mau ngulas tentang penyelenggaraan acaranya.

Sebagai seorang mantan event organizer amatiran, saya ngerti bahwa bikin seminar terbuka di pusat perbelanjaan itu cukup sulit. Salah satu kendala gede mungkin dari pembiayaan, jadi saya ngerti kenapa klub fotografi penyelenggara pameran ini mutusin buat menggandeng merk tinta printer sebagai partner-nya. Logika saya, kalau pemilik merk sudah rela bayar banyak untuk ngadain event ginian selama dua hari di plaza yang gede, mestinya mereka memanfaatkan ini semaksimal mungkin.

Nyatanya, dari awal sampai akhir acara, kalau saya nggak perhatian, saya nggak akan ngeh bahwa sponsor utama acara ini adalah merk tinta printer. Saya cuman ngeliat booth-booth polos yang didominasi meja-meja panitia yang isinya cuman orang-orang ngerumpi di depan leptop. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah orang-orang ini adalah staf tetap dari perusahaan sponsornya atau cuman SPB/SPG pajangan yang cuman disuruh njagain pameran.

Saya kalau jadi manajer atau supervisor atau apalah dari merk ini pasti ngamuk kalau lihat kelakuan event organizer kayak gini. Mbok ya para penjaga booth ini bangun dari kursinya, terus bagi-bagiin brosur yang isinya produk-produk tinta yang kita jual. Kalau satu orang salesman berhasil menciptakan pembelian, saya bakalan kasih insentif. Karena saya selaku pemilik brand sudah bayar mahal buat sponsorin acara ini, jadi saya kepingin orang yang dateng itu ngeh bahwa di situ lagi dijual tinta. Bukan lagi jualan kamera. Karena sejauh yang saya amatin, pengunjung-pengunjung pameran itu rata-rata ngerumpinya adalah, "Foto ini bagus ya? Kira-kira pake kamera apa ya?" Bukan ngomong, "Foto ini kok bagus ya? Nyetaknya pake tinta apa ya?"

Tiga pembicara mengoceh di depan dan berulang kali saya terusik lantaran suara pembicaranya sering ilang dari sound system. Pembicaranya ngoceh ngalor ngidul, tapi penontonnya bingung lantaran nggak denger suara apapun dari amplifier. Panitia bolak-balik mondar-mandir membuat solusi-solusi semu dengan mengganti mikrofon, ngencengin kabel. Hari pertama suara banyak noise, hari kedua problem sama terulang. Saya ngeliatin panitia-panitianya, kok kayaknya nggak ada yang bisa benerin sound system dengan bener. What da heck? Nggak bisa nyewa soundman profesional?

Ada beberapa feature bikinan panitia acara yang nampaknya merupakan usaha untuk pemanis acara. Ada lomba foto on the spot berhadiah duit yang tujuannya bikin pengunjung supaya mau dateng ke booth. Ada juga fasilitas nge-print gratis untuk umum. Saya menduga mereka bikin fasilitas nge-print ini sebagai percobaan, mungkin untuk ngecek satu botol tinta bisa muat nge-print berapa lembar foto (karena saya nyoba fasilitas ini, dan ternyata hasil warna cetakannya rada kehijau-hijauan). Anehnya, antrean pengunjung berjubel untuk nge-print gratis, namun nggak ada pengunjung yang diprospekin buat beli tintanya. Perusahaan ini punya terlalu banyak tinta untuk dihambur-hamburkan.

Kalau saja investor perusahaan ini tahu bagaimana acara ini berjalan, mungkin dia akan nangis darah. Barangkali CEO-nya sudah terlalu jenuh lantaran duit perusahaannya terlalu banyak, sehingga mereka kehabisan ide untuk membuat suatu pameran bisa menghasilkan penjualan yang banyak. Saya berprasangka bahwa mereka punya segepok duit untuk anggaran promosi, dan sudah akhir tahun pun anggarannya belom habis, sehingga mereka kebingungan gimana ngabisinnya supaya laporan keuangan tahunannya tetap balance dan CEO-nya nggak digebukin sama para investor. Lalu dateng sebuah klub fotografi nyodorin proposal, dan bam! Terciptalah lahan buat ngabisin anggaran perusahaan.

Tapi nampaknya mereka sudah lupa caranya menjaga supaya merk mereka tetap diingat orang. Saya nggak yakin 50 persen pengunjung pameran ini tahu merk perusahaan yang sponsorin acara ini. Padahal sponsornya cuman satu.

Membangun usaha memang sulit. Mempertahankan perusahaan yang sudah cukup besar untuk tetap terkenal, ternyata lebih sulit lagi.

Saya nggak akan sebut merk perusahaannya. Terlalu malang untuk diingat.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Sunday, March 15, 2015

Alasan Blogger Absen Ngeblog

Seorang jemaah ngingetin saya bahwa saya udah sebulan mengabaikan blog ini. Dos-q kangen. Saya nyengir. Aduh, seandainya aja sang jemaah ngerti kenapa saya ngilang dari jagat blogosphere ini.

Saya yakin yang absen nggak cuman saya. Ada ratusan blogger lainnya yang milih mundur. Ada yang mundur sebentar, ada yang mundur selamanya. Alasannya macem-macem.

1) Sudah mulai pilih-pilih topik.

Dulu, ngeblog bisa ngomong seenaknya sendiri. Apa aja pun bisa diomongin. Mulai dari tema serius kenapa di Mojokerto belum juga ada MRT, sampai tema remeh kenapa kucing piaraan kita nggak doyan makan indomi.

Tapi seiring dengan nambahnya umur, nambahnya pengalaman, blogger mulai ngerti bahwa nggak semua persoalan bisa diomongin seenak perut. Apalagi kalau persoalan itu menyangkut rahasia. Misalnya ada blogger yang sekarang udah diangkat jadi polisi, pasti pikirannya tiap hari ya tentang kerjaannya sebagai polisi. Lha kalau kerjaannya itu mengandung banyak rahasia jabatan, mosok itu mau diangkat ke blog yang bisa dibaca banyak orang?

(Sedangkan dos-q sudah bosen ngomongin kucing makan indomi.)

2) Ada masalah pencitraan.

Ini nggak jauh-jauh dari sebab nomer 1). Sang blogger sudah mulai nyadar bahwa blognya adalah citranya. Sialnya, citra itu bisa mempengaruhi penghasilan. Dos-q harus pilih-pilih topik yang terkesan profesional. Karena kalau dos-q terus-menerus mengangkat hal remeh, citranya sebagai profesional juga akan diragukan. Pernah pikir kenapa Prabowo Subianto di jaman kampanye capres nggak pernah ngeblog tentang kenapa kucing nggak makan indomi? Nah, kira-kira begitu.

(Sayangnya, ide-ide topik profesional tidak muncul saban hari.)

3) Pasar pembaca kritis sudah mulai menyusut.

Jaman dulu gampang banget nemu blog yang satu artikel bisa berubah jadi forum diskusi yang anget (dan kadang-kadang angot). Karena komentatornya juga kritis-kritis, kalau nulis komen pun isinya berbobot. Sekarang, nemu komentator yang berbobot makin susah. Sebab, seiring dengan banyaknya blogger yang hobi kejar setoran blogwalking, makin banyak blogger yang kalau ninggalin komentar isinya cuman basa-basi doang. Contoh komen basa-basi itu kayak gini, "Saya setuju deh, Mbak.." Atau "Oh, jadi kalau itu harus begini ya Mbak?" Keliatan banget kalau komentator ini nggak mikir, tapi cuman jadi burung beo doang, hihihi..

Blogger ya males nulis kalau rata-rata komentatornya cuman nulis komentar kayak gini.

4) Ada prioritas lain.

Menurut saya, blogger sungguhan akan tetap nulis. Meskipun nggak menulis di blog. Bisa jadi tulisannya tetap beredar, mungkin diprioritaskan di tempat lain, entah di forum media massa, atau di social media yang lain. Di Path, saya masih sering lihat orang posting panjang-panjang. Di Twitter, saya nemu kultwit yang lebih panjang lagi. Dan selalu ada alasan kenapa orang lebih seneng nulis panjang-panjang di socmed itu daripada di blog. Path mengandung private sharing, artinya dia memang sengaja memaksudkan tulisannya dibaca hanya oleh orang-orang tertentu. Di Twitter, dia bikin kultwit coz ingin mention seseorang. Di notes Facebook, karena dirinya gaptek dan nggak menguasai platform socmed lain. Dan lain sebagainya.

Itu namanya siklus hidup. Ada kegiatan yang dulunya booming, ada yang sekarang tenggelam. Nggak perlu merasa ketinggalan jaman, ikutin aja trend yang ada. Kalau perlu ya bikin trend baru. Blog nggak pernah mati kok, dia hanya berkembang dan kadang-kadang berubah jadi bentuk yang lain. Sama kayak Anda lah :)
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Sunday, February 15, 2015

Eliminasi Pegel-pegel di Hotel


Seperti cewek-cewek lain yang lagi hamil, saya juga merasa pegel-pegel. Seiring dengan kehamilan saya yang makin gede, ternyata pegelnya juga makin sering. Pegel yang paling terasa itu di punggung sama di tungkai. Saya sendiri heran, perasaan anak saya di perut ini beratnya paling-paling baru enam ons, tapi kok saya merasa kayak lagi nggembol karung beras.

Eh, ternyata keluhan pegel-pegel ini bisa dijarangin sekiranya kita ini sering olahraga. Cuman kan olahraga buat ibu hamil itu selektif banget. Saya kasih tahu ya, kalau lagi hamil janganlah sok-sok milih olahraga seperti angkat besi kayak Lisa Rumewas. Juga jangan milih olahraga atletik seperti lompat galah. Apalagi gulat, judo, wushu, pokoknya jangaaan!

Monday, February 9, 2015

Move On Itu Mulai dari Bersih-bersih

Saya lagi seneng bersih-bersih.

Ya know, mula-mula saya kirain cuman rumah aja yang perlu dibersihin dari barang-barang tak berguna. Tapi kemudian ternyata saya nemu hal yang lebih penting dan cukup mengganggu: the work station of mine yang ukurannya nggak lebih dari 10 inci ternyata juga perlu dibersih-bersihin. Guess what, netbook yang udah nemenin saya lebih dari tiga tahun ini ternyata penuh barang-barang bosok, mulai dari file-file makalah sekolahan sampai foto-foto yang pingin saya buang ke tempat sampah.

Semua dimulai dari mood saya ngeblog yang makin lama makin turun. Lha gimana nggak menurun, nyalain laptop ini aja leletnya bukan main. Mulai dari muncul layar wallpaper sampai buka layar Microsoft Word yang siap ngetik aja butuh waktu dua menit. Genderuwo macem apa yang nongkrongin laptop saya sampai-sampai mau buka MS Word aja berat banget?

Friday, January 23, 2015

Selamat Tinggal, Sepatu

Bukan, ini bukan omongan seorang shoe-fetish.

Dan ini juga bukan ucapan goodbye sungguhan. Saya nggak sungguh-sungguh kepingin mempensiunkan sepatu-sepatu kesayangan saya. Tapi saya cuman ingin pamit sebentar..sebentaar aja, setidaknya sampai anak saya lahir.

Kandungan saya sekarang baru 22 minggu. Tapi saya merasa badan saya membengkak. Beberapa bulan lalu saya kesulitan bangun tidur, mungkin karena muka saya itu muka bantal. Tapi sekarang kesulitan bangunnya luar biasa, coz badan saya memberat.

Kemaren my hunk ngajakin jalan kaki dari rumah ke mall di depan rumah. Dulu itu begitu gampang, tapi sekarang susahnya minta ampun. Baru jalan aja napas saya udah ngos-ngosan. Tadi pagi kami mencobanya lagi, sekali ini pakai sepatu keds coz niatnya mau olahraga. Dan saya kesulitan menikmatinya, coz ternyata sepatu saya udah mengecil! (Nggak terima bahwa kaki saya membengkak)

Monday, January 19, 2015

Bepergian Cantik dalam Sehari

Saya mau cerita pengalaman saya kemaren mondar-mandir naik pesawat dalam sehari cuman demi menghadiri kondangan. Kalau inget ini, saya masih aja ketawa geli coz saya masih belom percaya bahwa ternyata saya bisa melakukannya. Mondar-mandir naik pesawat dalam sehari, macam menteri aja.

Sepupu my hunk menikah kemaren, di Jakarta. Saya dan my hunk diundang. Mertua saya, yang tinggal bareng saya di Surabaya, diundang juga. Semula saya mengira mertua saya bakalan pergi ke Jakarta dan nginep barang semalam demi kondangan itu, tapi ternyata ayah mertua saya malah suruh saya pesen pesawat pagi dan pulang pake pesawat sore hari itu juga. Prinsipnya Ayah, biar nggak diribetin dengan urusan cari penginepan dan urusan transpor dalam kota.

Resepsi pernikahan itu digelar di Menara 165 di kawasan Cilandak jam sebelas siang. Akadnya pagi itu juga. Ayah minta saya ngatur supaya kami dateng sepagi mungkin di tempat kejadian perkara, supaya Ayah punya lebih banyak waktu buat ngobrol-ngobrol sama sanak sodaranya yang di Jakarta itu.

Setelah ngobrak-abrik jadwal penerbangan, saya pun dapet empat kursi pesawat Air Asia dari Sidoarjo yang berangkat jam 5.30 pagi. Jadwal yang bikin saya rada ribet dikit coz saya merasa kepagian. Sebetulnya kalau cuman pergi backpacking sih saya nggak seribet ini, tapi ini kan mau kondangan, bo'.. Saya rada nggak pede kalau mau ke kondangan tapi nggak dandan, hihihi.. Lha kalau pesawatnya berangkat dari Sidoarjo jam 5.30, lantas saya kudu make-up-an dari jam berapa?

(Kudu belajar dari ibu-ibu menteri yang kudu buka seremoni jam delapan pagi di Pekanbaru, padahal baru berangkat dari Jakarta subuh-subuh. Rambutnya disasak dari jam berapa?)
(Halah, ngapain dandan heboh? Emangnya dirimu yang jadi penganten, Vic?)

Saturday, December 20, 2014

Pengantennya Flat

Pada suatu hari saya melihat foto seorang teman pakai baju putih-putih di blognya. Saya kirain dos-q lagi prewed. Belakangan saya tahu kalau ternyata itu bukan prewed, melainkan dos-q sedang menikah. Saya terkejut. Mengapa mukanya pada waktu lagi menikah nampak sama seperti kesehariannya?

Karena teman saya cukup narsis, dos-q juga upload foto-foto behind-the-stage pernikahannya. Mulai dari foto dos-q lagi didandanin step-by-step, foto dos-q lagi godain groom-nya bareng pengiring-pengiringnya, foto cincin yang ditaruh di boneka-bonekaannya, dan lain-lain yang kira-kira nggak terekspos tamu yang hadir di situ. Saya pun dapet kesan bahwa teman saya telah mengatur pernikahannya dengan konsep yang strukturnya terencana baik, dan telah menggunakan wedding organizer yang profesional. Tapi saya tetap merasa sayang pada make up artist yang dos-q pakai.

Tuesday, December 16, 2014

Kontrol Suara

Sewaktu saya nulis ini, saya lagi di dalam sebuah kereta api dari Surabaya menuju Bandung. Isi gerbong cuman tinggal separuhnya, coz separuh gerbong sudah turun di Jogja. Saya melihat keluar jendela dan kereta sudah sampai di sebuah stasiun kecil di daerah bernama Cipeundeuy. Kalau Anda nggak tahu di mana Cipeundeuy, itu berada di antara Tasik dan Bandung.

Di tengah-tengahnya menikmati perjalanan kereta, saya dengar penumpang lain di gerbong ini terima telepon di HP-nya. Suara bicaranya keras banget. Nada suaranya masih terdengar sabar, tapi saya menduga dos-q sedang dimarahi orang di HP-nya ini. Saya rasa dos-q pengusaha kayu. Ada masalah dengan seorang konsumen mengenai pengiriman kayu yang tidak dikehendaki konsumennya. Dan nampaknya kejadian ini karena salah paham, melibatkan seseorang bernama Tohir atau kurir atau supir atau apalah. Dan saya tercengang sendiri kenapa saya begitu kepo ngupingin pembicaraan nggak enak ini.

Nguping? Ih, siapa juga yang nguping? Ngomongnya si bapak ini lebih keras daripada burung kakatua piaraan Grandma saya.

Saturday, December 13, 2014

Sudah Natal Duluan

Natal masih 12 hari lagi, tapi saya udah dapet hadiahnya duluan.

My hunk kepingin stapler. Tahu stapler kan ya? Stapler itu jepretan. Spesifiknya dos-q kepingin jepretan yang ukurannya gede, sedangkan di rumah kami adanya jepretan yang kecil-kecil. Minggu lalu kami ke Gr*m*dia, nemu jepretan yang gede, tapi my hunk nggak suka harganya. Jadi tadi pagi dos-q ngajakin saya ke Togamas beli jepretan besar. Biasanya harga-harga stationery di Togamas lebih murah.

"Mmmh..oke. Kebetulan aku juga lagi kepingin beli Ryan Filbert," jawab saya. Akhir-akhir ini saya baru denger Ryan Filbert baru ngerilis buku lagi. (Oh ya, saya sudah punya buku-bukunya Ryan di rumah dan saya sudah baca ulang buku-buku itu masing-masing berkali-kali dalam setahun ini.)

"Tuuh kan, kamu beli buku lagi," keluh my hunk.
Hihihi..saya memang doyan beli buku. Saya bahkan lebih seneng beli buku daripada beli baju.

"Lho, kenapa?" tanya saya heran.

My hunk membenamkan mukanya di perut saya, tempat anak saya lagi ngumpet. "Mama mau beli buku lagi tuh," gumamnya, kayak dos-q lagi mengadu ke janin berumur tiga bulan. "Kalau Mama beli buku terus, lama-lama Mama jadi pinter. Kalau Mama pinter, kan Papa jadi bego.."

(Janin) saya ketawa terbahak-bahak.

Friday, December 12, 2014

Hujan Basa-basi Busuk

Foto oleh Eddy Fahmi
Selamat datang, musim hujan. Begitu senang lihat hujan sungguhan supaya kita punya bahan pembicaraan.

Seorang kolega curhat ke saya. Beberapa hari yang lalu, dos-q entah bagaimana harus satu perjalanan berdua dengan kolega lain. Si partner perjalanan ini nggak akrab-akrab banget sama dos-q, bahkan tahu nama lengkap satu sama lain pun enggak. Tetapi mereka harus jalan bareng ke suatu tempat untuk kepentingan pekerjaan.

“How is he?” tanya saya. Maksudnya saya pingin tahu apakah dos-q menyenangkan, atau badannya bau, atau apalah.

“Oh, dia sangat pendiam,” jawab kolega saya dengan perasaan penuh tersiksa.

Saya ketawa. Kolega saya orangnya sangat periang. Tapi seseorang yang periang kadang-kadang bisa merasa tersiksa banget kalau harus jalan bareng orang yang sangat pendiam.

“Kalian ngobrolin apa? Eh, sori, maksud aku, kamu ngomong apa sama dia?” tanya saya mengejek.

“Mmmh..” kolega saya berusaha mengingat-ingat dengan susah-payah. “Saya nanya, ‘kemaren ujan ya?’”

Tawa saya meledak keras.