Tuesday, October 28, 2014

Bingung oleh Dokter

Keluarga saya dapet musibah akhir-akhir ini. Paman saya yang sudah berumur 70-an makin hari makin lesu, sehingga tante saya memeriksakannya ke internis lokal. Setelah diperiksa, ternyata sang internis nggak berani mengumumkan diagnosisnya sendirian coz dos-q curiga ini leukemia. Dos-q mutusin untuk bikin rapat kecil dengan paman saya, tante saya, dan hematolog. Sang hematolog ternyata ragu juga apakah ini leukemia, sehingga dos-q periksakan lagi sampel cairan darah paman saya ke patolog. Patolognya ternyata di Jakarta, sedangkan paman saya tinggal di Jawa Timur.

Ternyata patolognya bilang ini bukan leukemia. Hematolognya bingung coz gejalanya mirip leukemia, tapi dos-q nggak berani kasih obat juga jika patolognya di Jakarta bilang ini bukan leukemia. Padahal patolog di Surabaya bilang kalau ini leukemia.

Paman saya bingung, keluarga saya pusing tujuh keliling. Akhirnya paman saya mutusin terbang ke Singapura barengan tante saya untuk periksa ke rumah sakit di sana. Prinsip mereka, jika Surabaya dan Jakarta nggak bisa ngomong dengan kompak padahal sama-sama Indonesia-nya, mending percaya sama negara tetangga.

Saya, sebagai dokter umum, merasa kecewa. Bukan kecewa terhadap putusan paman saya yang milih berobat ke luar negeri. Tetapi saya kecewa karena akhirnya saya nemu salah satu titik permasalahan dunia kesehatan di Indonesia: dokternya nggak berani membuat keputusan. Profesor dokter ahli yang sudah kawakan jadi dokter selama puluhan tahun nggak bisa memutuskan apakah pria tua berumur 70 tahun yang menderita lemas badan perlu terapi leukemia atau tidak.

Saya ngerti kenapa dokter nggak berani membuat keputusan. Karena di negara ini ada makhluk bernama pengacara alias pengangguran banyak acara. Kalau ternyata seorang pasien itu salah diagnosis, maka si dokter bisa dituntut atas tuduhan malpraktek.

Padahal untuk membuat suatu pernyataan penyakit, perlu data. Data itu meliputi anamnesa (curhatan sang pasien tentang keluhan penyakitnya), pemeriksaan pada badan sang pasien, dan pemeriksaan laboratorium. Jaman sekarang ternyata hasil di laboratorium pertama dengan laboratorium kedua bisa berbeda, tergantung hasil analisa dokter laboratoriumnya. Dan hasil analisa tiap orang sangat tergantung dengan textbook yang pernah dia baca. Barangkali textbook patolog di Surabaya beda dengan textbook patolog di Jakarta. Makanya susah sekali memutuskan apakah pasiennya beneran leukemia atau enggak.

Tapi dokter semestinya nggak bikin pasien bingung. Dia mestinya bisa bilang "Ya" atau "Tidak". Beberapa guru saya malah pakai jurus lain kalau ragu-ragu. Mereka akan mengatakan begini, "Pak, untuk sementara kami belum memutuskan kemoterapi untuk Bapak, tapi kami akan mengobservasi lebih lanjut keadaan Bapak. Kami mohon Bapak kontrol lagi ke sini bulan depan. Kami akan memberi tahu Bapak jika kami sudah menemukan penyakit Bapak." Sambil diam-diam kirim sampel darah si pasien ke negara lain yang kira-kira labnya (dan profesornya) lebih canggih.

Jawaban ini jelas tidak akan membuat pasien merasa makin bingung, lebih skeptis sehingga mengeluarkan dana lebih dalam untuk berobat ke luar negeri. Iya kebetulan paman saya orang berkecukupan. Lha kalau pasiennya miskin?

Apa yang lebih buruk di dunia ini daripada miskin dan kebingungan pada saat bersamaan?

Oh ya, paman saya sudah balik dari Sinx. Apa kata dokter di sana? Paman saya sakit leukemia. Tapi leukemianya jenis leukemia yang langka. Jadi belum ada obatnya.

Paman saya sekarang cuma minum vitamin untuk keluhan lemasnya. Dan kembali menyetir mobil dan ngajar mahasiswa. Kami tidak tahu berapa sisa umurnya. Yang jelas paman saya sekarang masih bisa ketawa dan main dengan cucu-cucunya.

Buat kami keluarganya, itu sudah cukup.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Saturday, October 25, 2014

Keluar Saja

Saya akhir-akhir ini merasa risih dengan grup yang saya join di sebuah socmed. Percakapan-percakapan di grup itu, gimana yah..rasanya kok kebanyakan isinya ngomongin yang jelek-jelek tentang orang lain. Padahal saya nggak kenal dengan orang yang diomongin itu.

Saya berusaha mengalihkan pembicaraan ke tema lain, mulai dari ngomongin bisnis sampai ngomongin cara rebonding bulu ketiak. Pokoke yang positif-positif aja deh, bukan yang ngejelekin orang lain.

Ternyata upaya saya mengalihkan pembicaraan itu gagal. Pasalnya, jumlah anggota yang ngomongin topik ngegosipin orang itu lebih banyak daripada jumlah anggota yang nggak ikutan ngomong.

Saya pake cara lain. Grupnya saya bikin mute, jadi kalo ada yang ngomong di grup itu, HP saya nggak akan bunyi sehingga saya cuman baru baca isi grup kalau saya lagi buka forumnya.

Mula-mula cara itu efektif, sampai kemudian notifikasi grup itu di socmed itu jadi numpuk semua. Mata saya gatel kalau tiap kali saya buka socmed itu, di layar atas tertera "Anda punya 56 notifikasi yang belom dibaca dari Grup XXX."

Dan begitu saya buka notifikasinya, ternyata isi chat grup itu lagi. Isinya ngomongin orang jelek lagi. Meskipun orang yang diomongin pun juga beda-beda. Bisa tentang seseorang di bekas sekolah kami, tentang seorang dokter yang dituduh salah kasih obat, tentang pramugari dari maskapai entah negara mana yang roknya terlalu cekak, malah sampai tentang Amerika yang katanya adalah otak berdirinya ISIS.

Ya ampun. Ini sudah keterlaluan.

Chatting di socmed seharusnya menyenangkan, bukan jadi ajang ghibah.

Tadinya saya pikir saya yang nggak normal. Mosok saya nggak mau beradaptasi dengan kalangan persahabatan cuman gara-gara kalangan itu seneng ngegosipin orang lain? Lagian saya ragu juga kalau saya mau hengkang dari grup itu. Nanti takut dikira sombong.

Tapi makin diliat notifikasinya, kok malah bikin mata tambah gatel. Dan makin dibaca isi ngobrolnya, malah bikin perut jadi sembelit.

Saya akhirnya ambil keputusan nekat. Saya pencet "Leave Group."

Sekarang sudah hampir sebulan saya pergi. Undangan untuk kembali ke grup itu masih ada di notifikasi. Tapi saya menghela napas dan membiarkan undangannya tetap di sana.

Tidak. Saya ingin hidup dengan kalem tanpa harus terganggu dengan rumpian tak bermanfaat tentang menjelekkan orang lain. Saya sudah berusaha mengalihkan pembicaraan ke hal yang lebih baik, tapi kalau ini tidak berhasil, barangkali saya perlu grup lain yang lebih bermanfaat.

Saya merasa lebih tenang sekarang.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Sunday, October 5, 2014

Paduan Suara Mewek di Mesjid

Sepanjang sholat Id di mesjid hari ini, saya denger ada sedikitnya tiga anak nangis. Sebetulnya saya kepo pingin cari sumber tangisan, tetapi saya kan nggak bisa noleh-noleh lantaran saya juga lagi sholat Id. Kalau dari suaranya sih kayaknya yang nangis itu umurnya mungkin satu sampai tiga tahun, pokoknya sudah bukan bayi lagi.

Nangisnya kompak banget, sampai-sampai saya mikir mestinya mereka bikin paduan suara aja. Kalau direkam bisa jadi album, barangkali laku buat dijual di rumah-rumah duka cita.

Saturday, October 4, 2014

I Hate Anonim

Blogspot sangat menyenangkan untuk ngeblog, tapi kelemahan besarnya adalah nggak ada option untuk menjegal komentator anonim.

Anonim adalah fenomena untuk tampil di media tanpa menyebutkan jatidirinya. Tidak menyebut nama. Akibatnya pembacanya tidak tahu si anonim ini siapa. Efeknya, tidak bisa memperkirakan si anonim ini latarbelakangnya apa, apa yang menjadi background dari karya atau komentar si anonim.

Ada banyak alasan kenapa orang pilih jadi anonim. Contoh:
1. Takut tidak disukai kalau ia sebutkan nama aslinya. Ia bisa tidak disukai jika ia menuliskan ide yang kontra terhadap sesuatu.

Thursday, October 2, 2014

Kontribusi Rakyat Dalam Menjegal Jokowi

Sepanjang hari portal berita ramai dengan headline berhasil menangnya Koalisi Merah Putih menjadi DPR. Ini jadi polemik karena presiden kita sebentar lagi adalah Jokowi, dan Koalisi Merah Putih adalah kumpulan anggota DPR yang berasal dari partai yang tidak kepingin Jokowi jadi presiden.

Salah satu akibat dari kemenangan koalisi ini adalah jatuhnya harga-harga saham di bursa saham nasional. Para pemodal rame-rame melepas saham karena ngeri dengan kemenangan koalisi ini. Lima tahun ke depan akan diisi pertarungan Jokowi versus DPR yang tidak mencintainya. Artinya kalau Jokowi kepingin bikin pembangunan yang menguntungkan rakyat, DPR akan bergerak menentang ide Jokowi. Maka pembangunan terhambat, termasuk pengusaha pun akan sulit bikin usaha-usaha baru untuk menampung pengangguran. Jadi daripada susah bikin usaha baru, mendingan sahamnya dilepas aja sekalian dan duitnya diprioritaskan untuk didepositokan, kira-kira begitu jalan pikiran para penanam modal.

Ide ini mungkin terlalu cupet. Tapi suka nggak suka, negeri ini memang penuh dengan orang-orang cupet. Kayak saya.

Sebetulnya saya bingung kenapa Koalisi Merah Putih harus bergerak jadi oposisi alias menentang pemerintah. Sepertinya berpikiran ngambek karena Prabowo usungan koalisi itu batal jadi presiden, sudah lewat musimnya. Buat jalan pikiran saya yang naif, kalau idenya lawan kita itu memang bagus, dan kita nggak punya ide yang lebih bagus dari dia, ya mbok didukung aja. Toh nggak urung juga yang untung sama-sama kita juga.

Dan saya sendiri bingung kenapa tweepsies di Twitter kudu sebal liat Koalisi Merah Putih itu jumlahnya lebih banyak daripada Koalisi Kurus. Memang jumlah manusia di Koalisi Merah Putih itu lebih banyak, karena partainya lebih banyak. Lha yang milih partainya supaya bisa masuk DPR itu kan rakyat juga? Jadi kalau sampai jumlah oposisi penjegal presiden itu banyak, ya itu akibat pilihan dari rakyat untuk milih anggota DPR itu.

Oh, lupakan bahwa "Dulu saya milih si Pak Kumis itu karena saya kirain dia bakalan mendukung presiden siapapun presidennya. Meneketehe kalau ternyata dia bakalan menjegal presiden."

Dan rasain kalian para golputers. Gini nih akibatnya kalau kalian nggak mau ikut mikir waktu pemilihan legislatif.

Sekarang rakyat cuman bisa nonton sisa pertandingan. Berharap presiden bisa bikin ide bagus untuk membangun negara supaya nguntungin rakyat, dan berharap DPR nggak akan bersikap selalu menolak. Jika Koalisi Merah Putih ngeyel berprinsip untuk tetap menjegal, memang paling bagus manusia anggotanya mikir, apakah keputusan partainya sesuai dengan keinginan rakyat. Karena rakyat bukan kepingin DPR yang selalu menjegal presiden, rakyat cuman kepingin semua orang bisa punya pekerjaan dan hidup nyaman tenang.

Pertandingan ini akan berjalan lima tahun. Dan pertandingan ini bahkan belom dimulai. Wuih, lamanya.
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com

Delegasi Bernama Pembantu

Pembantu rumah tangga saat ini adalah tenaga kerja yang sulit dipisahkan dari keluarga-keluarga di perkotaan. Persoalan jadi pelik bagi sebagian keluarga ketika pembantu mereka pulang dan mereka sulit mencari pembantu pengganti.

Orang-orang yang sering ngobrol sama saya umumnya seumuran dengan saya. Mereka pasangan suami-istri yang mungkin baru punya anak kecil-kecil. Umumnya baru belajar punya rumah sendiri. Suami dan istri sama-sama kerja demi tuntutan ekonomi. Salah satu kesulitan yang sering mereka alami adalah sulit mengurus kerjaan rumah tangga tanpa pembantu. Penyebab paling sering dari kesulitan ini adalah karena mereka tidak punya cukup waktu untuk sekedar nyapu rumah mereka yang cuman seuprit itu.

Beberapa ibu rumah tangga kadang-kadang mencibir sinis kepada ibu-ibu kantoran karena ibu-ibu kantoran umumnya tergantung kepada pembantu. Ibu rumah tangga sering kali merasa lebih keren karena mereka bisa ngepel, masak, setrika, bahkan manjat genteng, sendiri, tanpa harus suruh-suruh orang lain (baca: pembantu). Sepertinya ada gengsi sendiri di kalangan wanita jika semua-semua bisa dikerjakan sendiri.

Saya, penganut setia azas do-it-yourself, selalu salut kepada ibu-ibu macam begini setinggi-tingginya. Tapi itu dulu.

Tuesday, September 30, 2014

Sejahtera Ketika Tua Nanti

Manusia tumbuh, bertambah usia, dan akhirnya menua. Ketika menjadi tua, kita kepingin hidup kita yang enak-enak saja. Bermain bareng cucu, bisa makan segudang, bebas main kartu Uno sama tetangga tiap malam Jumat, tanpa harus mikirin sakit-sakitan meskipun cuman sekedar encok. Alangkah indahnya hidup ini.

Persoalannya, kita jarang banget lihat orang tua seperti itu sekarang. Tengok deh nenek-kakek kita, atau tetangga-tetangga kita yang seumuran nenek-kakek kita. Apa kira-kira isu mereka kalau lagi ngobrol sama kita? Selain mengeluh sakit-sakitan, kesepian, ternyata keluhan tersering adalah masalah ekonomi. Kita sering melihat rumah-rumah yang dihuni orang pensiunan umumnya gelap, kadang-kadang kotor berdebu, baju mereka lusuh. Sebenarnya ciri khas pensiunan itu, orangnya sering ngirit. Mulai dari ngirit listrik, ngirit pel, sampai ngirit deterjen.

Friday, September 26, 2014

#ICITY2ndAnniversary Klub Penggemar Indosat

Lampu-lampu dipadamkan sehingga suasana nampak remang-remang temaram. Semua orang di ruangan itu megang cupcake yang sudah dihiasi lilin. Musik dari home band pun menggelegar dan MC mengomando semua orang untuk meniup lilin di cupcake masing-masing. Happy birthday, Icity!

Kiri-kanan: Saya, Okky Listiani, Angki, Eddy Fahmi
Meniup lilin di cupcake ulang tahun
Foto oleh Fahmi
26 September ini, Icity alias Indosat Community, merayakan ulang tahunnya yang kedua di Surabaya. Perayaan yang dihelat di Gedung Indosat Surabaya itu dihadiri blogger-blogger Surabaya sekaligus mengundang Duta-duta Indosat dan IM3 se-Jawa Timur. 

Fun fearless female!
Saya dan Wiwik
Acara ini, selain sebagai ajang kumpul-kumpul penggemar SIM card-nya grup Indosat Satelindo, juga memperkenalkan lima orang konsumen mereka yang paling loyal (yang mereka sebut Superuser) se-Indonesia dalam memakai jaringannya Indosat.

Thursday, September 25, 2014

Digondokin Test Pack

Komplen pasien itu sama aja biarpun orangnya beda-beda. Bingung apakah mereka hamil atau enggak, coz mereka ngakunya telat mens. Biasanya untuk meredakan kebingungan, saya suruh test pack ulang. Kalo disuruh gitu, mereka selalu protes karena toh merk test pack yang mereka pakai itu sama. Mereka ke dokter berharap diperiksain yang lebih canggih, minimal pakai test pack yang lebih mahal. Saya sendiri heran, memangnya saya ini pengusaha supermarket alat test pack?

Sampai kemudian tiba saatnya saya telat mens. Mulailah saya masuk ke fase itu, fase galau antara bingung apakah saya hamil atau enggak. Saya nggak merasa siap jadi ibu, tapi saya menginginkannya. Sementara itu saya takut kalau alat test pack-nya kebetulan KW sehingga saya mengira saya hamil padahal sebetulnya enggak. Saya sudah kapok berulang-ulang liat muka pasien yang gondok setelah saya beri tahu mereka bahwa mereka sebenarnya mengidap blighted ova. Nggak ada satu pun cewek yang seneng diumumkan bahwa sebenarnya mereka bukan akan punya anak, karena alat test pack itu positif jika ada blighted ova-nya.

Wednesday, September 24, 2014

Sajian Makan yang Anggun

Kadang-kadang kita ditunjuk untuk jadi seksi penyelenggara acara makan-makan, misalnya oleh karena tugas mewakili kantor, atau karena tugas jadi giliran penyelenggara arisan RT, atau sekedar mengundang kawan-kawan makan di rumah. Cara kita menyajikan makanan sebetulnya akan mencerminkan kepribadian kita, apakah kita ini orangnya jenis yang menghormati tamu atau "asal-asalan aja, yang penting sudah ngajak orang makan".

Perkara menghidangkan makanan ke tamu ini sebetulnya tidak jauh-jauh dari bagaimana kita memikirkan perasaan tamu yang diundang makan oleh kita. Contohnya, sering kita denger tamu diundang makan dalam jamuan makan-makan di hotel, contohnya dalam resepsi pernikahan. Terus pulang-pulang kita nggak sengaja menguping di lapangan parkir, tamunya menggerutu, "Huh, makanannya nggak enak."

Well, enak nggak enak sebetulnya urusan selera lidah masing-masing. Tapi bisa jadi makanan nggak enak karena alasan lain. Mungkin karena suasana makannya nggak enak. Harus berdiri karena standing party. Atau karena ngambil makanannya rebutan. Sebagian besar makanan terasa nggak enak justru karena kesalahan tamunya sendiri, karena dia mencampur makanan satu dengan makanan lain yang cita rasanya nggak cocok.

Coba bayangkan kalau kita jadi tuan rumah yang bikin pesta dan ternyata tamu kita merasa makanannya nggak enak, gimana perasaan kita?
*Kalau saya sih catet nama tamunya yang ngomel-ngomel, lalu mutusin bahwa lain kali kalau saya bikin acara makan-makan lagi, dia tidak akan diundang, hahahaa..*

Sebaiknya kita ingat tujuan kita dari awal bahwa kita bikin acara makan-makan untuk menjalin hubungan baik. Entah itu hubungan kekeluargaan atau hubungan bisnis. Kita kepingin tamu itu senang dengan kita, jadi implikasinya, baiknya kita bikin acara jamuan ini yang menyenangkan tamu dan meminimalisir keluhan.

Masakan itu ada macam-macam rasanya, ada yang manis, asin, asam, malah di kawasan Asia dan Karibia, makanan itu ada yang gurih dan ada yang pedas. Semua rasa sebetulnya enak, dan bisa diapresiasi asalkan rasanya jangan dicampur-campur. Diapresiasi artinya dihargai cita rasanya, dan tidak selalu harus disukai. Contohnya kalau kita menikmati sebuah hidangan misalnya gurame saos telor asin, kita akan tetap bilang bahwa rasa asinnya enak, meskipun mungkin lidah kita lebih suka yang manis.

Jamuan makan yang anggun, biasanya mengatur tamunya untuk makan sebanyak tiga sesi. Sesi pertama adalah makanan pembuka atau appetizer. Sesi kedua adalah makanan utama atau main course. Sesi terakhir adalah hidangan penutup atau dessert. Tamu yang tahu tata krama makan, umumnya menikmati sesi-sesi ini secara berurutan, bukan membolak-balik sesinya apalagi mencampur semua sesi secara tidak karuan.

Sesi pertama, appetizer, ditujukan untuk membuka selera makan. Oleh karena itu makanan yang disajikan di sesi appetizer ini umumnya bercita rasa asin atau asam. Di Barat, contoh hidangan yang disajikan misalnya roti yang diolesin mentega, atau sop asparagus. Di Indonesia, misalnya karedok, atau pempek, atau risoles. Pokoknya bukan yang manis, karena gula-gulaan dalam makanan yang manis cenderung bikin orang merasa kenyang dan nggak berminat menikmati sesi makanan utama apalagi sesi makanan penutup.

Sesi kedua, main course, adalah cerminan utama citra tuan rumah. Di sesi kedua ini, tuan rumah bebas kasih hidangan apapun yang diunggulkannya ke tamu. Boleh yang asam manis, yang gurih, atau yang pedas sekalian. Segala macam lauk bisa diekspresikan di sini.

Sesi ketiga, dessert, ditujukan untuk bikin tamu merasa puas dan kenyang. Oleh karenanya di sesi ini diharuskan makanan yang disajikan adalah yang bercitarasa manis. Contohnya es krim, cendol, cheese cake, puding, cokelat batangan, dan hidangan-hidangan manis lainnya. Pokoknya bukan makanan yang bercitarasa gurih apalagi asin, yang mengharapkan lidah minta air atau yang manis-manis untuk menetralkannya.

Umumnya kesalahan kita dalam jamuan makan sebetulnya simpel.

Kesalahan 1) Main course disajikan campur baur.
Ini jamak terjadi pada tuan rumah yang menghidangkan bermacam-macam main course sekaligus di satu meja. Sayangnya makanan yang satu tidak nyambung rasanya dengan makanan yang lain. Misalnya fettucini carbonara disajikan satu meja dengan kakap asam manis dan brokoli cah kailan. Akibatnya tamu nggak menikmati enaknya fettucini karena lidahnya kebingungan merasakan saos carbonara dan kakap dengan kuah kailan sekaligus.

Solusi: Pisahkan hidangan-hidangan yang rasanya nggak nyambung ini dengan meja-meja yang berbeda. Sediakan piring beda-beda untuk tiap hidangan. Menyediakan satu piring per orang untuk banyak hidangan sekaligus hanya akan merangsang tamu untuk mengambil semua hidangan sekaligus. Apalagi tamu orang Indonesia yang sering ngeri kehabisan makanan karena keduluan orang lain.

Kesalahan 2) Appetizer dicampur dengan hidangan utama.
Ini sering terjadi pada tuan rumah yang nggak punya ruangan cukup untuk menggelar meja, saking sempitnya ruangannya. Akibatnya appetizer-nya disajikan di sebelah main course pada meja yang sama. Efeknya, tamu mengira appetizer itu juga main course, sehingga tamu mencampur appetizer-nya dengan main course sungguhan.
Sering banget tuan rumah memaksa menyajikan appetizer berupa sop asparagus dengan mangkoknya sendiri, di meja yang sama dengan main course-nya. Main course-nya sendiri minimal tiga macam, ada piringnya yang lebar. Tamu Indonesia sering banget ambil piring lebar, lalu menumpuk mangkok sopnya di pinggir piringnya, lalu memenuhi sisa piringnya dengan segala macam main course yang dihidangkan. Saking penuhnya piringnya, sampai-sampai mangkok sopnya yang sudah di ujung piring itu miring dan sopnya siap tumpah ke gurame asam manisnya!

Solusi: Pisahkan appetizer dan main course pada meja yang berbeda. Kalau ruangan tidak cukup luas untuk memuat satu meja besar dan satu meja kecil, hidangkan appetizer dan main course di meja yang sama, tapi dandani meja supaya seolah-olah appetizer dan main course itu terpisah.
Sebaiknya tamu makan appetizer-nya dulu. Jangan ambil main course sebelum appetizer-nya habis.

Kesalahan 3) Tamu mengomel karena kehabisan makanan lantaran keduluan orang lain.
Sering banget tamu mengeluh karena begitu tiba di meja rendang, ternyata daging rendangnya habis dan tinggal lengkuasnya doang.
Kalau menurut saya, ini salah tuan rumahnya karena nggak bisa memperhitungkan jumlah makanan dengan jumlah tamu yang datang. :D
Kemungkinan lain adalah salah tuan rumahnya karena mengundang satu-dua tamu yang rakus.

Kesalahan 4) Menumpuk berbagai makanan sekaligus sampai piringnya penuh.
Beberapa teman saya milih numpuk salad buah dan mie cap cay dan bistik ayam sekaligus di satu piring. Alasannya, kalau ngambilnya satu-satu, malu dilihat orang, takut dibilang rakus.

Solusi: Coba dipikir, orang macam apa yang saking selonya sampai sibuk menghafal (baca: nge-judge) satu-dua orang lain di pesta yang mondar-mandir mengambil makanan di meja prasmanan dan menyangkanya rakus? Makan ya makan aja, nggak usah ngeliatin orang lain laah..
Lagian menumpuk-numpuk makanan yang nggak nyambung di piring yang sama itu justru tindakan yang rakus. Keliatan kalau nggak pernah diundang makan, hihihi..

Kesalahan 5) Menghidangkan kepiting dan paha ayam di acara jamuan prasmanan.
Tamunya disuruh standing party. Udangnya harus dikupas pakai tangan. Paha ayamnya harus dikrokotin dari tulangnya.

Solusi: Ini cuman cocok kalau jamuannya barbeque-an atau hura-hura, pokoknya bukan yang anggun. Tapi jika ini acara yang mengharuskan tamunya pakai baju rapi, tidak pantas menghidangkan makanan yang untuk menikmatinya harus makan pakai tangan.

Kesalahan 6) Ketika sedang makan, daging steak-nya mencolot keluar waktu diiris pakai sendok. Atau saking kerasnya dagingnya, tamu harus mengiris dagingnya pakai giginya!

Solusi: Daging steak yang betul, dimakan dengan cara diiris pakai pisau dan dimasukkan ke mulut pakai garpu. Memang di Indonesia bukan kebiasaan makan pakai pisau, melainkan pakai sendok dan garpu. Jadi tugas chef adalah memasak daging steaknya sampai empuk supaya bisa dipretelin hanya dengan satu kali saja pakai sendok.
Kalau di acara jamuan kita nemu daging steak yang saking alotnya sampai harus diiris berulang-ulang, taruh saja masakannya di tempat naruh piring bekas. Berarti daging itu memang bukan untuk dimakan. :-D

Selamat makan :)
Jadilah tetap keren biarpun lagi makan :)
http://georgetterox.blogspot.com
http://laurentina.wordpress.com